MAKALAH
BUDIDAYA
TANAMAN SORGUM

OLEH:
RAHYUNI
1310211131
PROGRAM
STUDI AGROKOTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
ANDALAS
PADANG
2015
“EKOLOGI TANAMAN PADI”
Tujuan
dari pembuatan makalah ini sebagai tugas yang di berikan oleh dosen pengasuh mata
kuliah teknologi produksi tanaman pangan yaitu ibu Dr.Ir. Etti Swasti, MS.
Ditulis
oleh : Rahyuni

PROGRAM
STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
ANDALAS
PADANG
2015
KATA
PENGANTAR
Dengan
memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Berkat rahmat dan karunia-Nya
Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan dan menyusun makalah ini, dalam rangka
memenuhi salah satu tugas Teknologi Produksi Tanaman Pangan I.
Penyusun sudah berusaha dengan
segala kemampuan untuk menyusun makalah ini dengan baik. Meski demikian sebagai
manusia biasa tidaklah selalu terlepas dari kesalahan maupun kekurangan. Dalam
penulisan makalah yang berjudul “BUDIDAYA TANAMAN SORGUM” ini
saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, tetapi saya
tidak akan menyerah begitu saja, saya akan terus berusaha mempersembahkan yang
terbaik. Maka dari itu saya sangatlah mengharapkan bantuan, bimbingan, arahan,
serta motifasi., kritik dan saran yang bersifat membangun guna mencapai hasil
yang lebih baik lagi.
Atas dukungan moral yang diberikan
saya mngucapkan terima kasih kepada ibu Dr.Ir. Etti Swasti, MP, selaku dosen
pengasuh mata kuliah Teknologi Produksi Tanaman Pangan I, penyusun juga
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu dalam
kelancaran penyusunan makalah ini, dan mudah-mudahan makalah ini dapat
bermanfaat khususnya bagi saya dan umumnya bagi pembaca.
Ammin………..
DAFTAR ISI
Kata pengantar......................................................................................................................
i
Daftar
isi.................................................................................................................................ii
Bab
I.......................................................................................................................................
1
Bab II
.....................................................................................................................................
3
Bab
III....................................................................................................................................
8
Daftar
Pustaka .....................................................................................................................
10
BAB I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sorgum( Sorghum spp.) adalah tanaman serbaguna yang
dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sebagai
bahan pangan ke-5, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi,
dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika
sub-sahara.Keunggulan sorgum terletak pada daya adaptasi agroekologi yang luas,
tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi, perlu input lebih sedikit serta
lebih tahan terhadap hama dan penyakit dibading tanaman pangan lain.
Produksi sorgum di Indonesia masih sangat
rendah,bahkan secara umum produk sorgum belum tersedia di pasar-pasar. Terkait
dengan energi, di beberapa negara seperti Amerika, India dan Cina, sorgum telah
digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar etanol (bioetanol). Secara
tradisional, bioetanol telah lebih lama diproduksi dari molases hasil limbah
pengolahan gula tebu (sugarcane). Walaupun harga molases tebu relatif lebih
murah, namun bioetanol sorgum dapat berkompetisi. Aspek Ekonomi dan Botani
Sorgum.
Sorgum termasuk tanaman rumputan kekar dengan tinggi
mencapai 0,5 - 6 m. Batang tunggal, padat tanpa rongga, dan di bagian tengahnya
terdapat berkas-berkas pengangkut. Daun mempunyai panjang 30 - 135 cm, dan
lebar 1,5 - 15 cm. Sistem perakaran memanjang sampai kedalaman 1,5 m ke dalam
tanah, dimana 90% dari jumlah akar terletak pada kedalaman sampai 90 cm dari
permukaan tanah. Biji sorgum berbentuk bola dan mempunyai warna yang
bervariasi, dari putih, kuning pucat, merah, cokelat, sampai cokelat tua
keunguan. Keberhasilan perkecambahannya selain dipengaruhi oleh lingkungan
(suhu, air, cahaya, dan sebagainya) juga dipengaruhi oleh keadaan biji (penuaan
pada saat panen, penyimpanan, ukuran dan berat biji).
