Rabu, 12 Agustus 2015

again n again



MAKALAH
BUDIDAYA TANAMAN SORGUM
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/a/a8/Lambang_Universitas_Andalas.png
OLEH:
RAHYUNI
1310211131

PROGRAM STUDI AGROKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015


EKOLOGI TANAMAN PADI”

            Tujuan dari pembuatan makalah ini sebagai tugas yang di berikan oleh dosen pengasuh mata kuliah teknologi produksi tanaman pangan yaitu ibu Dr.Ir. Etti Swasti, MS.

Ditulis oleh                  : Rahyuni

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/a/a8/Lambang_Universitas_Andalas.png
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015


KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Berkat rahmat dan karunia-Nya Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan dan menyusun makalah ini, dalam rangka memenuhi salah satu tugas Teknologi Produksi Tanaman Pangan I.
Penyusun sudah berusaha dengan segala kemampuan untuk menyusun makalah ini dengan baik. Meski demikian sebagai manusia biasa tidaklah selalu terlepas dari kesalahan maupun kekurangan. Dalam penulisan makalah yang berjudul “BUDIDAYA TANAMAN SORGUM” ini saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, tetapi saya tidak akan menyerah begitu saja, saya akan terus berusaha mempersembahkan yang terbaik. Maka dari itu saya sangatlah mengharapkan bantuan, bimbingan, arahan, serta motifasi., kritik dan saran yang bersifat membangun guna mencapai hasil yang lebih baik lagi.
Atas dukungan moral yang diberikan saya mngucapkan terima kasih kepada ibu Dr.Ir. Etti Swasti, MP, selaku dosen pengasuh mata kuliah Teknologi Produksi Tanaman Pangan I, penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu dalam kelancaran penyusunan makalah ini, dan mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi saya dan umumnya bagi pembaca.
Ammin………..


DAFTAR ISI

Kata pengantar...................................................................................................................... i
Daftar isi.................................................................................................................................ii
Bab I....................................................................................................................................... 1
Bab II ..................................................................................................................................... 3
Bab III.................................................................................................................................... 8
Daftar Pustaka ..................................................................................................................... 10



















BAB I.
 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sorgum( Sorghum spp.) adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan ke-5, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara.Keunggulan sorgum terletak pada daya adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi, perlu input lebih sedikit serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit dibading tanaman pangan lain.
Produksi sorgum di Indonesia masih sangat rendah,bahkan secara umum produk sorgum belum tersedia di pasar-pasar. Terkait dengan energi, di beberapa negara seperti Amerika, India dan Cina, sorgum telah digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar etanol (bioetanol). Secara tradisional, bioetanol telah lebih lama diproduksi dari molases hasil limbah pengolahan gula tebu (sugarcane). Walaupun harga molases tebu relatif lebih murah, namun bioetanol sorgum dapat berkompetisi. Aspek Ekonomi dan Botani Sorgum.
Sorgum termasuk tanaman rumputan kekar dengan tinggi mencapai 0,5 - 6 m. Batang tunggal, padat tanpa rongga, dan di bagian tengahnya terdapat berkas-berkas pengangkut. Daun mempunyai panjang 30 - 135 cm, dan lebar 1,5 - 15 cm. Sistem perakaran memanjang sampai kedalaman 1,5 m ke dalam tanah, dimana 90% dari jumlah akar terletak pada kedalaman sampai 90 cm dari permukaan tanah. Biji sorgum berbentuk bola dan mempunyai warna yang bervariasi, dari putih, kuning pucat, merah, cokelat, sampai cokelat tua keunguan. Keberhasilan perkecambahannya selain dipengaruhi oleh lingkungan (suhu, air, cahaya, dan sebagainya) juga dipengaruhi oleh keadaan biji (penuaan pada saat panen, penyimpanan, ukuran dan berat biji).
Sorgum mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan di Indonesia sebagai tanaman penghasil bahan pangan dan pakan ternak. Sistem pengolahan tanah bagi sorgum sebaiknya dilakukan seperti halnya pengolahan tanah pada jagung. Waktu tanam sorgum sebaiknya diatur dengan baik agar pembungaan tanaman terjadi pada saat hujan mulai kurang dan pemasakan biji bersamaan pada musim kemarau.



1.2 Tujuan
            Adapun tujuan dibuat makalah ini adalah
1.      Agar mahasiswa mengetahui budidaya tanaman sorgum
2.      Untuk melaksanakan tugas matakuliah teknologi produksi tanaman pangan
















BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi Taksonomi Tanaman Sorgum:
Kingdom    : Plantae/tumbuhan
Divisi                 : Spermatophyta (menghasilkan biji)
SubDivisi        : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas               : Liliopsida (berkeping satu/monokotil)
SubKelas         : Commelinidae
Ordo                : Poales
Famili              : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus              : Sorghum
Spesies            : Sorghum bicolor (L.) Moench
Tanaman sorgum merupakan tanaman yang termasuk ke dalam famili graminae yang mampu tumbuh tinggi hingga 6 meter. Bunga sorgum termasuk bunga sempurna dimana kedua alat kelaminnya berada di dalam satu bunga. Bunga sorgum merupakan bunga tipe panicle (susunan bunga di tangkai). Rangkaian bunga sorgum berada di bagian ujung tanaman. Bentuk tanaman ini secara umum hampir mirip dengan jagung, yang membedakan adalah tipe bunga dimana jagung memiliki bunga tidak sempurna, sedangkan sorgum bunga sempurna.Tanaman sorgum memiliki akar serabut.menyatakan bahwa sorgum merupakan tanaman biji berkeping satu tidak membentuk akar tunggang dan hanya akar lateral. Sistem perakarannya terdiri atas akar-akar seminal (akar-akar primer) pada dasar buku pertama pangkal batang, akar-akar koronal (akar-akar pada pangkal batang yang tumbuh ke arah atas) dan akar udara (akar-akar yang tumbuh dipermukaan tanah).Tanaman sorgum membentuk perakaran sekunder 2 kali lipat dari jagung, (Rismunandar, 2006).
Tanaman sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan tanaman graminae yang mampu tumbuh hingga 6 meter. Bunga sorgum termasuk bunga sempurna dimana kedua alat kelaminnya berada di dalam satu bunga. Pada daun sorgum terdapat lapisan lilin yang ada pada lapisan epidermisnya. Adanya lapisan lilin tersebut menyebabkan tanaman sorgum mampu bertahan pada daerah dengan kelembaban sangat rendah (Kusuma dkk., 2008).
Pentingnya tanaman sorgum tersebut menyebabkan perkembangan pemuliaan tanaman ini berkembang cukup pesat. Pemuliaan tanaman sorgum lebih diarahkan pada tinggi tanaman, hasil, ketahanan terhadap hama penyakit, kualitas dan mutu biji. Berdasarkan bentuk malai dan tipe spikelet, sorgum diklasifikasikan ke dalam 5 ras yaitu ras Bicolor, Guenia, Caudatum, Kafir, dan Durra. Ras Durra yang umumnya berbiji putih merupakan tipe paling banyak dibudidayakan sebagai sorgum biji (grain sorgum) dan digunakan sebagai sumber bahan pangan. Diantara ras Durra terdapat varietas yang memiliki batang dengan kadar gula tinggi disebut sebagai sorgum manis (sweet sorghum). Sedangkan  ras-ras lain pada umumnya digunakan sebagai biomasa dan pakan ternak. Program pemuliaan sorgum telah berhasil memperoleh varietas dengan kandungan gula yang tinggi (sweet sorghum) sehingga dapat menggantikan tanaman tebu sebagai penghasil bahan pemanis. Sorgum manis tersebut telah berhasil dibudidayakan di China sebagai bahan pembuat biofuel (Kusuma dkk., 2008).
Sorgum merupakan tanaman dari keluarga Poaceae dan marga Sorghum. Sorgum sendiri memiliki 32 spesies. Diantara spesies-spesies tersebut, yang paling banyak dibudidayakan adalah spesies Sorghum bicolor (japonicum). Tanaman yang lazim dikenal masyarakat Jawa dengan nama Cantel ini sekeluarga dengan tanaman serealia lainnya seperti padi, jagung, hanjeli dan gandum serta tanaman lain seperti bambu dan tebu. Dalam taksonomi, tanaman-tanaman tersebut tergolong dalam satu keluarga besar Poaceae yang juga sering disebut sebagai Gramineae/rumput-rumputan (Anas, 2011).
Sorgum telah dibudidayakan di Cina selama lebih dari 5000 tahun dan sekarang roti dengan bahan sorgum merupakan makanan paling penting di sebagian besar daerah kering di Afrika dan Asia (Bouman, 1985). Bahan pangan biji sorgum dapat diolah menjadi berbagai macam makanan. Tepung sorgum dapat diolah sebagai bahan dasar roti. Roti tawar yang terbuat dari tepung sorgum tidak berbeda teksturnya dibandingkan roti yang terbuat dari tepung terigu  (Syam dkk., 1996).
Lingkungan tumbuh untuk tanaman sorgum adalah optimum pada ketinggian tempat kurang lebih 0 – 500 m dpl. Semakin tinggi tempat pertanaman akan semakin memperlambat waktu berbunga dari tanaman sorgum. Temperatur yang dibutuhkan tanaman sorgum adalah 25°C – 27°C adalah suhu terbaik untuk perkecambahan biji sorgum, sedangkan untuk pertumbuhannya perlu suhu sekitar 23oC – 30°C dengan keasaman tanah atau pH optimum tanah untuk pertumbuhannya sekitar 6.0 – 7.5. Sorghum dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan pakan ternak, memiliki kandungan nutrisi yang baik bahkan kandungan proteinnya lebih tinggi daripada beras. Kandungan tersebut adalah kalori (332 cal), protein (11,0 g), lemak (3,3 g), karbohidrat (73,0 g), kalsium (28,0 mg), besi (4,4 mg), posfor (287 mg) dan vit B1 (0,38 mg) (Laimehewira Jantje, 1997).
Keunggulan sorgum terletak pada daya adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi, perlu input lebih sedikit serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit dibanding tanaman pangan lain seperti jagung dan gandum. Selain itu, tanaman sorgum memiliki kandungan nutrisi yang baik, sehingga dapat digunakan sebagai sumber bahan pangan maupun pakan ternak alternatif. Biji sorgum memiliki kandungan karbohidrat tinggi dan sering digunakan sebagai bahan baku industri bir, pati, gula cair atau sirup, etanol, lem, cat, kertas dan industri lainnya. Tanaman sorgum telah lama dan banyak dikenal oleh petani Indonesia khususnya di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku,NTB,dan NTT
BUDDIDAYA TANAMAN SORGUM
1. Penyiapan Lahan 
Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya, kemudian dicangkul atau dibajak 2 kali setelah itu baru digaru dan diratakan. Setelah tanah diratakan, dibuat saluran drainase di sekeliling atau di tengah lahan. Ukuran petakan disesuaikan dengan keadaan lahan. Untuk lahan yang hanya mengandalkan residu air tanah, pengolahan hanya dilakukan secara ringan dengan mencangkul tipis permukaan tanah untuk mematikan gulma. Pengolahan tanah secara ringan sangat efektif untuk menghambat penguapan air tanah sampai tanaman panen. Tanah yang sudah diolah sebaiknya diberikan pupuk organik, misalnya pupuk kandang atau kompos. 

Pengolahan tanah ini bertujuan antara lain untuk memperbaiki struktur tanah, memperbesar persediaan air, mempercepat pelapukan, meratakan tanah dan memberantas gulma. Sebaiknya pengolahan tanah paling baik dilakukan 2-4 minggu sebelum tanam. 

2. Pemilihan Varietas 
Untuk mendapatkan hasil yang baik, yang harus diperhatikan adalah penanaman jenis varietas unggul yang cocok dan sesuai dengan lingkungan hidup setempat serta penerapan teknikbudidaya yang tepat. Varietas unggul yang dianjurkan untuk ditanam harus memperhatikan kegunaan dan lingkungan tumbuhnya. Untuk keperluan konsumsi manusia (pangan) varietas yang dianjurkan antara lain UPCA S1, Keris, Badik dan Hegari Genjah karena varietas ini mempunyai keunggulan seperti berumur genjah, tinggi batang sedang, berbiji putih dengan rasa olah sebagai nasi cukup enak. Varietas Kawali dan Numbu yang dilepas tahun 2001 juga mempunyai rasa olah sebagai nasi cukup enak, namun umurnya relatif lebih panjang. Sedangkan untuk pakan ternak dipilih varietas sorgum yang tahan hama penyakit, tahan rebah, tahan disimpan dan dapat diratun. 

Pada lingkungan yang ketersedian airnya terbatas dan masa tanam yang singkat dipilih varietas-varietas umur genjah seperti Keris, Badik, Lokal Muneng dan Hegari Genjah. Ditinjau dari segi hasil, varietas umur genjah memang hasilnya jauh lebih rendah daripada varietas umur sedang atau dalam, tetapi keistimewaannya dapat segera dipanen, menyelamatkan dari resiko kegagalan hasil akibat kekeringan. 

3. Waktu Tanam 
Sorgum dapat ditanam pada sembarang musim tanam asalkan pada saat tanaman muda tidak tergenang atau kekeringan. Namun begitu waktu tanam yang paling baik adalah pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau. Pada areal yang telah disiapkan sebelumnya dibuatkan lubang tanam dengan jarak tanam disesuaikan dengan varietas yang digunakan, ketersediaan air dan tingkat kesuburan tanah. Pada tanah yang kurang subur dan kandungan air tanah rendah sebaiknya di gunakan jarak tanam lebih lebar atau populasi tanam dikurangi dari populasi baku (seharusnya). 

4. Penanaman 
Jarak tanam sorgum dapat bervariasi sesuai dengan varietas yang digunakan, ketersediaan air tanah dan kesuburan. Untuk mencapai hasil yang optimum, varietas pendek dan sedang memerlukan jarak tanam yang lebih rapat dibandingkan dengan varietas tinggi. Pada jenis varietas sedang sampai batas tertentu terjadi kenaikkan hasil dengan semakin tingginya populasi tanam. Sedangkan kebutuhan benih untuk pertanaman sorgum berkisar 10 kg/ha dengan jarak tanam 70 cm x 20 cm atau 15-20 kg/ha dengan jarak tanam 60cm x 20 cm. 

Pada tanah yang kurang subur dan kandungan air tanah rendah, sebaiknya digunakan jarak tanam lebih lebar atau populasi tanam kurang dari populasi baku. Untuk mengurangi penguapan air tanah, jarak tanam antar baris dipersempit tetapi jarak dalam baris diperlebar. Menanam sorgum dapat dilakukan dengan cara ditugal seperti halnya menanam jagung, bila jarak tanamnya tidak terlalu rapat. Lubang tanam diisi sekitar 3 5 biji, kemudian ditutup dengan tanah ringan. Penutupan tanah secara padat dan berat menyebabkan biji sukar berkecambah. Tanaman rapat dilakukan dengan menyebar biji di sepanjang alur garitan dan pengaturan jarak tanam dilakukan pada saat penjarangan. Tetapi cara ini hanya dapat dilakukan pada tanah yang mempunyai struktur gembur. 

