MAKALAH
BUDIDAYA TANAMAN PADI
KONVENSIONAL, SRI , JAJAR LEGOWO
DAN RATUN
OLEH:
RAHYUNI
1310211131
PROGRAM STUDI AGROKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015
“BUDIDAYA TANAMAN PADI”
Tujuan dari pembuatan makalah ini
sebagai tugas yang di berikan oleh dosen pengasuh mata kuliah teknologi
produksi tanaman pangan yaitu ibu Dr.Ir. Etti Swasti, MS.
Ditulis
oleh : Rahyuni
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Berkat rahmat dan
karunia-Nya Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan dan menyusun makalah ini,
dalam rangka memenuhi salah satu tugas Teknologi Produksi Tanaman Pangan I.
Penyusun
sudah berusaha dengan segala kemampuan untuk menyusun makalah ini dengan baik.
Meski demikian sebagai manusia biasa tidaklah selalu terlepas dari kesalahan
maupun kekurangan. Dalam penulisan makalah yang berjudul “Budidaya
Tanaman Padi” ini saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, tetapi saya tidak akan menyerah begitu saja, saya akan terus
berusaha mempersembahkan yang terbaik. Maka dari itu saya sangatlah
mengharapkan bantuan, bimbingan, arahan, serta motifasi., kritik dan saran yang
bersifat membangun guna mencapai hasil yang lebih baik lagi.
Atas
dukungan moral yang diberikan saya mngucapkan terima kasih kepada ibu Dr.Ir.
Etti Swasti, MP, selaku dosen pengasuh mata kuliah Teknologi Produksi Tanaman
Pangan I, penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
ikut membantu dalam kelancaran penyusunan makalah ini, dan mudah-mudahan
makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi saya dan umumnya bagi pembaca.
Ammin………..
DAFTAR ISI
Kata
pengantar......................................................................................................................
i
Daftar
isi.................................................................................................................................ii
Bab I.......................................................................................................................................
1
Bab II
.....................................................................................................................................
4
Bab III....................................................................................................................................
26
Daftar Pustaka
.....................................................................................................................
27
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Indonesia
merupakan suatu negara kepulaun yang begitu luas. luas daratan sekitar 188,20
juta ha dan memiliki kandungan sumber daya lahan yang sangat bervariasi. dari
luas daratan tersebut yang dapat digunakan sebagai lahan pertanian sekitar
100,7 juta yang meliputi lahan sawah tegalan lahan tanaman tahunan.
padi merupakan komoditi pangan utama di Indonesia
yang memiliki peran strategis. Padi merupakan tanaman pangan yang setelah
melalui berbagai proses akan mengasilkan beras. Beras merupakan bahan pangan
pokok yang vital bagi semua orang. Itulah sebabnya upaya pemenuhan kebutuhan
beras terus dilakukan melalui berbagai program, salah satunya adalah
intensifikasi. Intensifikasi padi dengan asupan pupuk kimia dalam jumlah besar
dabn jangka waktu yang lama , serta penggunaan bahan organik dalam sistem
produksi padi sawah telah mengakibatkan terganggunya keseimbangan hara tanah
yang berakibat terhadap penurunan ,ualitas sumber daya lahan. Upaya yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan produktvitas tanaman padi sawah adalah dengan
menciptakan lingkungan tumbuh yang optimal untuk setiap fase pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Teknologi yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada
peningkatan hasil, tetapi juga menekankan efisiensi penggunaan sarana produksi.
Salah
satu tantangan dalam pembangunan pertanian adalah adanya kecenderungan menurunnya
produktifitas lahan. Disisi lain sumberdaya alam terus menurun sehingga perlu
di upayakan untuk tetap menjaga kelestariannya. Demikian pula dalam usahatani
padi, agar usahatani dapat berkelanjutan maka teknologi yang diterapkan harus
memperhatikan faktor lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial
sehingga agribisnis padi dapat berlanjut.
Selama ini produksi padi nasional masih
mengandalkan sawah irigasi namun ke
depan bila hanya mengandalakn padi sawah irigasi akan menghadapi banyak
kendala. Hal tersebut disebabnkan banyaknya lahan sawah irigasi subur yang
beralih fungsi ke penggunaan lahan non-pertanian, tingginya biaya pencetakan
lahan sawah baru dan berkurangnya debit air. Dilain pihak, lahan kering
tersedia cukup luas dan pemanfaatannya untuk pertanaman padi gogo juga dapat di
jadikan andalan produksi padi nasional.
Salah
satu strategi dalam upaya pencapaian produktifitas usahatani padi adalah
penerapan inovasi teknologi yang sesuai dengan sumberdaya pertanian di suatu
tempat (spesifik lokasi). Teknologi
usahatani padi spesifik lokasi tersebut di rakit dengan menggunakan pendekatan
Pengelolaan Tanaman Terpadu.
PTT
padi merupakan suatu pendekatan inovatif dalam upaya peningkatan efisiensi
usahatani padi dengan menggabungkan komponen teknologi yang memiliki efek
sinergistik. Artinya tiap komponen teknologi tersebut saling menunjang dan
memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan produktivitas
tanaman.
Penanaman
padi termasuk dalam serangkaian kegiatan pembudidayaan tanaman padi. Penanaman
padi dilakukan dengan menanam bibit padi pada lahan yang telah di persiapkan
sebelummnya. Bibit padi yang ditanam haruslah bibit padi yang sehat agar produk
yang dihasilkan berkualitas. penanaman bibit padi yang tidak sehat akan
menyebabkan padi yang di hasilkan dapat terserang penyakit sehingga produk
menjadi tidak sehat.
Budidaya
padi sawah saat iµni secara umum masih menggunakan sistem konvensional.
Budidaya padi konvensional umumnya menggunakan jarak tanam yang rapat sehingga
membutuhkan benih dalam jumlah banyak (40 kg per hektar), dengan umur bibit tua
(30 hari) pada saat di pindahkan. Pada waktu pemindahan ke lahan, bibit dicabut
dan bagian atas dipotong dengan menanam 6 bibit per lubang tanam. Penggunaan
bibit yabng agak tua dabn sudah mempunyai banyak akar akan mengakibatkan bibit
mengalami stress dabn kerusakan akar. Jarak tanam yang rapat akan menyebabkan
jumlah anakan produktif yang rendah yang mengakibatkan produksi rendah dengan
rata-rata nasional 4-5 ton.
Budidaya
padi sistem konvensional melakukan penggenaan lahan. Penggenangan ini
menyebabkan proses reduktif yang melepaskan gas-gas rumah kaca antara lain
metan dan nitrous oksida sebesar 70,9 %.
Emisi
metan dari pertanian tanah sawah diperkirakan lebih dari 170 kg per tahun.
Lebih dari 90% metan terlepas dari tanah sawah ke atmosfer lewat tanaman padi,
karena tanaman padi mempunyai ruang arenkhima dan intersel sebagai media
pengangkutan metan dari tanah tereduksi ke atmosfer. Aplikasi pupuk terutama
urea pada kondisi tergenang menyebabkan terbentuknya gas N2O salah satu gas
rumah kaca.
Pelepasan
N2O terjadi akibat proses denitrifikasi. Tingkat emisi ini meningkat apabila
tanah pertanian tersebut dipupuk dan pupuk nitrogen seperti urea. Nitrogen yang
terdapat di pupuk urea ,dabn amonium sulfat (AS) mengalami denitrifikasi
menjadi N2O dan NO2 dengan tingkat emisi 1 ,0 dan 1 ,57%.
Emisi
gas metan pada lahan sawah irigasi teknis 1435 Gg per tahun , irigasi semi
teknis 354 Gg per tahun, irigasi sederhana 524 Gg per tahun, tadah hujan 136 Gg
per tahun , pasang surut 93 Gg per tahun dan lahan kering nol Gg per tahun,
sedangkan pada tanah digenangi kontiniu 1424 Gg per tahun dan alternasi
basah-kering 427 Gg. Salah satu cara budidaya yang dapat mengurangi atau
menurunkan gas metan dan nitrous oksida dari lahan sawah dengan menerapkan
budidaya padi dengan System of Rice Ibntensification (SRI).
Seperti
metode lainnya, SRI juga memiliki keunggulan antara lain: (1) semua varietas
benih dapat digunakan, (2) dapat meningkatkan produksi padi , (3) pengurangan
dalam pemakaian benih sampai 80-90% dan kebutuhan air 25-50% , (4) biaya
produksi turun 10-25 % , (5) pendapatan petani meningkat.