Sorgum mempunyai prospek yang cukup baik untuk
dikembangkan di Indonesia sebagai tanaman penghasil bahan pangan dan pakan
ternak. Sistem pengolahan tanah bagi sorgum sebaiknya dilakukan seperti halnya
pengolahan tanah pada jagung. Waktu tanam sorgum sebaiknya diatur dengan baik
agar pembungaan tanaman terjadi pada saat hujan mulai kurang dan pemasakan biji
bersamaan pada musim kemarau.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dibuat makalah
ini adalah
1.
Agar mahasiswa mengetahui budidaya tanaman sorgum
2.
Untuk melaksanakan tugas matakuliah teknologi produksi
tanaman pangan
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi Taksonomi Tanaman Sorgum:
Kingdom : Plantae/tumbuhan
Divisi
: Spermatophyta (menghasilkan biji)
SubDivisi : Magnoliophyta
(tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu/monokotil)
SubKelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Famili : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus : Sorghum
Spesies : Sorghum bicolor (L.) Moench
Tanaman sorgum merupakan tanaman
yang termasuk ke dalam famili graminae yang mampu tumbuh tinggi hingga 6 meter.
Bunga sorgum termasuk bunga sempurna dimana kedua alat kelaminnya berada di
dalam satu bunga. Bunga sorgum merupakan bunga tipe panicle (susunan bunga di tangkai).
Rangkaian bunga sorgum berada di bagian ujung tanaman. Bentuk tanaman ini
secara umum hampir mirip dengan jagung, yang membedakan adalah tipe bunga
dimana jagung memiliki bunga tidak sempurna, sedangkan sorgum bunga sempurna.Tanaman
sorgum memiliki akar serabut.menyatakan bahwa sorgum merupakan tanaman biji
berkeping satu tidak membentuk akar tunggang dan hanya akar lateral. Sistem
perakarannya terdiri atas akar-akar seminal (akar-akar primer) pada dasar buku
pertama pangkal batang, akar-akar koronal (akar-akar pada pangkal batang yang
tumbuh ke arah atas) dan akar udara (akar-akar yang tumbuh dipermukaan tanah).Tanaman
sorgum membentuk perakaran sekunder 2 kali lipat dari jagung, (Rismunandar,
2006).
Tanaman sorgum (Sorghum bicolor L.
Moench) merupakan tanaman graminae yang mampu tumbuh hingga 6 meter. Bunga
sorgum termasuk bunga sempurna dimana kedua alat kelaminnya berada di dalam
satu bunga. Pada daun sorgum terdapat lapisan lilin yang ada pada lapisan
epidermisnya. Adanya lapisan lilin tersebut menyebabkan tanaman sorgum mampu
bertahan pada daerah dengan kelembaban sangat rendah (Kusuma dkk., 2008).
Pentingnya tanaman sorgum tersebut
menyebabkan perkembangan pemuliaan tanaman ini berkembang cukup pesat.
Pemuliaan tanaman sorgum lebih diarahkan pada tinggi tanaman, hasil, ketahanan
terhadap hama penyakit, kualitas dan mutu biji. Berdasarkan bentuk malai dan
tipe spikelet, sorgum diklasifikasikan ke dalam 5 ras yaitu ras Bicolor, Guenia,
Caudatum, Kafir, dan Durra. Ras Durra yang umumnya berbiji putih merupakan tipe
paling banyak dibudidayakan sebagai sorgum biji (grain sorgum) dan digunakan
sebagai sumber bahan pangan. Diantara ras Durra terdapat varietas yang memiliki
batang dengan kadar gula tinggi disebut sebagai sorgum manis (sweet sorghum).
Sedangkan ras-ras lain pada umumnya digunakan sebagai biomasa dan pakan
ternak. Program pemuliaan sorgum telah berhasil memperoleh varietas dengan
kandungan gula yang tinggi (sweet sorghum) sehingga dapat menggantikan tanaman
tebu sebagai penghasil bahan pemanis. Sorgum manis tersebut telah berhasil
dibudidayakan di China sebagai bahan pembuat biofuel (Kusuma dkk., 2008).
Sorgum merupakan tanaman dari
keluarga Poaceae dan marga Sorghum. Sorgum sendiri memiliki 32 spesies.