Setelah umur 3 minggu, tanaman harus segera dijarangi dan ditinggalkan 2 tanaman agar dapat tumbuh dan berproduksi secara optimum. Pertanaman yang hanya mengandalkan residu air tanah tidak perlu digemburkan. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke2 (3-4 minggu setelah tanam), dengan tujuan untuk memperkokoh kedudukan tanaman dan untuk menekan penguapan air tanah. 

6. Pemeliharaan 
1. Pengairan 
Tujuan pengairan adalah menambah air bila tanaman kekurangan air. Bila tidak kekurangan maka pengairan tidak perlu dilakukan. Sebaliknya, bila kebanyakan air justru harus segera dibuang dengan cara membuat saluran drainase. Sorgum termasuk tanaman yang tidak memerlukan air dalam jumlah yang banyak, tanaman ini tahan terhadap kekeringan, tetapi ada masa tertentu tanaman tidak boleh kekurangan air yaitu : 

a. Tanaman berdaun empat, masa bunting waktu biji malai berisi, pada waktu tersebut tanaman tidak boleh kekurangan. 
b. Selama pertumbuhan pemberian air cukup dilakukan 3-6 kali setiap 4-10 hari sekali. 
c. Pemberian air dilakukan pada sore/malam hari, setelah suhu tanah tidak terlalu tinggi. 
d. Pemberian air dihentikan setelah biji mulai agak mengeras, hal ini dikarenakan agar biji dapat masak dengan serempak. 

2. Pemupukan. 
Tanaman sorgum banyak membutuhkan pupuk N (Nitrogen), namun demikian pemupukan sebaiknya diberikan secara lengkap (NPK) agar produksi yang dihasilkan cukup tinggi. Dosis pemupukan yang diberikan berbedabeda tergantung pada tingkat kesuburan tanah dan varietas yang ditanam, tetapi secara umum dosis yang dianjurkan adalah 200 kg Urea, 100 kg TSP atau SP36 dan 50 kg KCl. Pemberian pupuk Urea diberikan dua kali, yaitu 1/3 bagian diberikan pada waktu tanam sebagai pupuk dasar bersama-sama dengan pemberian pupuk TSP/SP36 dan KCl. Sisanya (2/3 bagian) diberikan setelah umur satu bulan setelah tanam. 

Pemupukan dasar dilakukan saat tanam dengan cara di tugal sejauh 7 cm dari lubang tanam. Urea dan TSP/SP36 dimasukkan dalam satu lubang, sedang KCl dalam lubang di sisi yang lain. Pemupukan kedua juga ditugal sejauh ± 15 cm dari barisan, kemudian ditutup dengan tanah. Lubang tugal baik untuk pupuk dasar maupun susulan sedalam ± 10 cm. 

3. Penjarangan Tanaman 
Pertumbuhan tanaman sorgum biasanya sudah merata/seragam pada umur 2 minggu setelah tanam. Namun demikian tidak semuanya tanaman yang tumbuh di tiap lubang dengan baik. Apabila terdapat tumbuh yang kurang baik perlu dilakukan penjarangan dengan mencabut tanaman yang kurang baik tersebut. Sehingga pada tiap lubang tersisa tanaman yang terbaik untuk dipelihara hingga panen. 

4. Penyiangan 
Penyiangan dilakukan dengan mencabut tumbuhan pengganggu (gulma) hingga perakarannya secara hati-hati, agar tidak mengganggu perakaran tanaman utama. Keberadaan gulma akan menjadi pesaing bagi tanaman utama dalam mendapatkan air dan unsur hara yang ada di dalam tanah atau bahkan menjadi tempat hama atau penyakit. Oleh sebab itu gulma harus secara rutin disiangi. Gulma yang telah dicabut sebaiknya ditampung atau dikubur di suatu tempat agar membusuk sehingga kemudian dapat dijadikan kompos. 



5. Pembubunan 
Pembubunan dilakukan dengan cara menggemburkan tanah disekitar tanaman sorgum, kemudian menimbunkan tanah tersebut pada pangkal batang tanaman sorgum sehingga membentuk gulu dan gulu kecil yang bertujuan untuk mengokohkan batang tanaman agar tidak mudah rebah dan merangsang terbentuknya akar-akar baru pada pangkal batang. 
6. Panen dan Pasca Panen 
Untuk mendapatkan hasil panen yang optimal, waktu musim penanaman diusahakan tepat sehingga pada saat pemasakan biji sampai panen berada pada musim kering. Karena apabila pada waktu pemasakan pada musim hujan dikhawatirkan banyak biji yang busuk dan berkecambah. Kualitas dan kuantitas hasil panenan sorgum sangat ditentukan oleh ketepatan waktu (baik tanam maupun panen), cara panen dan penanganan pasca panen. 

A. Panen 
Tanaman sorgum sudah dapat dipanen pada umur 3- 4 bulan tergantung varietas. Penentuan saat panen sorgum dapat dilakukan dengan berpedoman pada umur setelah biji terbentuk atau dengan melihat ciriciri visual biji. Pemanenan juga dapat dilakukan setelah terlihat adanya ciri-ciri seperti daun-daun berwarna kuning dan mengering, biji-biji bernas dan keras serta berkadar tepung maksimal. 

Panen yang dilakukan terlambat atau melampaui stadium buah tua dapat menurunkan kualitas biji. Biji-biji akan mulai berkecambah bila kelembaban udara cukup tinggi. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada keadaan cuaca cerah/terang. Pada saat pemanenan sebaiknya pemotongan dilakukan pada pangkal tangkai/malai buah sorgum dengan panjang sekitar 15 25 cm. Untuk meningkatkan produksi sorgum dapat dilakukan budidaya lanjutan dengan cara ratun yaitu pemangkasan batang tanaman pada musim panen pertama yang dilanjutkan dengan pemeliharaan tunas-tunas baru pada periode kedua.

Adapun tata cara budidaya sorgum ratun setelah panen musim pertama adalah sebagai berikut : 
1. Seusai panen pada musim pertama segera dilakukan pemotongan batang yang tua tepat diatas permukaan tanah. 
2. Tanah disekitar tanaman sorgum dibersihkan dari rumput liar/gulma. 
3. Di buatkan larikan kecil sejauh 10-15 cm dari pangkal batang tanaman sorgum kemudian disebarkan pupuk yang terdiri dari 45 kg Urea + 100 kg TSP + 50 kg KCl per hektar. Satu bulan kemudian diberikan pupuk susulan berupa 90 kg Urea/ha. 
4. Tanaman yang berasal dari tunas-tunas baru (ratun) dipelihara dengan baik seperti pada pemeliharaan tanaman periode pertama. 
5. Pada stadium buah tua dilakukan panen musim kedua. 

Hal yang sangat perlu diperhatikan adalah tata cara pemotongan batang tanaman. Pemotongan harus tepat dilakukan diatas permukaan tanah agar tunas-tunas baru tumbuh dari bagian batang yang berada di dalam tanah. 
B. Pasca Panen 
1. Pengeringan 
Pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dijemur dibawah sinar matahari atau dengan menggunakan mesin pengering. Lama penjemuran hingga biji sorgum berkadar air 12%-14% adalah sekitar 60 jam. 

2. Perontokkan 
Biji sorgum dirontokan dari malainya dengan cara diirik atau dapat pula dengan menggunakan mesin perontok. Biji sorgum dibersihkan dari kotoran atau limbah (sekam) kemudian dijemur ulang dengan disebarkan secara merata diatas lantai jemur. 