Hasil
penelitian Ardi (2009), budidaya System of Rice Intensification (SRI) dan
konvensional di desa Nagrak Sukabumi memperlihatkan SRI nyata lebih rendah
mengemisikan gas metan selama satu musim tanam sebesar 123 ,31 % dibandingkan
dengan konvensional, yang berarti SRI bukan hanya dapat mengurangi emisi gas
metan saja bahkan dapat menyerap (sink) CH4 sebesar 23 ,31%. Total emisi N2O
selama masa tanam adalah: konvensional 3 ,2 µgm-2 jam-1 dan SRI anorganik 2 ,24
µg m-2 jam-1, SRI lebih rendah mengemisikan N2O, tetapi pengurangannya tidak berbeda nyata di banding dengan
konvensional. SRI ternyata meningkatkan hasil produksi. Perlakuabn SRI
anorganik dapat meningkatkan produksi padi sebesar 27 ,44% dibanding dengan
perlakuan konvensional.
B.
TUJUAN
1) Untuk
mengetahui proses penanaman padi di lahan sawah
2) Untuk
mengetahui proses penanaman padi gogo
3) Untuk
mengetahui perbedaan budidaya padi secara konvensional, SRI, jajar legowo dan
ratun.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. TEKNIK
BUDIDAYA PADI SAWAH
Teknik
bercocok tanam yang baik sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai
dengan harapan. Hal ini harus dimulai dari awal, yaitu sejak dilakukan
persemaian sampai tanaman itu bisa dipanen. Dalam proses pertumbuhan tanaman
hingga berbuah ini harus dipelihara dengan baik, terutama harus diusahakan agar
tanaman terhindar dari serangan hama dan penyakit yang seringkali menurunkan
produksi.
1. Persemaian
Membuat persemaian
merupakan langkah awal bertanam padi. Pembuatan persemaian memerlukan suatu
persiapan yang sebaik-baiknya,sebab benih di persemaian ini akan menentukan
pertumbuhan padi di sawah,oleh karena itu persemaian harus benar-benar mendapat
perhatian,agar harapan untuk mendapatkan bibit padi yang sehat dan subur dapat
tercapai.
2. Persiapan
dan pengolahan tanah sawah
Pengolahan tanah
bertujuan mengubah keadaan tanah pertanian dengan alat tertentu hingga
memperoleh susunan tanah (struktur tanah) yang dikehendaki oleh tanaman.
Pengolahan tanah sawah terdiri dari:
a. Pembersihan
b. Pencangkulan
c. Pembajakan
d. Penggaruan
e. Perataan
3. Penanaman
Dalam penanaman bibit
padi, harus diperhatikan sebelumnya adalah:
a. Persiapan
lahan
Tanah yang sudah diolah
dengan cara yang baik, akhirnya siap untuk ditanami bibit padi.
b. Umur
bibit
Bila umur bibit sudah
cukup sesuai dengan jenis padi, bibit tersebut segera dapat dipindahkan dengan
cara mencabut bibit.
c. Tahap
penanaman
Tahap penanaman dapat
dibagi menjadi 2 bagian yaitu:
1) Memindahkan
bibit
Bibit di persemaian
yang telah berumur 17-25 hari (tergantung jenis padinya genjah atau dalam)
dapat segera dipindakan ke lahan yang telah disiapkan.
2) Menanam
Dalam menanam bibit
padi, hal-hal yang harus diperhatikan adalah
sistem larikan (cara tanam) ,jarak tanam ,hubungan tanam. Jumlah tanaman
tiap lobang ,kedalaman menanam bibit, cara menanam.
4. Pemeliharaan
Meliputi:
a. Penyulaman
dan penyiangan
Ada beberapa hal yang
harus diperhartikan dalam penyulaman yaitu bibit yang digunakan harus jenis
yang sama, bibit yang digunakan merupakan sisa bibit yang terdahulu,penyulaman
tidak boleh melewati 10 hari setelah tanam, selain tanaman pokok (tanaman
pengganggu) supaya dihilangkan.
b. Pengairan
Pengairan disawah dapat
dibedakan menjadi pengairan secara terus menerus dan pengairan secara periodik.
c. Pemupukan
Tujuannya adalah untuk
mencukupi kebutuhan tanaman yang berperan sangat penting bagi tanaman baik
dalam proses pertumbuhan atau produksi.
d. Pengendalian
hama dan penyakit
Pengendalian hama dan
penyakit tanaman padi meliputi gulma yang tumbuh di tanaman juga serangga dan
hama tikus yang menyerang tanaman padi jika sudah melewati ambang ekonomis.
Teknik
budidaya tanaman padi sawah meliputi secara konvensional,SRI,dan jajar
legowo.teknik budidaya tersebut akan di
jelaskan satu persatu sebagai berikut:
1. Teknik
budidaya secara konvensional
Teknik budidaya padi
secara konvensional meliputi:
1. Penyiapan
bibit padi (persemaian)
Membuat
persemaian merupakan langkah awal bertanam padi. Pembuatan persemaian
memerlukan suatu persiapan yang sebaik-baiknya, sebab benih di persemaian ini akan
menentukan pertumbuhan padi di sawah, oleh karena itu persemaian harus
benar-benar mendapat perhatian, agar harapan untuk mendapatkan bibit padi yang
sehat dan subur dapat tercapai. Persemaian dilakukan dengan menyebar benih padi
secara merata pada bedengan dengan kandungan air jenuh tetapi tidak menggenang.
Dalam tiga atau empat hari benih telah berkecambah. Tanaman muda yang berumur
tiga minggu siap dicabut dan dipindah ke lahan sawah. Bibit yang telah dicabut
, akan dikelompokkan kemudian diikat dan dibawa ke sawah.
2. Penyiapan
lahan (sawah)
Jika
musim hujan telah tiba,maka petani segera membuka lahan untuk musim tanam. Pada
saat ini dilakukan pengolahan tanah yang bertujuan mengubah keadaan tanah
pertanian dengan alat tertentu hingga memperoleh susunan tanah (struktur tanah)
yang dikehendaki oleh tanaman. Pengolahan tanah sawah terdiri dari beberapa tahap
seperti pembersihan, pencangkulan,pembajakan,penggaruan,pembersihan.
3. Penanaman
padi
Pada
proses ini, bibit padi yang telah berumur 17-25 hari (tergantung jenis padinya)
akan segera ditanam. Mula-mula bibit diatur sedemikian rupa (biasanya dijejerkan
dalam beberapa baris dan dijejerkan beraturan). Hal ini bertujuan untuk
memudahkan petani ketika menanam. Penanaman padi di sawah umumnya ditanam
dengan jarak teratur. Yang paling populer di pulau Jawa adalah berjarak 20 cm.
Tanaman muda ditancapkan kedalam tanah yang digenangi air sedalam 10-15 cm
hingga akarnya terbenam dibawah permukaan tanah.
4. Pemeliharaan
Setelah
ditanam, maka padi selanjutnya akan tumbuh dalam beberapa minggu. Pada saat ini
,padi harus ,mendapatkan pengairan yang cukup,harus dipupuk dan kebersihan
rumput-rumput liar. Pemberantasan hama dan tikus juga harus dilakukan, agar
tanaman padi tidak rusak.
5. Panen
padi
Padi
biasanya bisa dipanen setelah 4-5 bulan. Pada saat itu padi telah berisi dan
menguning. Di pedesaan, biasanya petani masih menggunakan arit atau celurit
untuk memotong padi. Setelah dipanen,kemudian,padi ,kemudian dipisahkan dari
batangnya dengan cara di gilas.
2. Teknik
Budidaya Jajar Legowo
Legowo
adalah cara tanam padi sawah yang memiliki beberapa barisan tanaman kemudian
diselingi oleh 1 baris kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir setengah
kali jarak tanaman pada baris tengah.
Cara
tanam jajar legowo untuk padi sawah secara umum bisa dilakukan dengan berbagai
tipe yaitu: legowo (2:1),(3:1) ,(4:1) ,(5:1) ,atau tipe lainnya. Namun dari
hasil penelitian , tipe terbaik untuk mendapatkan produksi gabah tertinggi
dicapai oleh legowo 4:1,dan untuk mendapatkan bulir gabah berkualitas benih
dicapai oleh legowo 2:1.