Diantara spesies-spesies tersebut, yang paling banyak dibudidayakan adalah
spesies Sorghum bicolor (japonicum). Tanaman yang lazim dikenal masyarakat Jawa
dengan nama Cantel ini sekeluarga dengan tanaman serealia lainnya seperti padi,
jagung, hanjeli dan gandum serta tanaman lain seperti bambu dan tebu. Dalam
taksonomi, tanaman-tanaman tersebut tergolong dalam satu keluarga besar Poaceae
yang juga sering disebut sebagai Gramineae/rumput-rumputan (Anas, 2011).
Sorgum telah dibudidayakan di Cina
selama lebih dari 5000 tahun dan sekarang roti dengan bahan sorgum merupakan
makanan paling penting di sebagian besar daerah kering di Afrika dan Asia
(Bouman, 1985). Bahan pangan biji sorgum dapat diolah menjadi berbagai macam
makanan. Tepung sorgum dapat diolah sebagai bahan dasar roti. Roti tawar yang
terbuat dari tepung sorgum tidak berbeda teksturnya dibandingkan roti yang
terbuat dari tepung terigu (Syam dkk., 1996).
Lingkungan tumbuh untuk tanaman
sorgum adalah optimum pada ketinggian tempat kurang lebih 0 – 500 m dpl.
Semakin tinggi tempat pertanaman akan semakin memperlambat waktu berbunga dari
tanaman sorgum. Temperatur yang dibutuhkan tanaman sorgum adalah 25°C – 27°C
adalah suhu terbaik untuk perkecambahan biji sorgum, sedangkan untuk
pertumbuhannya perlu suhu sekitar 23oC – 30°C dengan keasaman tanah atau pH
optimum tanah untuk pertumbuhannya sekitar 6.0 – 7.5. Sorghum dimanfaatkan
sebagai bahan pangan dan pakan ternak, memiliki kandungan nutrisi yang baik
bahkan kandungan proteinnya lebih tinggi daripada beras. Kandungan tersebut
adalah kalori (332 cal), protein (11,0 g), lemak (3,3 g), karbohidrat (73,0 g),
kalsium (28,0 mg), besi (4,4 mg), posfor (287 mg) dan vit B1 (0,38 mg)
(Laimehewira Jantje, 1997).
Keunggulan sorgum terletak pada daya
adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi,
perlu input lebih sedikit serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit
dibanding tanaman pangan lain seperti jagung dan gandum. Selain itu, tanaman
sorgum memiliki kandungan nutrisi yang baik, sehingga dapat digunakan sebagai
sumber bahan pangan maupun pakan ternak alternatif. Biji sorgum memiliki
kandungan karbohidrat tinggi dan sering digunakan sebagai bahan baku industri
bir, pati, gula cair atau sirup, etanol, lem, cat, kertas dan industri lainnya.
Tanaman sorgum telah lama dan banyak dikenal oleh petani Indonesia khususnya di
daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku,NTB,dan NTT
BUDDIDAYA
TANAMAN SORGUM
1. Penyiapan Lahan
Lahan dibersihkan dari sisa-sisa
tanaman sebelumnya, kemudian dicangkul atau dibajak 2 kali setelah itu baru
digaru dan diratakan. Setelah tanah diratakan, dibuat saluran drainase di
sekeliling atau di tengah lahan. Ukuran petakan disesuaikan dengan keadaan
lahan. Untuk lahan yang hanya mengandalkan residu air tanah, pengolahan hanya
dilakukan secara ringan dengan mencangkul tipis permukaan tanah untuk mematikan
gulma. Pengolahan tanah secara ringan sangat efektif untuk menghambat penguapan
air tanah sampai tanaman panen. Tanah yang sudah diolah sebaiknya diberikan
pupuk organik, misalnya pupuk kandang atau kompos.
Pengolahan tanah ini bertujuan
antara lain untuk memperbaiki struktur tanah, memperbesar persediaan air,
mempercepat pelapukan, meratakan tanah dan memberantas gulma. Sebaiknya pengolahan
tanah paling baik dilakukan 2-4 minggu sebelum tanam.