3. Pewadahan dan Penyimpanan 
Biji sorgum segera diwadahi dalam karung, tiap karung sebaiknya berkapasitas 25 kg 50 kg, kemudian disimpan dalam gudang penyimpanan yang kering dan berventilasi baik.











BAB IV
PENUTUP

            Tanaman sorgum merupakan tanaman yang termasuk ke dalam famili graminiae yaitu termasuk-masuk dalam rumputt-rumputan. Tinggi tanaman gandum mencapai 6 meter. Bunga tanaman gandum termasuk bunga sempurna, dimana kedua alat kelamin dari bunga terdapat dalam satu bunga.
            Lingkungan yang sesuai untuk tanaman gandum yaitu 0-500 mdpl, semakin tinggi tempat akan memperlambat waktu berbunga. Suhu terbaik untuk tanaman gandum yaitu 25-27° C, dan pH yang baik untuk tanaman gandum yaitu 6-7,5.
            Budidaya tanaman gandum meliputi persiapan lahan, pemilihan varietas,penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen.





















DAFTAR PUSTAKA

Beti, Y.A., A. Ispandi, dan Sudaryono. 1990. Sorgum. Monografi. Balai Penelitian Tanaman Pangan, Malang. 
Sudaryono. 1996. Prospek sorgum di Indonesia: Potensi, peluang dan tantangan pengembangan agribisnis. Risalah Simposium Prospek Tanaman Sorgum untuk Pengembangan Agroindustri, 17−18 Januari 1995. Edisi Khusus Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian 4 : 25−38. 




makalah lagi



MAKALAH
TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN PANGAN
BUDIDAYA TANAMAN GANDUM


OLEH:
NAMA                                   : RAHYUNI
NO.BP                                    : 1310211131
KELAS                                  : F
DOSEN                                  : Nilla Kristina,SP.Msi


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015




































Bab I

Pendahuluan


A. Latar Belakang

Gandum (Triticum aestivum L.) adalah salah satu serealia dari famili Gramineae (Poaceae) yang merupakan salah satu  bahan  makanan  pokok selain beras. Gandum  cukup terkenal  dibandingkan bahan makanan lainnya sesama serealia karena kandungan gluten dan proteinnya  yang cukup tinggi pada  biji gandum.  Kandungan gizi gandum di antaranya  karbohidrat  60–80 persen,  protein  6–17 persen, lemak 1.5–2.0 persen, mineral 1.5–2.0 persen dan sejumlah vitamin, (Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia/APTINDO, 2009). Gandum biasanya digunakan untuk memproduksi tepung terigu, pakan ternak, ataupun difermentasi untuk menghasilkan alkohol.

Gandum  termasuk  tanaman serealia  yang  mengandung karbohidrat  lebih  dari  70 % dan merupakan  bahan  pangan  berbasis  tepung. Tepung dari bahan baku  serealia  termasuk  gandum mempunyai karakter yang istimewa dibandingkan dengan tepung dari tanaman berpati seperti aneka umbi. Tepung dari komoditas serealia tidak bersifat higrokopis sehingga  memiliki daya simpan yang cukup panjang, baik dalam bentuk biji maupun tepung (Nurmala, 2006).

Seiring dengan terjadinya diversifikasi pangan,  kebutuhan akan  tepung terigu  hingga  kini menunjukkan   perkembangan yang  signifikan. Hal ini ditandai  dengan  berkembangnya industri pengolahan pangan  berbahan baku tepung terigu sebagai produk olahan dari biji gandum sebagai bahan  baku makanan  yang tidak asing lagi di Indonesia, konsumsi terbesar  adalah untuk 40 persen untuk konsumsi rumah tangga  baik dalam bentuk mi basah atau mi kering, 25 persen untuk industri roti, 20 persen  industri mi instan, 15 persen  untuk industri cake dan biskuit, sisanya 5 persen  untuk gorengan. Jenis-jenis makanan tersebut sangat disukai oleh masyarakat mulai dari anak-anak sampai kalangan orang dewasa/orang tua, baik dari kalangan bawah sampai tingkat atas. Beragamnya produk olahan berbasis terigu menyebabkan produksi terigu dan permintaan gandum meningkat  sebanding dengan tingkat  konsumsi  masyarakat  terkait  dengan tingkat  pendapatan dan  laju pertambahan penduduk yang selalu meningkat  (Adnyana, et al., 2006).

Realisasi impor  gandum tahun  2010 tercatat  mencapai  5,8 juta  ton  dan  diperkirakan  akan terus  meningkat  6 persen  setiap  tahunnya (Deplu, 2011). Kenaikan itu terutama dipengaruhi oleh berkembangnya usaha  mikro, kecil, dan  menengah (UMKM) berbasis  kuliner dengan bahan  baku tepung terigu. Direktur eksekutif Asosiasi Produsen  Terigu Indonesia (APTINDO) mengatakan impor gandum diperkirakan akan mengalami peningkatan hingga 100 persen selama 10 tahun mendatang. Saat ini jumlah impor gandum per tahunnya mencapai 5–6 juta ton gandum, artinya akan ada potensi impor  gandum hingga  10 juta  ton  (Suhendra,  2010). Sementara  itu, United  State  Department of Agriculture (USDA) melaporkan  Indonesia pada  2012 tercatat  sebagai  pengimpor gandum terbesar kedua di dunia dengan volume 7,1 juta ton (Detikfinance, 2012).

Indonesia mempunyai  potensi  lahan  untuk  mengembangkan gandum seluas 73.455 hektar yang tersebar  di 15 provinsi, yang terluas di Provinsi Bengkulu seluas 30.800 hektar dan terkecil di Sumatera Barat seluas 125 hektar. Sehingga peluang untuk mengembangkan gandum cukup terbuka (Dirjen Tanaman Pangan, 2010).

Sejalan dengan itu, usaha yang dapat digunakan  petani dalam peningkatan produksi tanaman gandum yaitu  dengan sistem  pertanian organik  yang  merupakan  salah  satu  cara  dalam  rangka melestarikan lingkungan, karena penambahan bahan  organik merupakan  suatu tindakan perbaikan lingkungan tumbuh tanaman yang antara lain dapat  meningkatkan efisiensi pupuk. Alternatif bahan organik yang dapat  diberikan pada  tanaman gandum adalah pupuk  kandang, salah satunya  pupuk kotoran ayam. Pupuk kotoran ayam merupakan salah satu bentuk bahan organik yang dapat digunakan untuk memperbaiki  kualitas tanah,  antara  lain sifat fisika tanah,  kimia, dan biologinya. Pupuk ini di samping  mengandung unsur hara makro seperti N, P, K, Ca, dan Mg juga mengandung unsur mikro seperti Cu dan sejumlah kecil Mn, Co, dan B yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman (Sarief,
1986).
Pupuk kandang merupakan hasil sampingan dari limbah pertanian yang penting karena pupuk kandang  dapat  digunakan  sebagai bahan nutrisi bagi tanaman.  Pupuk kandang  mengandung unsur hara makro dan mikro. Unsur hara makro yang terkandung dalam pupuk kandang  padat  yaitu unsur fosfor, nitrogen, dan kalium. Unsur hara mikro yang terkandung dalam pupuk kandang  di antaranya kalsium, magnesium,  belerang, natrium, besi, tembaga, dan molibdenum. Kandungan nitrogen dalam urine hewan  ternak tiga kali lebih besar dibandingkan dengan kandungan nitrogen  dalam kotoran padat (Dinas Pertanian dan Hortikultura, 2011).