Pengertian
jajar legowo 4:1 adalah cara tanam yang memiliki 4 barisan kemudian diselingi oleh
1 barisan kosong dimana pada setiap baris pinggir mempunyai jarak tanam >2
kali jarak tanam pada barisan tengah. Dengan demikian,jarak tanam pada tipe
legowo 4:1 adalah 20 cm (antar barisan dan pada barisan tengah) x 10 cm
(barisan pinggir) x 40 cm (barisan kosong).
Pengertian
jajar legowo 2:1 adalah cara tanam yang memiliki 2 barisan kemudian diselingi
oleh 1 barisan kosong dimana pada setiap baris pinggir mempunyai jarak tanam
antar barisan. Dengan demikian, jarak tanam pada tipe legowo 2:1 adalah 20 cm
(antar barisan) x 10 cm (barisan pinggir) x 40 cm (barisan kosong).
Modifikasi
jarak tanam pada cara tanam legowo bisa dilakukan dengan berbagai pertimbangan.
Secara umum , jarak tanam yang dipakai adalah 20 cm dan bisa dimodifikasi menjadi 22 ,5 cm atau 25 cm
sesuai pertimbangan varietas padi yang akan ditanam atau tingkat kesuburan tanahnya.
Jarak
tanam untuk padi yang sejenis dengan varietas IR-64, seperti varietas ciherang cukup
dengan jarak 20 cm, sedangkan untuk varietas padi yang punya penampilan lebih
lebat dan tinggi perlu diberi jarak tanam yang lebih lebar misalnya antara 22
,5-25 cm.
Demikian
pula pada tanah yang kurang subur cukup digunakan jarak tanam 20 cm, sedangkan
pada tanah yang lebih subur perlu diberi jarak tanam yang lebih lebar, misalnya 22,5 cm atau pada tanah yang
sangat subur jarak tanamnya 25 cm. Pemilihan ukuran jarak tanam bertujuan agar
mendapat hasil yang optimal.
Tujuan
cara tanam jajar legowo adalah:
·
Memanfaatkan sinar matahari bagi tanaman
yang berada pada pinggir barisan,semakin banyak sinar matahari yang mengenai
tanaman,maka proses fotosintesis oleh daun tanaman akan semakin tinggi sehingga
akan mendapatkan bobot buah yang lebih berat.
·
Mengurangi kemungkinan serangan hama,
terutama tikus. Pada lahan yang relatif terbuka,hama tikus kurang suka tinggal
didalamnya.
·
Menekan serangan penyakit, pada lahan
yang relatif terbuka, kelembaban akan semakin berkurang,sehingga serangan
penyakit juga akan berkurang.
·
Mempermudah pelaksanaan pemupukan dan
pengendalian hama atau penyakit. Posisi orang yang melaksanakan pemupukan dan
pengendalian hama atau penyakit bisa leluasa pada barisan kosong diantara 2 barisan
legowo.
·
Menambah populasi tanaman,misal pada
legowo 2:1, populasi tanaman akan bertambah sekitar 30%. Bertambahnya populasi
tanaman akan memberikan harapan peningkatan produktifitas hasil.
Keuntungan
jajar legowo:
1. Semua
barisan rumpun tanaman berada pada bagian pinggir yang biasanya memberi hasil
lebih tinggi.
2. Lebih
mudah untuk mengendalikan hama,penyakit dan gulma
3. Menyediakan
ruang kosong untuk pengaturan air,saluran pengumpul keong emas atau mina padi
4. Penggunaan
pupuk lebih berdaya guna
Teknik
penerapan budidaya padi legowo:
1. Pembuatan
baris tanam
Persiapkan alat garis
tanam dengan ukuran jarak tanam yang dikehendaki. Bahan untuk alat garis tanam
bisa digunakan kayu atau bahan lain yang tersedia serta biaya terjangkau. Lahan
sawah yang telah siap ditanami,1-2 hari sebelumnya dilakukan pembuangan air
sehingga lahan dalam keadaan macak-macak. Ratakan dan datarkan sebaik mungkin.
Selanjutnya dilakukan pembentukan garis tanam yang lurus dan jelas dengan cara
menarik alat garis tanam yang sudah dipersiapkan sebelumnya serta dibantu
dengan tali yang dibentang dari ujung ke ujung lahan.
2. Tanam
Umur bibit padi yang
digunakan sebaiknya kurang dari 21 hari. Gunakan 1-3 bibit per lubang tanam
pada perpotongan garis yang sudah terbentuk. Cara laju tanam sebaiknya maju
agar perpotongan garis untuk lubang tanam bisa terlihat dengan jelas. Namun
apabila kebiasaan tanam mundur juga tidak menjadi masalah,yang penting populasi
tanaman yang ditanam dapat terpenuhi. Pada alur pinggir kiri dan kanan dari
setiap barisan legowo, populasi tanaman ditambah dengan cara menyisipkan
tanaman diantara 2 lubang tanam yang tersedia. Pemupukan pada legowo 2:1 boleh
dengan cara ditabur ditengah alur dalam barisan legowonya.
3. Pemupukan
Pemupukan dilakukan
dengan cara tabur. Posisi orang yang
melakukan pemupukan berada pada barisan kosong diantara 2 barisan legowo. Pupuk
ditabur ke kiri dan ke kanan debngan merata, sehingga 1 kali jalan dapat
melakukan pemupukan 2 barisan legowo,khusus cara pemupukan pada legowo 2:1 boleh dengan cara ditabur di tengah alur dalam
barisan legowonya.
4. Penyiangan
Penyiangan bisa
dilakukan dengan tangan atau dengan menggunakan alat siang seperti landak atau
gasrok. Apabila penyiangan dilakukan dengan alat siang, cukup dilakukan kesatu
arah sejajar legowo dan tidak perlu dipotong seperti penyiangan pada cara tanam
bujur sangkar. Sisa gulma yang tidak tersiang dengan alat siang di tengah
barisan legowo bisa disiang dengan tangan, bahkan sisa gulma pada barisan
pinggir legowo sebenarnya tidak perlu diambil karena dengan sendirinya akan
kalah persaingan dengan pertumbuhan tanaman padi.
5. Pengendalian
hama dan penyakit
Pada pengendalian hama
dan penyakit dengan menggunakan alat semprot atau handsprayer. Posisi orang
berada pada barisan kosong diantara 2 barisan legowo. Penyemprotan diarahkan ke
kiri dan ke kanan dengan merata,sehingga
1 kali jalan dapat melakukan penyemprotan 2 barisan legowo.
3. Prinsip
Budidaya Padi Metode SRI
1. Tanam
bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (HSS) ketika bibit masih
berdaun 2 helai.
2. Tanam
bibit satu lubang satu bibit dengan jarak tanam lebar 30x30 cm, 35x35 cm atau
lebih jarang lagi
3. Pindah
tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar
akar tidak putus dan di tanam dangkal
4. Pemberian
air maksimum 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai pecah
(irigasi berselang atau terputus)
5. Penyiangan
sejak awal sekitar umur 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari.
Sedapat mungkin menggunakan pupuk organik.
Keunggulan
metode SRI
1. Tanaman
hemat air, selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen pemberian air
maksimum 2 cm paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan
sampai tanah retak (irigasi terputus)
2. Hemat
biaya, hanya butuh benih 5 kg per hektar, tidak butuh biaya pencabutan bibit,
tidak butuh biaya pindah bibit, tenaga tanam berkurang dan lain-lain
3. Hemat
waktu ditanam, bibit muda 5-12 hari setelah semai dan waktu panen akan lebih
awal
4. Produksi
meningkat di beberapa tempat mencapai mencapai 11 ton per hektar
5. Ramah
lingkungan, secara bertahap penggunaan pupuk kimia (urea,SP36,KCl) akan
dikurangi dan digantikan dengan menggunakan pupuk organik (kompos,kadang dan
MOL) begitu juga penggunaan pestisida
Teknis Budidaya SRI
·
Pengolahan tanah
Untuk mendapatkan media tumbuh metode tanam padi SRI
yang baik, maka lahan diolah seperti menanam padi metode biasa yaitu tanah
dibajak sedalam 25-30 cm sambil membenamkan sisa-sisa tanaman rumput-rumputan,
kemudian digemburkan dengan garu ,lalu diratakan sebaik mungkin sehingga saat
diberikan air ketinggiannya dipetakan sawah akan merata.