2. Pemilihan Varietas
Untuk mendapatkan hasil yang baik,
yang harus diperhatikan adalah penanaman jenis varietas unggul yang cocok dan
sesuai dengan lingkungan hidup setempat serta penerapan teknikbudidaya
yang tepat. Varietas unggul yang dianjurkan untuk ditanam harus memperhatikan
kegunaan dan lingkungan tumbuhnya. Untuk keperluan konsumsi manusia (pangan)
varietas yang dianjurkan antara lain UPCA S1, Keris, Badik dan Hegari Genjah
karena varietas ini mempunyai keunggulan seperti berumur genjah, tinggi batang
sedang, berbiji putih dengan rasa olah sebagai nasi cukup enak. Varietas Kawali
dan Numbu yang dilepas tahun 2001 juga mempunyai rasa olah sebagai nasi cukup
enak, namun umurnya relatif lebih panjang. Sedangkan untuk pakan ternak dipilih
varietas sorgum yang tahan hama penyakit, tahan rebah, tahan disimpan dan dapat
diratun.
Pada lingkungan yang ketersedian
airnya terbatas dan masa tanam yang singkat dipilih varietas-varietas umur
genjah seperti Keris, Badik, Lokal Muneng dan Hegari Genjah. Ditinjau dari segi
hasil, varietas umur genjah memang hasilnya jauh lebih rendah daripada varietas
umur sedang atau dalam, tetapi keistimewaannya dapat segera dipanen,
menyelamatkan dari resiko kegagalan hasil akibat kekeringan.
3. Waktu Tanam
Sorgum dapat ditanam pada sembarang
musim tanam asalkan pada saat tanaman muda tidak tergenang atau kekeringan.
Namun begitu waktu tanam yang paling baik adalah pada akhir musim hujan atau
awal musim kemarau. Pada areal yang telah disiapkan sebelumnya dibuatkan lubang
tanam dengan jarak tanam disesuaikan dengan varietas yang digunakan,
ketersediaan air dan tingkat kesuburan tanah. Pada tanah yang kurang subur dan
kandungan air tanah rendah sebaiknya di gunakan jarak tanam lebih lebar atau
populasi tanam dikurangi dari populasi baku (seharusnya).
4. Penanaman
Jarak tanam sorgum dapat bervariasi
sesuai dengan varietas yang digunakan, ketersediaan air tanah dan kesuburan.
Untuk mencapai hasil yang optimum, varietas pendek dan sedang memerlukan jarak
tanam yang lebih rapat dibandingkan dengan varietas tinggi. Pada jenis varietas
sedang sampai batas tertentu terjadi kenaikkan hasil dengan semakin tingginya
populasi tanam. Sedangkan kebutuhan benih untuk pertanaman sorgum berkisar 10
kg/ha dengan jarak tanam 70 cm x 20 cm atau 15-20 kg/ha dengan jarak tanam 60cm
x 20 cm.
Pada tanah yang kurang subur dan
kandungan air tanah rendah, sebaiknya digunakan jarak tanam lebih lebar atau
populasi tanam kurang dari populasi baku. Untuk mengurangi penguapan air tanah,
jarak tanam antar baris dipersempit tetapi jarak dalam baris diperlebar.
Menanam sorgum dapat dilakukan dengan cara ditugal seperti halnya menanam
jagung, bila jarak tanamnya tidak terlalu rapat. Lubang tanam diisi sekitar 3 5
biji, kemudian ditutup dengan tanah ringan. Penutupan tanah secara padat dan
berat menyebabkan biji sukar berkecambah. Tanaman rapat dilakukan dengan
menyebar biji di sepanjang alur garitan dan pengaturan jarak tanam dilakukan
pada saat penjarangan. Tetapi cara ini hanya dapat dilakukan pada tanah yang
mempunyai struktur gembur.
Setelah umur 3 minggu, tanaman harus
segera dijarangi dan ditinggalkan 2 tanaman agar dapat tumbuh dan berproduksi
secara optimum. Pertanaman yang hanya mengandalkan residu air tanah tidak perlu
digemburkan. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke2 (3-4 minggu
setelah tanam), dengan tujuan untuk memperkokoh kedudukan tanaman dan untuk
menekan penguapan air tanah.