Beberapa  hasil penelitian  aplikasi pupuk  kotoran  ayam selalu memberikan  respons  tanaman yang terbaik pada musim pertama. Hal ini terjadi karena kotoran ayam relatif lebih cepat terdekomposisi serta mempunyai  kadar hara yang cukup pula dibandingkan dengan jumlah unit yang sama dengan kotoran  hewan  yang lainnya (Hartatik, 2004). Hasil penelitian  Hidayati (2011) membuktikan bahwa pupuk kandang kambing dengan dosis 10 ton/ha  memberikan  hasil terbaik pada lebar daun terlebar terhadap genotipe IS-Jarissa dan IS-1247.

Pupuk kotoran ayam broiler merupakan pupuk organik yang mempunyai kadar hara P yang relatif lebih tinggi dari pupuk kandang  lainnya. Kadar hara ini tergantung jenis konsentrat yang diberikan. Selain itu pula kotoran  ayam tersebut tercampur sisa-sisa makanan  ayam serta sekam sebagai  alas kandang yang dapat menyumbangkan kandungan hara ke dalam pupuk kandang terhadap tanaman. Beberapa hasil penelitian aplikasi pupuk kandang ayam selalu memberikan respons tanaman yang baik pada musim pertama.  Hal ini terjadi karena pupuk kandang  ayam relatif lebih cepat terdekomposisi serta memiliki kadar hara yang cukup pula jika dibandingkan dengan jumlah unit yang sama dengan pupuk kandang lainnya (Widowati, et al., 2005).

Kotoran ayam juga merupakan  salah satu  pupuk  organik yang mengandung kadar N yang tinggi dan kering. Kualitas kompos kotoran ayam lebih banyak ditentukan oleh pakan yang diberikan dan alas lantai kandang (litter) yang digunakan. Kualitas kotoran ayam petelur berbeda dengan ayam kampung. Selain itu jika kotoran ayam banyak tercampur dengan bulu atau dengan gabah alas lantai maka kualitasnya akan kurang bagus (Djaja, 2008).

B. Tujuan

Tujuan dibuat makalah  ini adalah:

1.      Agar mahasiswa mengetahui budidaya tanaman gandum
2.      Untuk memenuhi tugas matakuliah teknologi produksi tanaman pangan






Bab II

PEMBAHASAN


A.    Tanaman Gandum (Triticum Aestivum L.)

Klasifikasi tanaman gandum yaitu:
 Kingdom        : Plantae (Tumbuhan)
 Divisi              : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
SubDivisi        : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
 Sub Kelas       : Commelinidae
 Ordo               : Poales
Famili              : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus              : Triticum Spesies: Triticum aestivum L
            Sedangan untuk morfologi tanaman gandum yaitu:
1.      Biji
Pada umumnya, kernel berbentuk oval dengan panjang 6–8 mm dan diameter 2–3 mm. Seperti jenis serealia lainnya, gandum memiliki tekstur yang keras. Biji gandum terdiri dari tiga bagian yaitu bagian kulit (bran), bagian endosperma, dan bagian lembaga (germ). Bagian kulit dari biji gandum sebenarnya tidak mudah dipisahkan karena merupakan satu kesatuan dari biji gandum tetapi bagian kulit ini biasanya dapat dipisahkan melalui proses penggilingan.
·        Bran

Bran merupakan kulit luar gandum dan terdapat sebanyak 14,5% dari total keseluruhan gandum. Bran terdiri dari 5 lapisan yaitu epidermis (3,9%), epikarp (0,9%), endokarp (0,9%), testa (0,6%), dan aleuron (9%). Bran memiliki granulasi lebih besar dibanding pollard, serta memiliki kandungan protein dan kadar serat tinggi sehingga baik dikonsumsi ternak besar. Epidermis merupakan bagian terluar biji gandum, mengandung banyak debu yang apabila terkena air akan menjadi liat dan tidak mudah pecah. Fenomena inilah yang dimanfaatkan pada penggilingan gandum menjadi tepung terigu agar lapisan epidermis yang terdapat pada biji gandum tidak hancur dan mengotori tepung terigu yang dihasilkan. Kebanyakan protein yang terkandung dalam bran adalah protein larut.

2.     Endosperma
Endosperma merupakan bagian yang terbesar dari biji gandum (80-83%) yang banyak mengandung protein, pati, dan air Pada proses penggilingan, bagian inilah yang akan diambil sebanyak-banyaknya untuk diubah menjadi tepung terigu dengan tingkat kehalusan tertentu. Pada bagian ini juga terdapat zat abu yang kandungannya akan semakin kecil jika mendekati inti dan akan semakin besar jika mendekati kulit.
3.     Lembaga
Lembaga terdapat pada biji gandum sebesar 2,5-3%. Lembaga merupakan cadangan makanan yang mengandung banyak lemak dan terdapat bagian yang selnya masih hidup bahkan setelah pemanenan. Di sekeliling bagian yang masih hidup terdapat sedikit molekul glukosa, mineral, protein, dan enzim. Pada kondisi yang baik, akan terjadi perkecambahan yaitu biji gandum akan tumbuh menjadi tanaman gandum yang baru. Perkecambahan merupakan salah satu hal yang harus dihindari pada tahap penyimpanan biji gandum. Perkecambahan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya kondisi kelembaban yang tinggi, suhu yang relatif hangat dan kandungan oksigen yang melimpah.
Gandum  adalah  tanaman yang berasal  dari daerah  subtropis. Dewasa ini, terutama  melalui usaha-usaha manusia di bidang budi daya tanaman,  penyebaran tanaman gandum mulai meluas ke daerah iklim sedang dan tropis. Pengembangan gandum di Indonesia dimulai sejak Menteri Pertanian dipegang oleh Prof.  Dr. Ir. H. Thoyib Hadiwijaya dengan membentuk Tim Inti Uji Adaptasi Gandum pada tahun  1978, lokasi uji coba terletak di Kabanjahe Sumatera Utara. Benih asal yang digunakan adalah Cimmyt Meksiko dengan produktivitas 4 ton/ha dalam bentuk pecah kulit (Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan, 2001).

Kemudian pada  tahun  2001, pemerintah Indonesia melalui Departemen Pertanian  merintis pengembangan gandum dalam  bentuk  demonstrasi area  di enam  provinsi, yaitu Sumatera  Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan dengan menggunakan benih  galur  asal  India. Sampai  tahun  2003  Ditjen Tanaman Pangan  Departemen pertanian terus melakukan pengembangan gandum berupa  penelitian dan percobaan dalam rangka penyiapan dan perbanyakan sekaligus uji multilokasi. Hasil yang diperoleh dari usaha pengembangan tersebut  cukup  menggembirakan  dan  memperoleh  respons   yang  cukup  baik  dari  petani   dan pemerintah daerah. Panen perdana gandum dilakukan pada tahun 2002 di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Selanjutnya pada  tahun  2004, Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan  Departemen Pertanian mencanangkan dan meluncurkan  program  pengembangan gandum secara massal melalui Program Pengembangan Gandum Berkibar (Berkembang, Kurangi Impor, dan Bantu Rakyat) seluas 1 juta hektar yang diharapkan  dapat  terwujud  di Indonesia. Hingga saat ini Indonesia telah  melepas  4 varietas gandum yaitu: 1) Dewata dan DWR 162 berasal dari India, 2) Selayar berasal dari Meksiko, 3) Nias berasal dari Thailand, dan 4) Timor berasal dari India.