·
Parit
Pada petak SRI perlu dibuat parit keliling dan
melintang petak untuk membuang kelebihan air. Letak dan jumlah parit pembuang
disesuaikan dengan bentuk dan ukuran petak,serta dimensi saluran irigasi
·
Pemilihan benih yang baik
Untuk mendapatkan benih yang bermutu baik atau
bernas ,dengan metode SRI,harus terlebih dahulu diadakan pengujian benih.
Pengujian benih dilakukan dengan cara penyeleksian menggunakan larutan air
garam,yang langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
ü Masukkan
air bersih ke dalam ember atau panci, kemudian berikan garam dan aduk sampai
larut. Jika telur itik belum mengapung maka perlu penambahan garam kembali.
Pemberian garam diangggap cukup apabila posisi telur itik mengapung pada
permukaan larutan garam.
ü Masukkan
benih padi yang akan diuji kedalam ember
atau panci yang berisi larutan garam. Aduk benih padi selama kira-kira 1 menit.
ü Pisahkan
benih yang mengambang dengan yang tenggelam. Benih yang tenggelam adalah benih
yang bernas.
ü Benih
yang baik atau bernas ini kemudian dicuci dengan air biasa sampai bersih.
Dengan indikasi bila digigit benih sudah tidak terasa garam.
·
Perendaman benih
Benih yang telah diuji tersebut,kemudian direndam
dengan menggunakan air biasa. Perendaman ini bertujuan untuk melunakkan sekam
gabah sehingga dapat mempercepat benih untuk berkecambah. Perendaman dilakukan selama
24-48 jam
·
Penganginan benih
Benih yang telah direndam kemudian diangkat dan
dimasukkan kedalam karung yang berpori-pori atau wadah tertentu dengan tujuan
untuk memberikan udara masuk kedalam benih padi, dan kemudian disimpan ditempat
yang lembab. Penganginan dilakukan selama 24 jam
·
Persemaian benih
Persemaian dengan meode SRI dilakukan dengan
mempergunakan nare atau tampah atau besek atau juga hamparan sawah,hal ini
dimaksudkan untuk mempermudah penanaman.
Pembuatan media persemaian dengan metode SRI dapat
dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mencampur
tanah, pasir dengan pupuk organik dengan perbandingan 1:1:1
2. Sebelum
nare atau tampah tempat pembibitan diisi
dengan tanah,pasir yang sudah dicampur dengan pupuk organik terlebih dahulu
dilapisi dengan daun pisang dengan harapan untuk mempermudah pencabutan dan
menjaga kelembaban tanah ,kemudian tanah dimasukkan dan disiram dengan air sehingga
tanah mebnjadi lembab
3. Benih
yang sudah dianginkan ini,ditaburkan kedalam nare yang berisi tanah.
4. Setelah
benih ditabur, kemudian ditutup dengan lapisan tanah yang tipis.
5. Persemaian
dapat diletakkan pada tempat-tempat tertentu yang aman dari gangguan ayam atau
binatang lain.
6. Selama
masa persemaian, pemberian air dapat dilakukan setiap hari agar media tetap
lembab dan tanaman tetap segar.
·
Peyaplakan
Sebelum penanaman terlebih dahulu dilakukan
penyaplakan dengan memakai caplak agar jarak tanam pada areal persawahan
menjadi lurus dan rapi sehingga mudah untuk disiang. Caplak berfungsi sebagai
penggaris dengan jarak tertentu. Variasi jarak tanam diantaranya: jarak tanam
30x30 cm, 35x35 cm atau jarak tertentu lainnya.
Penyaplakan dilakukan secara memanjang dan melebar.
Setiap pertemuan garis hasil garis penyaplakan adalah tempat untuk penanaman 1
bibit padi
·
Penanaman dengan metode SRI
Penanaman dengan metode SRI dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Bibit
yang ditanam harus berusia muda, yaitu kurang dari 12 hari setelah semai yaitu
ketika bibit masih berdaun 2 helai
2. Bibit
padi ditanam tunggal atau 1 bibit perlubang
3. Penanaman
harus dangkal dengan kedalaman 1-1,5 cm serta perakaran saat penanaman seperti
huruf L dengan kondisi tanah sawah saat
penanaman tidak tergenang air
·
Pemupukan
Ada 2 perlakuan dengan menggunakan pupuk anorganik
(kimia) murni dan organik
·
Pemupukan kimia
Takaran pupuk mengikut anjuran Dinas Pertanian atau
kebiasaan petani setempat. Diantaranya:
ü Pemupukan
I pada umur 7-15 HST dengan dosis Urea 100 kg per hektar, SP36 50 kg per hektar
ü Pemupukan
II pada umur 25-30 HST dengan dosis Urea 50 kg per hektar, Phonska 100 kh per
hektar
ü Pemupukan
III pada umur 40-45 HST dengan dosis Urea 50 kg per hektar, ZA 50 kg per hektar
·
Pemupukan organik
MOL yang disemprotkan terbuat dari bahan-bahan
sebagai berikut:
1. Penyemprotan
I, dilakukan pada saat umur 10 HST,dengan mempergunakan mol yang terbuat dari
daun gamal,dengan dosis 14 liter pr hektar
2. Penyemprotan
II , dilakukan pada saat umur 20 HST, dengan mempergunakan mol yang terbuat
dari batang pisang dengan dosis 30 liter per hektar
3. Penyemprotan
III dilakukan pada saat umur 30 HST dengan mempergunakan mol yang terbuat dari
urine sapi dengan dosis 30 liter per hektar
4. Penyemprotan
IV dilakukan pada saat umur 40 HST dengan mempergunakan mol yang terbuat dari
batang pisang dengan dosis 30 liter per hektar
5. Penyemprotan
V dilakukan pada saat umur 50 HST dengan mempergunakan mol yang terbuat dari
serabut kelapa dengan dosis 30 liter per hektar
6. Penyemprotan
VI dilakukan pada saat umur 60 HST dengan mempergunakan mol yang terbuat dari
buah-buahan dan sayur-sayuran dengan dosis 30 liter per hektar
7. Penyemprotan
VII dilakukan pada saat umur 70 HST
dengan mempergunakan mol yang terbuat dai terasi dengan dosis 30 liter per
hektar
8. Penyemprotan
VIII dilakukan pada saat umur 80 HST dengan mempergunakan mol yang terbuat dari
terasi dengan dosis 30 liter per hektar
·
Pemberian air
Pemberian air dengan cara terputus-putus dengan
ketinggian air dipetakan sawah maksimum 2 cm, paling baik macak-macak (0,5 cm).
Pada periode tertentu petak sawah harus dikeringkan sampai pecah-pecah.
Pemberian air terlalu tinggi akan menyebabkan pertumbuhan akar terganggu dan
pertumbuhan tunas tidak optimal
·
Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan mempergunakan alat
penyiang jenis landak atau dengan alat jenis apapun dengan tujuan untuk membasmi gulma dan sekaligus
penggemburan tanah.penyiangan dengan gasrok selain dapat mencabut rumput juga
dapat menggemburkan tanah dicelah-celah tanaman padi. Penggemburan tanah
bertujuan agar tercipta kondisi aerob di dalam tanah yang dapat berpengaruh
baik bagi akar-akar tanaman padi yang ada di dalam tanah. Penyiangan dilakukan
minimal 3 kali. Penyiangan pertama dilakukan pada umur 10 hari setelah tanam
dabn selanjutnya penyiangan kedua dilakukan pada umur 30 HST daditabnn
pebnyiangan ke empat pada umur 40 HST.
·
Pengendalian hama dan penyakit
ü Lokasi
SRI anorganik
a. Pengendalian
hama dan penyakit di lokasi demplot SRI dikendalikan dengan konsep PHT, dengan
cara mempergunakan varietas benih yang sehat dan resisten terhadap hama dan
penyakit, menanam secara serentak serta mempergunakan pestisida secara selektif
b. Penggunaan
pestisida hanya dilakukan sebagai langkah terakhir, bila ternyata serangan hama
penyakit belum dapat diatasi
ü Lokasi
SRI organik
a. Pengendalian
hama trip menggunakan pestisida nabati
yang terbuat dari daun sere dan bawang putih
b. Pengendalian
belalang penggerek batang mempergunakan pestisida nabati yang terbuat buah
mahoni daun tembakau dan daun suren
c. Pengendalian
wereng mempergunakan pestisida nabati dan hewani yang terbuat dari daun
titonia, daun tembakau dan urine sapi yang sudah di fermentasi
·
Panen
Panen dilakukan setelah tanaman tua ditandai dengan
menguningnya bulir secara merata. Bulir padi juga tidak akan berair apabila
dicoba untuk di gigit. Panen dengan metode SRI biasanya lebih awal dibandingkan
dengan metode yang lain jika di hitung dari umur panen
4.