6. Pemeliharaan
1. Pengairan
Tujuan pengairan adalah menambah air
bila tanaman kekurangan air. Bila tidak kekurangan maka pengairan tidak perlu
dilakukan. Sebaliknya, bila kebanyakan air justru harus segera dibuang dengan
cara membuat saluran drainase. Sorgum termasuk tanaman yang tidak memerlukan
air dalam jumlah yang banyak, tanaman ini tahan terhadap kekeringan, tetapi ada
masa tertentu tanaman tidak boleh kekurangan air yaitu :
a. Tanaman berdaun empat, masa bunting waktu biji
malai berisi, pada waktu tersebut tanaman tidak boleh kekurangan.
b. Selama pertumbuhan pemberian air cukup dilakukan
3-6 kali setiap 4-10 hari sekali.
c. Pemberian air dilakukan pada sore/malam hari,
setelah suhu tanah tidak terlalu tinggi.
d. Pemberian air dihentikan setelah biji mulai agak
mengeras, hal ini dikarenakan agar biji dapat masak dengan serempak.
2. Pemupukan.
Tanaman sorgum banyak membutuhkan
pupuk N (Nitrogen), namun demikian pemupukan sebaiknya diberikan secara lengkap
(NPK) agar produksi yang dihasilkan cukup tinggi. Dosis pemupukan yang diberikan
berbedabeda tergantung pada tingkat kesuburan tanah dan varietas yang ditanam,
tetapi secara umum dosis yang dianjurkan adalah 200 kg Urea, 100 kg TSP atau
SP36 dan 50 kg KCl. Pemberian pupuk Urea diberikan dua kali, yaitu 1/3 bagian
diberikan pada waktu tanam sebagai pupuk dasar bersama-sama dengan pemberian
pupuk TSP/SP36 dan KCl. Sisanya (2/3 bagian) diberikan setelah umur satu bulan
setelah tanam.
Pemupukan dasar dilakukan saat tanam
dengan cara di tugal sejauh 7 cm dari lubang tanam. Urea dan TSP/SP36
dimasukkan dalam satu lubang, sedang KCl dalam lubang di sisi yang lain.
Pemupukan kedua juga ditugal sejauh ± 15 cm dari barisan, kemudian ditutup
dengan tanah. Lubang tugal baik untuk pupuk dasar maupun susulan sedalam ± 10
cm.
3. Penjarangan Tanaman
Pertumbuhan tanaman sorgum biasanya
sudah merata/seragam pada umur 2 minggu setelah tanam. Namun demikian tidak
semuanya tanaman yang tumbuh di tiap lubang dengan baik. Apabila terdapat
tumbuh yang kurang baik perlu dilakukan penjarangan dengan mencabut tanaman
yang kurang baik tersebut. Sehingga pada tiap lubang tersisa tanaman yang
terbaik untuk dipelihara hingga panen.
4. Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan mencabut
tumbuhan pengganggu (gulma) hingga perakarannya secara hati-hati, agar tidak
mengganggu perakaran tanaman utama. Keberadaan gulma akan menjadi pesaing bagi
tanaman utama dalam mendapatkan air dan unsur hara yang ada di dalam tanah atau
bahkan menjadi tempat hama atau penyakit. Oleh sebab itu gulma harus secara
rutin disiangi. Gulma yang telah dicabut sebaiknya ditampung atau dikubur di
suatu tempat agar membusuk sehingga kemudian dapat dijadikan kompos.
5. Pembubunan
Pembubunan dilakukan dengan cara
menggemburkan tanah disekitar tanaman sorgum, kemudian menimbunkan tanah tersebut
pada pangkal batang tanaman sorgum sehingga membentuk gulu dan gulu kecil yang
bertujuan untuk mengokohkan batang tanaman agar tidak mudah rebah dan
merangsang terbentuknya akar-akar baru pada pangkal batang.
6. Panen dan Pasca Panen
Untuk mendapatkan hasil panen yang
optimal, waktu musim penanaman diusahakan tepat sehingga pada saat pemasakan
biji sampai panen berada pada musim kering. Karena apabila pada waktu pemasakan
pada musim hujan dikhawatirkan banyak biji yang busuk dan berkecambah. Kualitas
dan kuantitas hasil panenan sorgum sangat ditentukan oleh ketepatan waktu (baik
tanam maupun panen), cara panen dan penanganan pasca panen.