Gandum mempunyai  potensi yang cukup besar untuk dikembangkan di Indonesia pada masa yang akan datang, mengingat kriteria pertumbuhan tanaman gandum banyak tersebar  di Indonesia pada  ketinggian  > 800 m dpl. Pada daerah  tropis seperti  Indonesia dapat  dikembangkan tanaman gandum terutama di daerah  pegunungan (dataran tinggi) yang beriklim kering cocok ditanam  pada ketinggian > 800 m dpl (Direktorat Budidaya Serealia, 2008).

Upaya mengembangkan tanaman gandum di Indonesia telah dilakukan Badan Litbang Pertanian  dengan mengintroduksikan galur atau varietas gandum dari negara  lain. Pengembangan gandum subtropis di Indonesia terkonsentrasi di dataran  tinggi  yang  luasnya  juga terbatas. Oleh karena itu, program pemuliaan gandum di Indonesia diarahkan pada perakitan varietas unggul tropis yang mampu beradaptasi di beberapa ketinggian tempat (Aqil, et al., 2011).
Tanaman gandum berasal dari daerah  subtropis, sehingga  di Indonesia penanaman gandum lebih baik di daerah-daerah yang iklimnya mendekati kondisi daerah asal. Kendala yang sering dialami tanaman gandum di daerah tropis adalah temperatur udara, temperatur tanah, dan kelembapan udara. Daerah-daerah dengan lingkungan  yang  memenuhi syarat  tumbuh gandum terkonsentrasi pada dataran tinggi yang lebih didominasi oleh tanaman hortikultura dan ini akan menimbulkan kompetisi yang tinggi, apalagi petani  relatif belum mengenal tanaman gandum (Puslitbang Tanaman Pangan,
2008).

Upaya peningkatan produktivitas  dapat  dilakukan melalui beberapa penelitian.  Pada dataran tinggi (>800 m dpl) tanaman gandum diusahakan  pada  akhir musim hujan. Gandum yang ditanam pada akhir musim hujan dimungkinkan untuk dipanen  pada musim kemarau, sehingga  indeks panen dapat  ditingkatkan  tanpa  menggeser kedudukan  tanaman sayuran. Pada dataran  rendah,  gandum dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi iklim mikro yang  sesuai untuk  pertumbuhan (Puslitbang Tanaman Pangan, 2008).

Program  pemuliaan  gandum di Indonesia diarahkan  pada  perakitan  varietas  unggul  tropis yang mampu  beradaptasi di dataran  rendah. Seleksi galur dan evaluasi keragaman genetik memberi peluang  bagi perbaikan karakter dan pemilihan genotipe unggul. Untuk meningkatkan produktivitas gandum diperlukan  varietas/galur  yang secara genetik  berdaya  hasil tinggi yang didukung  antara lain oleh faktor genetik dan lingkungan. Salah satu kriteria keberhasilan program pemuliaan gandum di Indonesia adalah  kemampuan untuk  merakit varietas  unggul  yang adaptif  pada  lokasi dengan ketinggian kurang dari 400 m dpl (Pabendon, et al., 2009).
Indonesia tercatat  sebagai negara pengimpor gandum terbesar  kedua di dunia.

Berdasarkan laporan  United  State  Departement of  Agriculture  (USDA),  Mei 2012,  impor  gandum Indonesia diprediksi menembus 7,1 juta ton dibandingkan dengan tahun  sebelumnya yang hanya 6,7 juta ton. Urutan pertama  masih Mesir dengan impor gandum tahun ini akan mencapai  10 juta ton, sementara tahun lalu mencapai 10,5 juta ton. Urutan ketiga antara lain Brazil dengan impor 7.000 ton tahun lalu. Selebihnya ada Jepang, Uni Eropa, Aljazair, Maroko, Korea Selatan, Meksiko, Nigeria, Irak, Turki, Filipina, dan lain-lain dengan proyeksi impor tahun ini totalnya 137.425.000 ton (Detikfinance, 2012).
Berdasarkan  data  Badan Pusat  Statistik (BPS) dalam  lima tahun,  2003 hingga  2008, tepung terigu menjadi sumber karbohidrat  ke-2 terbesar  di Indonesia setelah beras. Tepung terigu memberi kontribusi rata-rata sebesar 14,26 persen sebagai sumber karbohidrat, di bawah beras yang mencapai 79,62 persen. Sedangkan sumber karbohidrat ketiga terbesar adalah ubi kayu yang memberi kontribusi rata-rata 3,56 persen. Kendati beras masih memegang kontribusi terbesar sebagai sumber karbohidrat, pertumbuhannya negatif yaitu rata-rata selama lima tahun  terakhir -0,73 persen, sedangkan pertumbuhan kontribusi tepung terigu terus membesar rata-rata 12,5 persen, dan ubi kayu tumbuh -1,9 persen. Sungguh ironis, permintaan tepung yang berasal dari gandum tersebut terus meningkat. Padahal  hampir  100 persen  bahan  baku  tepung terigu  tersebut masih  diimpor, karena  gandum bukan tanaman tropis yang dikembangkan di negeri ini. Pada 2008, konsumsi tepung terigu nasional.

Menurut  catatan  Aptindo, mencapai  3,8 juta ton. Total kebutuhan tepung terigu sebesar  itu setara dengan sekitar 4,5–5 juta ton biji gandum yang seluruhnya  (100 persen)  masih harus diimpor dari luar negeri. Dengan kebutuhan sebesar itu, maka Indonesia dipastikan menjadi importir biji gandum terbesar di dunia.

Dalam budi  daya  tanaman gandum,  salah  satu  aternatif  untuk  mengatasi ketergantungan terhadap pupuk kimia yaitu dengan memberikan  bahan  organik. Bahan organik cenderung mampu meningkatkan jumlah air yang dapat ditahan di dalam tanah dan jumlah air yang tersedia bagi tanaman. Semakin intensifnya penggunaan pupuk anorganik pada lahan-lahan  pertanian menyebabkan terjadinya kerusakan terhadap tanah sehingga tanah-tanah pertanian menjadi kritis. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dapat dilakukan dengan cara perbaikan kualitas tanah, salah satunya dengan penggunaan pupuk organik. Pupuk organik adalah pupuk dengan bahan dasar yang diambil dari alam dengan jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung secara alami (Musnamar, 2006). Sejalan dengan apa yang disampaikan  (Yuwono, 2005) berapa  pun banyaknya  unsur hara yang diberikan ke dalam tanah  tidak akan pernah  menjadikan  tanaman menjadi  subur karena efektivitas penyerapan unsur hara sangat dipengaruhi oleh kadar bahan organik tanah.
Bahan organik sering disebut sebagai bahan penyangga tanah. Tanah dengan kandungan bahan organik rendah  akan berkurang  kemampuan mengikat pupuk kimia sehingga  efesiensinya menurun akibatnya sebagian  besar pupuk  hilang melalui pencucian,  fiksasi, dan penguapan maka sangatlah penting  mulai memerhatikan usaha pengembalian bahan organik ke dalam tanah (Musnamar, 2003).
Bahan organik  yang  berasal  dari sisa tanaman mengandung bermacam-macam unsur  hara yang dapat  dimanfaatkan kembali oleh tanaman jika telah mengalami  dekomposisi dan mineralisasi. Sisa tanaman ini memiliki kandungan unsur hara yang berbeda-beda kualitasnya tergantung pada tingkat kemudahan dekomposisi serta mineralisasinya. Unsur hara yang terkandung dalam sisa bahan tanaman baru bisa dimanfaatkan kembali oleh tanaman apabila telah mengalami  dekomposisi  dan mineralisasi. Berdasarkan komponen yang dikandungnya dalam bahan pembuatan kompos, kotoran hewan  termasuk  ke dalam  limbah protein.  Limbah protein  merupakan  limbah yang mengandung banyak protein. Limbah yang banyak mengandung protein  merupakan  bahan  pembuatan kompos yang bagus karena kandungan nutrisinya baik untuk pertumbuhan tanaman.  Namun, proses dekomposisi  dari protein  ini akan menghasilkan  bau yang tidak sedap. Bau ini sangat  disukai oleh kuman dan serangga sehingga jumlah mereka akan sangat banyak (Djuarnani, et al., 2004).
Pemupukan  yang efektif melibatkan persyaratan  kuantitatif dan kualitatif. Persyaratan kuantitatifnya  adalah  dosis pupuk, sedangkan persyaratan kualitatifnya meliputi  unsur  hara  yang diberikan  dalam  pemupukan, relevan  dengan masalah  nutrisi yang  ada,  waktu  pemupukan dan penempatan pupuk  tepat,  unsur  hara dapat  diserap  tanaman,  dan  tanaman dapat  menggunakan unsur hara yang diserap untuk meningkatkan produksi dan kualitasnya (Indranada, 1986). Pemberian pupuk yang tepat jumlah akan memacu pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil (Simatupang, et al., 1994).