BUDIDAYA PADI
RATUN
Peningkatan produksi padi dapat dicapai melalui
peningkatan indeks panen dan
peningkatan
produksi tanaman setiap musim tanam. Padi Ratun merupakan salah satu alternatif
yang dapat dikembangkan oleh petani sebagai tanaman setelah padi pertama dipanen,
karena padi ratun lebih hemat sumberdaya dan lebih singkat.
. Dalam keterbatasan sumberdaya,
budidaya padi ratun ini dapat dijadikan sebagai alternatif untuk meningkatkan
indeks tanam per tahun, misalnya dari 1 kali menjadi 2 kali atau dari 2 kali
menjadi 3 kali tanam dalam satu tahun.
Beberapa
keuntungan padi ratun, antara lain, adalah:
Tanpa pengolahan tanah, penyemaian,
dan penanaman lagi
Tenaga kerja yang dibutuhkan lebih
sedikit
Waktu untuk mencapai panen singkat
Kebutuhan air irigasi lebih sedikit
Biaya produksi menjadi lebih murah
Persyaratan teknis yang dibutuhkan adalah di wilayah
tersebut masih tersedia air irigasi setelah tanaman utamanya dipanen, dan
pengairannya dapat diatur dengan baik. Pada dasarnya membudidayakan padi ratun
sangat mudah karena dengan memotong dan membiarkan tunggul sisa panen, tunas
akan tumbuh. Akan tetapi, tentu pertumbuhan ratun tidak baik dan hasilnya
sangat rendah. Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil yang baik,teknik
budidaya yang baik perlu diterapkan, baik atau tidaknya padi ratun sangat
bergantung kepada pengelolaan padi pertamanya, misalnya pengolahan tanah,
perataan, sistem tanam, pengelolaan gulma. Perataan tanah yang baik akan
memudahkan pengelolaan air, sehingga tanaman tumbuh seragam. Padi ratun adalah
tanaman padi yang merupakan tunas yang tumbuh dari tunggul batang yang telah dipanen
dan menghasilkan anakan baru hingga dapat dipanen Pada umumnya tunas-tunas baru
akan muncul pada ruas terdekat dari bekas potongan, kurang lebih tiga hari setelah
batang padi dipotong. Padi ratun memang tidak seperti padi tanam pindah. Pada umumnya
pertumbuhan dan kecepatan kematangan padi ratun tidak seragam, dan hasil yang
diperoleh lebih rendah jika dibandingkan dengan tanaman utamanya (transplanting).
Akan tetapi, dengan teknik budidaya yang lebih baik, produksi padi ratun bisa
ditingkatkan dan keuntungan yang lebih banyak juga bisa dicapai. Sebelum panen
biasanya sawah dikeringkan untuk menyeragamkan kematangan. Untuk keperluan padi
ratun, pengeringan dimaksudkan untuk memperbaiki aerasi tanah, dan menekan
perkembangan hama dan penyakit dalam tanah. Padi pertama yang ditanam dengan
sistem tanam jajar legowo lebih baik jika dibandingkan dengan sistem tegel.
Jajar legowo yang dikenal baik karena populasi tanamannya lebih banyak, terdapat
lorong lebar yang membuat lebih mudah dalam pelaksanaan pekerjaan. Dengan
adanya lorong lebar, kerusakan batang jerami pada saat panen dan pemotongan
jerami dapat dihindari, dengan cara orang yang memanen harus berjalan sepanjang
lorong itu. Saat terbaik untuk panen tanaman padi yang dipersiapkan untuk padi
ratun adalah pada saat tangkai atau batang jerami masih hijau, bulir padi belum
matang penuh dan kering. Sebagai patokan, lakukan pemanenan 5 hari sebelum umur
panen seperti tertera pada diskripsi varietas. Hal ini penting karena pada
kondisi seperti itu, batang padi secara fisiologis masih aktif untuk pertumbuhan
anakan ratun.
Jika
panen dilakukan terlambat akan menyebabkan daya tumbuh tunas berkurang, dan banyak
benih padi yang gugur dan pada saat tumbuh nanti justru akan menjadi gulma.
Oleh karena itu, setelah padi dipanen, sawah segera digenangi. Penggenangan
setinggi ± 5 cm selama 2-3 hari, dan kemudian air dikeluarkan lagi. Penggenangan
dimaksudkan untuk menjaga agar tanah tetap lembab sehingga batang padi yang
masih berdiri tidak kering. Ada kalanya, pada saat panen air tanah masih pada kapasitas
lapang. Jika kondisinya demikian maka tidak perlu lagi digenangi karena sudah
cukup. Padi ratun diusahakan dengan ketinggian pemotongan yang berbeda, yaitu:
a) Padi ratun biasa yang dipotong tinggi,
b)
Padi ratun dipotong pendek.
Jika
kondisi lahan sawah terdapat banyak gulma, maka gulma dibersihkan secara
manual. Pembersihan gulma ini penting karena jika tidak dibersihkan, setelah
jerami dipotong dan lahan terbuka, gulma akan tumbuh lebih cepat dibandingkan
tanaman ratun. Pembersihan gulma ini dimaksudkan bukan hanya untuk mengurangi
kompetisi antara gulma dengan padi ratun, tetapi juga untuk menekan berkembangnya
hama dan penyakit. Pembersihan gulma yang lebih awal ini juga Padi ratun
pendek, sisa batang padi dipotong lagi pada ketinggian 2-5 cm di atas permukaan
tanah. Pemotongan dilakukan 7 hari setelah panen. Pada saat pemotongan ini,
keadaan sawah dipastikan tidak tergenang. Pemotongan dilakukan seragam sama
tinggi agar pertumbuhan ratun juga seragam. Potongan-potongan jerami diletakkan
di sekitar tunggul tanaman sehingga menjadi mulsa yang dapat menekan
pertumbuhan gulma pada awal pertumbuhan padi ratun. Mulsa jerami ini akan menjadi
bahan organik yang kelak menambah kesuburan tanah. Jerami jangan menutup
tunggul batang padi. Jika hal itu terjadi maka tunas baru tidak akan tumbuh. Keuntungan
ratun pendek secara teknis, yaitu:
Anakan tumbuh lebih banyak.
Anakan tumbuh dari bawah sehingga
akar baru juga akan tumbuh, dan suplei hara tidak bergantung kepada batang
lama.
Ada pengembalian potongan jerami ke
lahan
sawah
sebagai mulsa dan bahan organik.
Kurang lebih 7 hari setelah pemotongan batang jerami, tunas-tunas baru sudah
tumbuh merata menjadi
anakan padi. Saat itu lahan sawah sudah dapat
diairi seperti halnya pada tanaman biasa (transplanting). Penggenangan dimaksudkan bukan
hanya untuk memenuhi
kebutuhan air bagi tanaman padi, tetapi
juga untuk menekan pertumbuhan gulma, terutama
gulma daun sempit.
Pada dasarnya semua tanaman untuk pertumbuhannya
membutuhkan unsur hara yang
cukup.
Kekurangan unsur hara menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat dan pada akhirnya
gabah yang dihasilkan juga rendah.