A. Panen
Tanaman sorgum sudah dapat dipanen
pada umur 3- 4 bulan tergantung varietas. Penentuan saat panen sorgum dapat
dilakukan dengan berpedoman pada umur setelah biji terbentuk atau dengan
melihat ciriciri visual biji. Pemanenan juga dapat dilakukan setelah terlihat
adanya ciri-ciri seperti daun-daun berwarna kuning dan mengering, biji-biji
bernas dan keras serta berkadar tepung maksimal.
Panen yang dilakukan terlambat atau
melampaui stadium buah tua dapat menurunkan kualitas biji. Biji-biji akan mulai
berkecambah bila kelembaban udara cukup tinggi. Pemanenan sebaiknya dilakukan
pada keadaan cuaca cerah/terang. Pada saat pemanenan sebaiknya pemotongan
dilakukan pada pangkal tangkai/malai buah sorgum dengan panjang sekitar 15 25
cm. Untuk meningkatkan produksi sorgum dapat dilakukan budidaya lanjutan dengan
cara ratun yaitu pemangkasan batang tanaman pada musim panen pertama yang
dilanjutkan dengan pemeliharaan tunas-tunas baru pada periode kedua.
Adapun tata cara budidaya sorgum
ratun setelah panen musim pertama adalah sebagai berikut :
1. Seusai panen pada musim pertama segera dilakukan
pemotongan batang yang tua tepat diatas permukaan tanah.
2. Tanah disekitar tanaman sorgum dibersihkan dari
rumput liar/gulma.
3. Di buatkan larikan kecil sejauh 10-15 cm dari
pangkal batang tanaman sorgum kemudian disebarkan pupuk yang terdiri dari 45 kg
Urea + 100 kg TSP + 50 kg KCl per hektar. Satu bulan kemudian diberikan pupuk
susulan berupa 90 kg Urea/ha.
4. Tanaman yang berasal dari tunas-tunas baru (ratun)
dipelihara dengan baik seperti pada pemeliharaan tanaman periode pertama.
5. Pada stadium buah tua dilakukan panen musim
kedua.
Hal yang sangat perlu diperhatikan
adalah tata cara pemotongan batang tanaman. Pemotongan harus tepat dilakukan
diatas permukaan tanah agar tunas-tunas baru tumbuh dari bagian batang yang
berada di dalam tanah.
B. Pasca Panen
1. Pengeringan
Pengeringan dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu dengan dijemur dibawah sinar matahari atau dengan menggunakan
mesin pengering. Lama penjemuran hingga biji sorgum berkadar air 12%-14% adalah
sekitar 60 jam.
2. Perontokkan
Biji sorgum dirontokan dari malainya
dengan cara diirik atau dapat pula dengan menggunakan mesin perontok. Biji
sorgum dibersihkan dari kotoran atau limbah (sekam) kemudian dijemur ulang
dengan disebarkan secara merata diatas lantai jemur.
3. Pewadahan dan Penyimpanan
Biji sorgum segera diwadahi dalam
karung, tiap karung sebaiknya berkapasitas 25 kg 50 kg, kemudian disimpan dalam
gudang penyimpanan yang kering dan berventilasi baik.
BAB IV
PENUTUP
Tanaman sorgum merupakan tanaman
yang termasuk ke dalam famili graminiae yaitu termasuk-masuk dalam
rumputt-rumputan. Tinggi tanaman gandum mencapai 6 meter. Bunga tanaman gandum
termasuk bunga sempurna, dimana kedua alat kelamin dari bunga terdapat dalam satu
bunga.
Lingkungan yang sesuai untuk tanaman
gandum yaitu 0-500 mdpl, semakin tinggi tempat akan memperlambat waktu
berbunga. Suhu terbaik untuk tanaman gandum yaitu 25-27° C, dan pH yang baik
untuk tanaman gandum yaitu 6-7,5.
Budidaya tanaman gandum meliputi
persiapan lahan, pemilihan varietas,penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca
panen.
DAFTAR
PUSTAKA
Beti, Y.A., A. Ispandi, dan Sudaryono. 1990. Sorgum.
Monografi. Balai Penelitian Tanaman Pangan, Malang.
Sudaryono. 1996. Prospek sorgum di Indonesia: Potensi,
peluang dan tantangan pengembangan agribisnis. Risalah Simposium Prospek
Tanaman Sorgum untuk Pengembangan Agroindustri, 17−18 Januari 1995. Edisi
Khusus Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian 4 : 25−38.