Pupuk kandang dapat menambah tersedianya unsur hara bagi tanaman yang dapat diserap dari dalam tanah. Selain itu, pupuk kandang  mempunyai  pengaruh yang baik terhadap sifat fisis, kimiawi tanah, mendorong kehidupan jasad renik. Dengan kata lain, pupuk kandang mempunyai kemampuan mengubah berbagai  faktor dalam tanah  sehingga  menjadi  faktor yang menjamin  kesuburan  tanah

(Sutejo, 2002). Pupuk kandang  mengandung unsur hara lengkap  yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya. Di samping  mengandung unsur hara makro seperti  nitrogen,  fosfor, dan kalium, pupuk kandang juga mengandung unsur hara mikro seperti kalsium dan sulfur (Musnamar, 2004).

Dilihat dari proses  dekomposisinya,  pupuk  kandang  dapat  digolongkan  menjadi  dua, yaitu pupuk kandang  dingin dan pupuk kandang  panas. Pupuk dingin merupakan  pupuk yang terbentuk karena proses penguraian oleh mikroorganisme dan berlangsung perlahan sehingga  tidak terbentuk panas. Contoh  pupuk  dingin  antara  lain kotoran  sapi, kerbau, dan  babi. Sementara  pupuk  panas adalah pupuk yang terbentuk karena penguraian mikroorganisme yang berlangsung cepat sehingga membentuk panas. Contoh pupuk panas  antara  lain pupuk ayam, kambing, dan kuda. Penggunaan pupuk  panas  harus  hati-hati  karena  dapat  menimbulkan gangguan pertumbuhan tanaman atau bahkan menyebabkan tanaman muda (bibit) mati (Sutejo, 2008).
Rasio C/N adalah perbandingan kadar karbon (C) dan kadar nitrogen  (N) dalam suatu bahan. Semua makhluk hidup terbuat dari sejumlah besar bahan karbon (C) serta nitrogen  (N) dalam jumlah kecil. Berdasarkan  literatur  Yuwono (2005), perbandingan rasio C/N kotoran  ayam  10:1. Menurut (Djuarnani, et al., (2004), komposisi kotoran ayam adalah: (1) rasio C/N 7 g/g; (2) kadar air 20 persen; (3) jumlah C 30 persen; dan (4) jumlah N 4,3 persen.  Saat ini masyarakat  masih kurang  menyadari akan pentingnya upaya  pengolahan limbah peternakan, salah satunya  kotoran  ayam. Berdasarkan hasil penelitian menyatakan bahwa kotoran ayam memilki kandungan N dan P paling tinggi di antara kotoran ternak lainnya (Wibowo, 2009).

Pengunaan pupuk  kandang  ayam  berfungsi  untuk  memperbaiki  struktur  fisik dan  biologi tanah,  menaikkan  daya serap  tanah  terhadap air. Pemberian  pupuk  kandang  berpengaruh dalam meningkatkan Al-dd dan menurunkan pH, hal ini disebabkan oleh bahan organik dari pupuk kandang dapat  menetralisir sumber kemasaman  tanah. Pupuk kandang  juga akan menyumbangkan sejumlah hara ke dalam tanah  yang dapat  berfungsi guna menunjang pertumbuhan dan perkembangannya, seperti N, P, K (Djafaruddin, 1970)


B. BUDIDAYA TANAMAN GANDUM
·         Iklim
· Ketinggian diatas lahan yang sesuai 800 m dpl
· Suhu Optimum 20 ­
-25° C
· Curah hujan 600 ­
-825 mm/tahun
· Kelembapan rata­rata 80 ­
-90%
·  Intensitas penyinaran 9 ­
-12 jam/hari
·         Tanah
·  Jenis tanah adalah Andosol, Regosol kelabu, Latosol dan Aluvial
·  pH tanah berkisar 6 ­ 7
·  Syarat  tanah  yang  baik  untuk  pertumbuhan  tanaman  gandum adalah 
:
 a). hara yang diperlukan  cukup  tersedia,
 b).  tidak ada zat toksit,
 c). kelembaban mendekati kapasitas lapang, 
d). suhu tanah  rata-­rata  berkisar  15 -28°  C, 
e).  aerasi  tanah  baik, 
f).tidak  ada  lapisan  padat  yang  menghambat  penetrasi  akar gandum untuk menyusuri tanah.
Cara Pengolahan Tanah
• Pengolahan tanah untuk tanaman gandum hampir sama dengan pengolahan tanah untuk padi gogo dan palawija lainnya (jagung, sorgum, kedele), yaitu antara lain agar tanah mempunyai
aerasi yang baik.
• Jika tanah itu sebelumnya bera, pengolahan tanah dilakukan dua kali.

• Pencangkulan/pembajakan pertama yaitu untuk menggemburkan tanah dan membasmi gulma.

• Pengolahan kedua dilakukan seminggu kemudian, untuk lebih menggemburkan tanah, meratakan dan memberantas gulma yang tumbuh kemudian.
• Di samping itu dapat sekaligus membenamkan pupuk organik bagi tanah yang memerlukannya.

• Biarkan tanah garapan selama 7 - 10 hari, untuk memberikan kesempatan agar bahan organik yang dibenamkan mulai melapuk.
• Jika tidak turun hujan, perlu ada suplai air untuk mempermudah benih berkecambah.

• Jika sebelumnya ada tanaman lain, maka dapat dipertimbangkan pengolahan tanah secara minim (minimum tillage).
• Jarak tanam bermacam-macam, ukurannya tergantung dari tingkat kesuburan tanah dan varietas (varietas yang kanopinya lebar, memerlukan jarak tanam lebih besar daripada yang kanopinya lebih kecil).
• Jarak tanam pada tanah yang subur bisa lebih dipersempit, demikian pula jarak tanam pada musim kemarau lebih sempit dari pada musim hujan.
• Ukurannya 20 x 10 cm, 25 x 10 cm, 25 x 5 cm atau 30 x 10 cm.

• Jarak tanam sedang diteliti : jarak tanam larikan, dengan jarak antar larikan 30 cm.