Pada padi ratun pendek, gulma tumbuh lebih lambat
karena tertutup oleh mulsa sisa potongan jerami. Gulma yang tumbuh bukan hanya
tanaman liar, tetapi juga bulir padi panenan pertama yang gugur. Pengaturan air
pada awal pertumbuhan merupakan kunci utama untuk penumbuhan tunas dan anakan. Sebelum
tunas tumbuh secara merata, tidak boleh dilakukan penggenangan sebab dapat menyebabkan
pertumbuhan tunas terlambat dan bahkan tunggul dapat menjadi busuk. Untuk padi
ratun yang utama adalah Nitrogen. Pupuk urea (N) diberikan dua kali. Pertama,
pada umur 10-12 hari setelah pemotongan tunggul, atau setelah sebagian besar
tunas baru sudah muncul kepermukaan. Berikan dengan jumlah 1/2 dosis. Pemupukan
awal ini dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tunas-tunas baru lebih cepat dan
banyak. Sisanya yang ½ bagian diberikan pada umur tanaman 25 - 30 hari setelah
pemotongan. Padi ratun pendek (2-5 cm), penjarangan dan penyisipan dapat
dilakukan untuk mengganti tunggul yang tidak tumbuh. Penyisipan dilakukan saat
tanaman berumur 14 hari sampai 20 hari. Untuk menyisip digunakan rumpun yang
anakannya banyak. Ambil sebagian dari rumpun tersebut dan tanam pindahkan untuk
mengganti yang kosong atau tidak tumbuh. Pada padi ratun yang dipotong pendek,
penyiangan tidak dapat dilakukan dengan landak, karena di sekitar tanaman terdapat
potongan jerami sehingga menyulitkan penggunaan alat. Penyiangan dengan landak menyebabkan
jerami akan terdorong dan terkumpul di satu tempat. Oleh karena itu, penyiangan
dilakukan secaramanual dengan tangan. Perkembangan rumpun padi ratun pendek umur
21 hari dan 28 hari setelah panen padi pertama Padi ratun umur 45 hari Padi
ratun umur 70 hari Bersamaan dengan penyiangan dilakukan pembenaman
jerami.
Pembenaman sisa jerami dimaksudkan agar prosespelapukan jerami lebih cepat.
Pembenaman dilakukan dengan cara menginjak-injak sehingga tanah akan menjadi lumpur.
Penyiangan
dan pembenaman jerami dilakukan pada umurtanaman 20-25 hari, atau dengan
memperhatikan kondisi gulma, yaitu apabila gulma telah menduduki 2/3 dari
luasareal.
B. BUDIDAYA
PADI GOGO
1. TEKNIK BUDIDAYA
A. Pemilihan
Varietas
Hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam menentukan varietas padi gogo untuk diusahakan di
suatu daerah antara lain adalah;
1.
Kesesuaiannya terhadap lingkungan tumbuh (ketinggian tempat, iklim),
2. Umur
tanaman yang erat kaitannya dengan curah hujan yang ada dan pola tanam,
3. Ketahanan
terhadap hama dan penyakit,
4.
Produktivitas.
Sedangkan
syarat benih yang baik:
a) Tidak
mengandung gabah hampa, potongan jerami, kerikil, tanah dan hama gudang.
b) Warna
gabah sesuai aslinya dan cerah.
c) Bentuk
gabah tidak berubah dan sesuai aslinya.
d) Daya
perkecambahan >80%.
B.
Pengolahan Lahan
Pengolahan
tanah untuk pertanaman padi gogo dimulai sebelum atau menjelang musim penghujan.
Pengolahan tanah dilakukan sesuai kondisi lahan. Pada prinsipnya pengolahan
tanah dilakukan untuk menciptakan kondisi yang optimal bagi pertumbuhan
tanaman, yaitu menciptakan keseimbangan antara padatan, aerasi dan kelembaban
tanah. Ada lahan yang perlu pengolahan tanah sedikit (minimum tillage) atau
bahkan tidak perlu pengolahan tanah (zerro tillage) seperti
tanah podzolik merah Kuning di Sumatra yang memiliki tingkat kemiringan >
10%. Karena jika dilakukan pengolahan tanah justru akan merugikan disamping
menambah biaya juga menyebabkan tanah lebih peka terhadap erosi sehingga
kesuburannya menurun. Demikian pula hasil padi yang diperoleh antara sistem
olah tanah sempurna dengan oleh tanah minimum tidak berbeda nyata, sehingga
sistem olah tanah minimum lebih ekonomis. Cara pengolahan tanah adalah sebagai
berikut:
1. Lahan
dibersihkan dari tanaman penggangu dan rumput sambil memperbaiki pematang dan
saluran drainase.
2. Tanah
dibajak dua kali pada kedalaman 25-30 cm, tanah dibalik.
3. Pemupukan
organik diberikan pada waktu pembajakan yang kedua sebanyak 20 ton/ha.
4. Untuk
menghaluskan tanah, tanah digaru lalu diratakan.
5. Tanah
dibiarkan sampai hujan turun.
Dalam
budidaya tanpa olah tanah untuk mengendalikan gulma digunakan herbisida.
Sebelum aplikasi herbisida dilakukan, gulma (terutama alang-alang) direbahkan
atau dibakar terlebih dahulu, setelah tumbuh sekitar 60 cm (tidak sedang
berbunga) baru diadakan penyemprotan. Takaran herbisida jenis Roundup antara
5-6 l/ha dengan pelarut air antara 200-800 l/ha.
C. Waktu
tanam
Penaman yang
baik dilakukan setelah terdapat 1 – 2 kali hujan, awal musim penghujan (Oktober
– Nopember). Bahkan ada petani yang telah menebar benih pagi gogo sebelum hujan
turun atau yang lebih dikenal dengan sistem Sawur tinggal. Sistem
tanam sawur tinggal dapat dianjurkan pada daerah-daerah yang
memiliki curah hujan sedikit (bulan basah antara 3 – 4 bulan) per tahun dan
sulit mendapatkan tenaga kerja.
D. Penanaman
Penanaman
padi gogo pada dasarnya dapat dilakukan dengan tiga macam cara yaitu :
1. Cara
tanam disebar
Cara tanam
ini dilakukan dengan menyebar rata diatas permukaan tanah atau lahan yang telah
dipersiapkan terlebih dahulu. Kebutuhan benih pada cara ini biasanya lebih
banyak dibandingkan cara yang lain, yaitu berkisar 60 – 70 kg/ha. Cara tanam
ini mempunyai keuntungan tenaga kerja tanam yang dibutuhkan sedikit. Kelemahan
dari cara ini antara lain :
ØMemerlukan
benih lebih banyak
ØResiko
benih dimakan hama lebih tinggi, karena di permukaan
ØTanaman
lebih peka terhadap kekeringan atau kekurangan air.
ØResiko
benih hanyut jika terjadi hujan lebat lebih tinggi
ØLebih sulit
dalam perawatan, termasuk pengendalian gulma.
Untuk
mengurangi resiko atau kelemahan tersebut maka perlu dilakukan antisipasi
seperti pembuatan saluran drainase atau parit-parit sehingga terbentuk
bedeng-bedeng untuk mencegah genangan air. Guna mengendalikan rumput sebaiknya
diaplikasikan herbisida pra tumbuh sebelum sebar benih. Penggunaan seed
treatment untuk menanggulangi hama.
2. Cara
tanam alur
Lahan yang
telah dipersiapkan dibuat alur-alur sedalam 3 – 4 cm, dengan jarak antar alur
20 – 25 cm. Kemudian dalam alur tersebut disebarkan benih padi secara iciran,
artinya benih padi dijatuhkan secara manual dengan tangan dan diatur sedemikian
rupa sehingga benih jatuh dalam alur tersebut secara merata. Setelah itu benih
dalam alur ditutup kembali dengan tanah. Kebutuhan benih cara tanam alur ini
berkisar antara 40 – 50 kg/ha, jadi lebih sedikit dibandingkan dengan sistem
sebar.
3. Cara
tanam tugal
Pada cara
tanam ini lahan yang sudah siap dibuat lubang-lubang tanam dengan menggunakan
tugal. Pada umumnya untuk pertanaman padi gogo menggunakan jarak tanam 20 x 20
cm. Setelah lubang bekas tugal terbentuk kemudian 2 – 3 butir benih dimasukkan
ke dalam setiap lubang tanam dan selanjutnya ditutup kembali dengan tanah.
Sebaiknya sebelum ditanam benih direndam sekitar 6 – 12 jam, kemudian
dikeringanginkan sekitar 6 – 12 jam. Pada cara tanam dengan tugal ini kebutuhan
benihnya ± 30 kg/ha, dan perawatan tanaman akan lebih mudah. Oleh karena itu
cara ini yang paling banyak dipraktekkan oleh petani meskipun memerlukan tenaga
kerja tanam lebih banyak dibandingkan cara sebat atau alur.
Jarak tanam
atau jarak antar larik dan jumlah benih/lubang/ha sangat tergantung pada tingkat
kesuburan tanah dan kualitas benih yang ditanam. Semakin subur tanah, jarak
tanam dapat semakin rapat. Demikian pula, semakin baik kualitas benih, maka
semakin sedikit jumlah benih yang diperlukan. Jarak tanam, jumlah benih dan
cara tanam dapat berpengaruh terhadap hasil padi gogo di lahan kering.
E.
Pemeliharaan
1.
Penyiraman
Penyulaman
Padi Gogo dilakukan pada umur 1-3 minggu setelah tanam.
2.
Penyiangan
Dilakukan
secara mekanis dengan cangkul kecil, sabit atau dengan tangan waktu tanaman
berumur 3-4 minggu dan 8 minggu. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan
penyiangan pertama dan 1-2 minggu sebelum muncul malai.
3. Pemupukan
Pupuk yang
digunakan dalam budidaya padi gogo sebaiknya dikombinasikan antara pupuk
organik dan pupuk anorganik. Pemberian pupuk organik (pupuk kandang atau
kompos), dapat memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Sedangkan pemberian
pupuk anorganik yang dapat menyediakan hara dalam waktu cepat, pada dosis yang
sesuai kebutuhan tanaman berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan hasil.
Pupuk organi
diaplikasikan pada saat penyiapan lahan. Pupuk ini dipakai untuk meningkatkan
kandungan C organik tanah dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme tanah.
Dosis pupuk pada pertanaman padi gogo harus disesuaikan dengan tingkat kesuburan
tanahnya. Jenis pupuk anorganik yang diberikan berupa 150-200 kg/ha Urea, 75
kg/ha TSP dan 50 kg/ha KCl. Pupuk TSP dan KCl diberikan saat tanam dan urea
pada 3-4 minggu dan 8 minggu setelah tanam. Pupuk urea , TSP maupun KCl
sebaiknya diberikan dalam alur atau ditugal kemudian ditutup kembali dengan
tanah untuk mencegah kehilangan unsurnya.
4. Pengendalian Organisme Pengganggu
Tanaman
a.
Pengendalian gulma
Gulma yang
tumbuh pada pertanaman padi gogo di lahan kering dapat digolongkan menjadi
golongan gulma berdaun lebar, golongan rumput dan golongan teki. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa akibat pengendalian gulma yang terlambat satu
bulan dapat menurunkan hasil sampai 17% (Lamid, Z.1984).
Pengendalian
gulma dilakukan secara kultur teknis dan secara kimiawi dengan menggunakan
herbisida. Secara mekanis gulma dapat dikendalikan dengan menggunakan cangkul
atau kored. Pelaksanaannya dilakukan pada saat tanaman berumur 14 – 28 hari dan
60 hst. Sedangkan untuk mengendalikan gulma secara kimiawi dengan herbisida,
dapat mengikuti petunjuk dari hasil Penelitian Puslitbangtan Bogor tentang
jenis herbisida yang dapat digunakan untuk pertanaman padi gogo seperti Satunil
60 EC, Ronstar 25 EC dan Gasafax 80 WP
b. Hama
tanaman padi gogo
1) Hama
lalat bibit
Lalat
bibit (Atherigona oryzae) termasuk hama penting pada padi
gogo. Larva dari lalat ini menimbulkan kerusakan pada tanaman muda. Larva
menyerang anakan tanaman padi yang sedang tumbuh, sehingga anakan mati seperti
terserang sundep. Anakan yang dapat bertahan daunnya cacat dan mudah sobek dan
pada umumnya tanaman yang terserang hama ini dapat sembuh, tetapi akan
terlambat masak sekitar 7 – 10 hari.
Pengendalian
secara kultur teknis dapat dilakukan dengan penanaman padi gogo pada awal musim
hujan. Penggunaan varietas yang tahan seperti Arias, Seratus Malam Danau atas
juga dapat dilakukan. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan seed
treatment menggunakan Larvin 75 WP atau Marshall 25 ST. Sedangkan
setelah tanaman berumur 7 hari dapat dilakukan penyemprotan dengan Dekasulfan
350 EC.
2) Hama
lundi
Hama
lundi (Phillophaga helleri) atau lebih dikenal dengan hama
uret termasuk hama penting pada pertanaman padi gogo. Stadia yang merusak dari
hama lundi adalah larvanya. Untuk hidupnya, hama ini membutuhkan kelembaban
tanah yang tinggi. Disamping itu hama lundi menyukai tanaman yang berakar
serabut. Pemakaian bahan organik juga dapat mendorong hama lundi, karena larva
yang baru menetas akan makan bahan organik yang ada di dalam tanah. Tanaman
padi yang terserang menjadi kerdil dan kayu.
Pengendalian
hama lundi secara kultur teknis dapat dilakukan dengan penundaan pengolahan
tanah sampai kumbang dewasa selesai bertelur, yaitu kira-kira terjadi setelah 3
minggu turun hujan. Dengan pengolahan tanah yang dalam, telur dan larva akan
terangkat ke permukaan tanah sehingga dapat dirusak oleh sinar matahari atau
musuh alaminya. Insektisida yang efektif untuk hama lundi adalah Furadan atau
Dharmafur 3 G yang diberikan dekat alur tanaman pada saat tanam dengan dosis 10
kg/ha.
3) Hama
wereng coklat
Wereng
penyerang batang padi: wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng
padi berpunggung putih (Sogatella furcifera). Merusak dengan cara
mengisap cairan batang padi. Saat ini hama wereng paling ditakuti oleh petani
di Indonesia. Wereng ini dapat menularkan virus.
Gejala:
tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tnaman seperti terbakar,
tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil. Pengendalian: (1) bertanam padi
serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR 64,
Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami seperti
laba-laba, kepinding dan kumbang lebah; (2) penerapan pola tanam, jangan
menanam padi lebih dari 2 kali musim tanam pertahun (3) pembajakan sisa-sisa
panen dengan segera (4) pemberian pupuk nitrogen secara bertahap. Pengendalian
secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemportan insektisida Applaud 10 WP,
Applaud 400 FW atau Applaud 100 EC dengan dosis sesuai petunjuk pada label.
4) Walang
sangit (Leptocoriza acuta)
Menyerang
buah padi yang masak susu dengan cara menghisap cairan di dalamannya.
Gejala: dan
menyebabkan buah hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna
coklat dan tidak enak; pada daun terdapat bercak bekas isapan dan buah padi
berbintik-bintik hitam. Pengendalian: (1) bertanam serempak, peningkatan
kebersihan, mengumpulkan dan memunahkan telur, melepas musuh alami seperti
jangkrik; (2) menyemprotkan insektisida Bassa 50 EC, Dharmabas 500 EC,
Dharmacin 50 WP, Kiltop 50 EC.
5) Hama
tikus (Rattus argentiventer)
Tanaman padi
akan mengalami kerusakan parah apabila terserang oleh hama tikus dan
menyebabkan penurunan produksi padi yang cukup besar. Menyerang batang muda
(1-2 bulan) dan buah.
Gejala:
adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat
ditengah petak tidak ada tanaman.
Pengendalian:
pergiliran tanaman, sanitasi, gropyokan, melepas musuh alami seperti ular dan
burung hantu, penggunaan pestisida dengan tepat, intensif dan teratur,
memberikan umpan beracun seperti seng fosfat yang dicampur dengan jagung atau
beras.
c. Penyakit
tanaman padi gogo
1) Bercak
daun coklat
vPenyebab:
jamur Helmintosporium oryzae).
vGejala:
menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru
berkecambah. Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa
busuk kering, biji kecambah busuk dan kecambah mati.
vPengendalian:
(1) merendam benih di dalam air panas, pemupukan berimbang, menanam padi tahan
penyakit ini, menaburkan serbuk air raksa dan bubuk kapur (2:15); (2) dengan
insektisida Rabcide 50 WP.
2) Blast
vPenyebab:
jamur Pyricularia oryzae.
vGejala:
menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Serangan menyebabakn
daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk.
Proses pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa.
vPengendalian:
(1) membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varietas unggul yang tahan
(laut tawar, IR 43, danau atas, dll); (2) pemberian pupuk berimbang, khusuasya
antara nitrogen dan fosfat di saaat pertengahan fase vegetative dan fase
pembentukan bulir; (3) pergiliran varietas (4) menyemprotkan insektisida
Fujiwan 400 EC, Fongorene 50 WP, Kasumin 20 AS atau Rabcide 50 WP.