-Tanah  dicangkul  sedalam  25 -30  cm  setelah  tanah  dicangkul, dibiarkan/diangin­anginkan selama 7 hari
-Penggemburan  tanah  dilakukan  agar  bongkahan  tanah menjadi butiran yang lebih halus
-Kemudian  tanah diangin­anginkan  selama 7 hari agar  terhindari dari unsur­unsur beracun yang kemungkinan ada di dalam tanah
Pembuatan Bedengan
-Setelah  tanah diolah/digemburkan dibuat bedengan selebar 200 cm. Panjang bedengan menyesuaikan kondisi lahan
·  Diantara bedengan dibuat selokan selebar 50 cm dan sedalam 25 cm
·  Tanah  dari  galian  selokan  diambil  dan  ditaburkan diatas bedengan sehingga menambah tinggi bedengan
·  Permukaan  bedengan  dihaluskan  dan  diratakan  sehingga  rata benar
·  Pada  setiap  bedengan  nantinya  terdapat  ±  8  barisan  tanaman dengan jarak antar baris 25 cm.
Penanaman
Varietas  yang  ada  dan  pernah  dikembangkan  di  Indonesia  baru beberapa  varietas  di  antaranya  Nias,  Timor,  Selayar  dan  Dewata namun  dari  ke  4  varietas  tersebut  yang  banyak  di  tanam  oleh petani varietas Selayar dan Dewata.
Kebutuhan Benih
Benih  yang  digunakan  hendaknya  benih  bermutu,  hal  ini  sangat penting  disamping  untuk menghasilkan  produksi  yang  tinggi  juga tahan  terhadap  hama  dan  penyakit  yang  menyerang.  Kebutuhan benih  per  hektar  100  kg  atau  sama  dengan  1  kg/100 m²  dengan sistim  larikan  jika  ditanam  dengan  sistim  tugal  kebutuhan  benih bisa kurang dari 100 kg/ha.
Benih gandum yang baik :
(1) berasal dari malai yang matang pada batang utama,
(2) mempunyai bentuk dan warna yang seragam,
(3) bebas dari hama dan penyakit, dan
(4) mempunyai bobot yang tinggi dan seragam
• Benih gandum mempunyai masa dormansi yang tidak terlalu lama antara 0 - 4 bulan.

• Sebelum ditebar seyogyanya benih direndam beberapa menit dalam air.

• Kotoran atau biji yang telah rusak, karena beratnya lebih ringan akan terapung. Benih yang telah bersih itu kemudian diuji daya tumbuhnya
Syarat benih gandum bersertifikat :
(1) kemurnian benih mini-mal 98 %,
(2) campuran benih varietas lain maksimal 0,2 %,
(3) biji gulma maksimal 0,1 %,
(4) kotoran maksimal 2 %
(5) daya tumbuh minimal 80 %
(6) kadar air mak-simal 13 %
Sebelum benih ditanam, sebaiknya diberi perlakuan benih terlebih dahulu, untuk mencegah kerusakan dan serangan hama-penyakit, baik yang berasal dari dalam tanah atau dari benih itu sendiri.
Fungisida yang dapat digunakan antara lain Ceresan.
Banyaknya benih per lubang tergantung dari daya tumbuh benih. Benih yang berdaya tumbuh 95 % cukup dua butir per lubang.
Untuk jarak tanam 20 x 10 cm diperlukan 30 kg benih/ha.
Benih yang berdaya tumbuh kurang dari 95 persen sebaiknya lebih dari dua butir per lubang atau 35 kg benih/ha.
Kelembaban tanah selama perkecambahan dipertahankan pada RH tanah mendekati kapasitas lapang.


Waktu Tanam
Waktutanam yang tepat adalah pada awal musim kemarau dan di akhir musim penghujan, pada sebagian besar daerah di Pulau Jawa biasanya  berada  di  antara  bulan  April  ­ Mei  dimana di  perkirakan curah  hujan  tidak  terlalu  tinggi.  Namun  demikian,  ada beberapadaerah yang waktu tanamnya tidak pada bulanbulan tersebut. Hal ini dikarenakan pada daerah  tersebut mempunyai musim kemarau dan penghujan yang berbeda.
Cara Bertanam
· Buat alur/larikan pada bedengan dengan jarak antara 25 cm.
·  Benih  yang  akan  ditanam,  dicampur  terlebih  dahulu  dengan Dithane.
·  Benih  dimasukan  dalam  alur  sedalam  3,5  cm  dengan  cara seretan.
·  Taburi  Furadan  ditempat  biji  dalam  alur,  kemudian  ditutup dengan  tanah  halus.  Pemberian  Furadan  dimasukan  agar  benih tidak terkena hama dan penyakit.
Pengairan
·  Pada  waktu  setelah  tanam  yang  diikuti  pemupukan 
ke I :lahan perlu diairi agar benih berkecambah dan dapat tumbuh dengan baik.
· Pada waktu tanaman berumur 30 HST (hari setelah tanam) yaitu pada waktu setelah penyiangan dan
 pemupukan ke II, tanaman perlu diairi agar dapat menyerap pupuk dengan baik.
·  Waktu  tanaman  berumur  45 
-65  HST  yakni  pada  waktu  fase bunting  sampai  keluar malai,  tanaman  perlu  diairi  agar  jumlah bunga dan biji yang dihasilkan banyak.
· Pada fase pengisian biji sampai masak (± 70 ­ 90 HST) tanaman perlu diairi agar tidak menurunkan berat biji yang dihasilkan.
Pemupukan
Waktu pemupukan dapat dilakukan sebelum tanam atau pada saat tanam sebagai pupuk dasar.Pupuk pertama diberikan TSP dan KCl serta sebagaian pupuk N. Dosis pupuk dapat ditentuk
an oleh jumlah hara  yang  tersedia  didalam  tanah.  Biasanya  pupuk  organik 10 ton/ha, sedangkan pupuk anorganik 120 ­ 200 kg N/ha, P 45 ­ 150 kg/ha dan 30 -70 kg K/ha. Pemberian pupuk Urea dapat diberikan 2 ­ 3 kali.
Pemberian I : Sepertiga  bagian  bersama  dengan  pupuk 
P dan K dalam bentuk pupuk majemuk.
Pemberian II : Sepertiga bagian pada saat bertunas sekitar 25 ­ 30 hari setelah tanam.
Pemberian III : Sisanya  pada  saat  pembentukan  primordia  bunga untuk  mendorong  pembentukan  malai,  butir
gandum dan peningkatan protein.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan  2
-3  kali  tergantung  banyaknya  populasi gulma.
Penyiangan I : tanaman berumur 1 bulan
Penyiangan II: dilakukan 3 minggu dari penyiangan pertama
Penyiangan III : tergantung  banyaknya  dan  tingginya  populasi
gulma.













BAB III
KESIMPULAN
Syarat tumbu dari tanaman gandum yaitu berada pada ketinggian  800 m dpl, suhu Optimum 20 ­-25°C,curah hujan 600 ­-825 mm/tahun,kelembaban rata­rata 80 90%,intensitas penyinaran 9 ­-12 jam/hari. Jenis tanah adalah Andosol, Regosol kelabu, Latosol dan Aluvial,pH tanah berkisar 6 ­ 7.
Tanaman gandum merupakan tanaman suku graminiaw, yang merupakan tanaman monokotil, dan merupakan tumbuhan berbunga.
Budidaya tanaman gandum dimulai dari pengolahan lahan, pesiapan benih, penanaman, pemeliharaan dan pemupukan.












DAFTAR PUSTAKA

Beti, Y.A., A. Ispandi, dan Sudaryono. 1990. Sorgum. Monografi. Balai Penelitian Tanaman Pangan, Malang. 
Sudaryono. 1996. Prospek sorgum di Indonesia: Potensi, peluang dan tantangan pengembangan agribisnis. Risalah Simposium Prospek Tanaman gandum untuk Pengembangan Agroindustri, 17−18 Januari 1995. Edisi Khusus Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian 4 : 25−38.