3) Penyakit
garis coklat daun (Narrow brown leaf spot,)
vPenyebab:
jamur Cercospora oryzae.
vGejala:
menyerang daun dan pelepah. Tampak gari-garis atau bercak-bercak sempit
memanjang berwarna coklat sepanjang 2-10 mm. Proses pembungaan dan pengisian
biji terhambat.
vPengendalian:
(1) menanam padi tahan penyakit ini seperti Citarum, mencelupkan benih ke dalam
larutan merkuri; (2) menyemprotkan fungisida Benlate T 20/20 WP atau Delsene MX
200.
4) Busuk
pelepah daun
vPenyebab:
jamur Rhizoctonia sp.
vGejala:
menyerang daun dan pelepah daun, gejala terlihat pada tanaman yang telah
membentuk anakan dan menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun. Penyakit ini
tidak terlalu merugikan secara ekonomi.
vPengendalian:
(1) menanam padi tahan penyakit ini; (2) menyemprotkan fungisida pada saat
pembentukan anakan seperti Monceren 25 WP dan Validacin 3 AS.
5) Penyakit
fusarium
vPenyebab:
jamur Fusarium moniliforme.
vGejala:
menyerang malai dan biji muda, malai dan biji menjadi kecoklatan hingga coklat
ulat, daun terkulai, akar membusuk, tanaman padi. Kerusakan yang diderita tidak
terlalu parah.
vPengendalian:
merenggangkan jarak tanam, mencelupkan benih pada larutan merkuri.
6) Penyakit noda/api palsu
vPenyebab:
jamur Ustilaginoidea virens.
vGejala:
malai dan buah padi dipenuhi spora, dalam satu malai hanya beberap butir saja yang
terserang. Penyakit tidak menimbulkan kerugian besar. Pengendalian: memusnahkan
malai yang sakit, menyemprotkan fungisida pada malai sakit.
5. Panen
Umur panen
padi gogo bervariasi tergantung varietas dan lingkungan tumbuh. Panen sebaiknya
dilakukan pada fase masak panen yang dicirikan dengan kenampakkan >90% gabah
sudah menguning (33-36 hari setelah berbunga), bagian bawah malai masih
terdapat sedikit gabah hijau dan kadar air gabah 21-26 %. Panen yang dilakukan
pada fase masak lewat panen, yaitu pada saat jerami mulai mengering, pangkal
mulai patah, dapat mengakibatkan banyak gabah yang rontok saat dipanen.
Sebelum
pemanenan, dilakukan pengeringan sawah 7-10 hari sebelum panen, gunakan sabit
tajam untuk memotong pangkal batang, simpan hasil panen di suatu wadah atau
tempat yang dialasi. Panen dengan menggunakan mesin akan menghemat waktu,
dengan alat Reaper binder panen dapat dilakukan selama 15 jam
untuk setiap hektar, sedangkan dengan Reaper harvester panen
hanya dilakukan selama 6 jam untuk 1 hektar. Perontokan hasil panen menggunakan
pedal thresher. Perontokan dengan pengebotan (memukul-mukul batang padi pada
papan) sebaiknya dihindari karena kehilangan hasilnya cukup besar, bisa
mencapai 3,4%. Kegiatan yang dilakukan pasca panen seperti berikut :
1. Perontokan. Lakukan secepatnya
setelah panen, gunakan cara diinjak-injak (±60 jam orang untuk 1 hektar),
dihempas/dibanting (± 16 jam orang untuk 1 hektar) dilakukan dua kali di dua
tempat terpisah. Dengan menggunakan mesin perontok, waktu dapat dihemat.
Perontokan dengan perontok pedal mekanis hanya memerlukan 7,8 jam orang untuk 1
hektar hasil panen.
2. Pembersihan. Bersihkan gabah
dengan cara diayak/ditapi atau dengan blower manual. Kadar kotoran tidak boleh
lebih dari 3 %.
3. Jemur gabah selama 3-4 hari
selama 3 jam per hari sampai kadar airnya 14%. Secara tradisional padi dijemur
di halaman. Jika menggunakan mesin pengering, kebersihan gabah lebih terjamin
daripada dijemur di halaman.
4. Penyimpanan. Gabah dimasukkan ke
dalam karung bersih dan jauhkan dari beras karena dapat tertulari hama beras.
Gabah siap dibawa ke tempat penggilingan beras (huller).
BAB III
KESIMPULAN
DAN PENUTUP
A.
Kesimpulan
Teknik budidaya
padi meliputi persemaian , persiapan dan pebngolahan tanah , penanaman,pemeliharaan
Legowo
adalah cara tanam padi sawah yang memiliki beberapa barisan tanaman kemudian
diselingi oleh 1 baris kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir setengah
kali jarak tanaman pada baris tengah.
Cara
tanam jajar legowo untuk padi sawah seara umum bisa dilakukan dengan berbagai
tipe yaitu: legowo (2:1),(3:1) ,(4:1) ,(5:1) ,atau tipe lainnya. Namun dari
hasil penelitian , tipe terbaik untuk mendapatkan produksi gabah tertinggi
dicapai oleh legowo 4:1,dan untuk mendapatkan bulir gabah berkualitas benih
dicapai oleh legowo 2:1.
Padi
Ratun merupakan salah satu alternatif yang dapat dikembangkan oleh petani
sebagai tanaman setelah padi pertama dipanen, karena padi ratun lebih hemat
sumberdaya dan lebih singkat.
. Dalam keterbatasan sumberdaya,
budidaya padi ratun ini dapat dijadikan sebagai alternatif untuk meningkatkan
indeks tanam per tahun, misalnya dari 1 kali menjadi 2 kali atau dari 2 kali
menjadi 3 kali tanam dalam satu tahun.
Beberapa
keuntungan padi ratun, antara lain, adalah:
Tanpa pengolahan tanah, penyemaian,
dan penanaman lagi
Tenaga kerja yang dibutuhkan lebih
sedikit
Waktu untuk mencapai panen singkat
Kebutuhan air irigasi lebih sedikit
Biaya produksi menjadi lebih murah
Padi gogo
merupakan jenis padi yang dibudidayakan pada lahan marginal atau lahan kering
dimana pemenuhan kebutuhan air tanaman tergantung pada hujan yang turun (tadah
hujan). Oleh karena itu penaman yang baik dilakukan setelah terdapat 1 – 2 kali
hujan, awal musim penghujan (Oktober – Nopember) agar kebutuhan air teerpenuhi.
Padi ini pada umumnya lebih banyak diusahakan di daerah-daerah di luar Pulau
Jawa, terutama Sumatera, Kalimantan dan Nusa Tenggara karena sebagian besar
wilayah ini berbukit-bukit dan merupakan jenis lahan kering.
Pada dasarnya
dalam budidaya tanaman, pertumbuhan dan perkembangan tanaman sangat dipengaruhi
oleh faktor genetis dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang paling
penting adalah tanah dan iklim serta interaksi kedua faktor tersebut. Tanaman
padi gogo dapat tumbuh pada berbagai agroekologi dan jenis tanah.
Ada lahan
yang perlu pengolahan tanah sedikit (minimum tillage) atau
bahkan tidak perlu pengolahan tanah (zerro tillage). Pengolahan
tanah yang sempurna justru merugikan, karena disamping menambah biaya juga menyebabkan
tanah lebih peka terhadap erosi sehingga kesuburannya menurun. Demikian pula
hasil padi yang diperoleh antara sistem olah tanah sempurna dengan oleh tanah
minimum tidak berbeda nyata, sehingga sistem olah tanah minimum lebih ekonomis.
B. Penutup
Dalam peningkatan ketahan pangan
nasional, peran padi gogo tidak kalah pentingnya. Meskipun memiliki umur yang
lebih panjang, namun dari segi kualitas hasil tidak kalah dengan jenis padi
sawah. Agar diperoleh hasil yang maksimal, maka budidaya secara intensif perlu
dilakukan sehingga kegiatan ladang secara berpindah dapat ditekan
perkembangannya terutama untuk di daerah di luar Jawa
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1996. Intensifikasi
Padi Gogo. Departemen Pertanian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian; Ungaran
Noor, M. 1996. Padi Lahan
Marginal. Penebar Swadaya; Bogor
Hantoro, F.R.P. 2007. Teknologi
Budidaya Padi Gogo. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Teguh Rahayu. 2000. Budidaya
Tanaman Padi Dengan Teknologi Mig-6 plus. BPP Teknologi dan MiG-6 Plus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar