Rabu, 12 Agustus 2015

makalah pangan 3



MAKALAH
BUDIDAYA TANAMAN PADI
KONVENSIONAL, SRI , JAJAR LEGOWO DAN RATUN
OLEH:
RAHYUNI
1310211131

PROGRAM STUDI AGROKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015


“BUDIDAYA TANAMAN PADI”

            Tujuan dari pembuatan makalah ini sebagai tugas yang di berikan oleh dosen pengasuh mata kuliah teknologi produksi tanaman pangan yaitu ibu Dr.Ir. Etti Swasti, MS.

Ditulis oleh                  : Rahyuni

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015


KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Berkat rahmat dan karunia-Nya Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan dan menyusun makalah ini, dalam rangka memenuhi salah satu tugas Teknologi Produksi Tanaman Pangan I.
Penyusun sudah berusaha dengan segala kemampuan untuk menyusun makalah ini dengan baik. Meski demikian sebagai manusia biasa tidaklah selalu terlepas dari kesalahan maupun kekurangan. Dalam penulisan makalah yang berjudul “Budidaya Tanaman Padi” ini saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, tetapi saya tidak akan menyerah begitu saja, saya akan terus berusaha mempersembahkan yang terbaik. Maka dari itu saya sangatlah mengharapkan bantuan, bimbingan, arahan, serta motifasi., kritik dan saran yang bersifat membangun guna mencapai hasil yang lebih baik lagi.
Atas dukungan moral yang diberikan saya mngucapkan terima kasih kepada ibu Dr.Ir. Etti Swasti, MP, selaku dosen pengasuh mata kuliah Teknologi Produksi Tanaman Pangan I, penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu dalam kelancaran penyusunan makalah ini, dan mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi saya dan umumnya bagi pembaca.
Ammin………..


DAFTAR ISI

Kata pengantar...................................................................................................................... i
Daftar isi.................................................................................................................................ii
Bab I....................................................................................................................................... 1
Bab II ..................................................................................................................................... 4
Bab III.................................................................................................................................... 26
Daftar Pustaka ..................................................................................................................... 27


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan suatu negara kepulaun yang begitu luas. luas daratan sekitar 188,20 juta ha dan memiliki kandungan sumber daya lahan yang sangat bervariasi. dari luas daratan tersebut yang dapat digunakan sebagai lahan pertanian sekitar 100,7 juta yang meliputi lahan sawah tegalan lahan tanaman tahunan.
padi  merupakan komoditi pangan utama di Indonesia yang memiliki peran strategis. Padi merupakan tanaman pangan yang setelah melalui berbagai proses akan mengasilkan beras. Beras merupakan bahan pangan pokok yang vital bagi semua orang. Itulah sebabnya upaya pemenuhan kebutuhan beras terus dilakukan melalui berbagai program, salah satunya adalah intensifikasi. Intensifikasi padi dengan asupan pupuk kimia dalam jumlah besar dabn jangka waktu yang lama , serta penggunaan bahan organik dalam sistem produksi padi sawah telah mengakibatkan terganggunya keseimbangan hara tanah yang berakibat terhadap penurunan ,ualitas sumber daya lahan. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktvitas tanaman padi sawah adalah dengan menciptakan lingkungan tumbuh yang optimal untuk setiap fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Teknologi yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil, tetapi juga menekankan efisiensi penggunaan sarana produksi.
Salah satu tantangan dalam pembangunan pertanian adalah adanya kecenderungan menurunnya produktifitas lahan. Disisi lain sumberdaya alam terus menurun sehingga perlu di upayakan untuk tetap menjaga kelestariannya. Demikian pula dalam usahatani padi, agar usahatani dapat berkelanjutan maka teknologi yang diterapkan harus memperhatikan faktor lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial sehingga agribisnis padi dapat berlanjut.
      Selama ini produksi padi nasional masih mengandalkan sawah irigasi  namun ke depan bila hanya mengandalakn padi sawah irigasi akan menghadapi banyak kendala. Hal tersebut disebabnkan banyaknya lahan sawah irigasi subur yang beralih fungsi ke penggunaan lahan non-pertanian, tingginya biaya pencetakan lahan sawah baru dan berkurangnya debit air. Dilain pihak, lahan kering tersedia cukup luas dan pemanfaatannya untuk pertanaman padi gogo juga dapat di jadikan andalan produksi padi nasional.
Salah satu strategi dalam upaya pencapaian produktifitas usahatani padi adalah penerapan inovasi teknologi yang sesuai dengan sumberdaya pertanian di suatu tempat (spesifik lokasi).  Teknologi usahatani padi spesifik lokasi tersebut di rakit dengan menggunakan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu.
PTT padi merupakan suatu pendekatan inovatif dalam upaya peningkatan efisiensi usahatani padi dengan menggabungkan komponen teknologi yang memiliki efek sinergistik. Artinya tiap komponen teknologi tersebut saling menunjang dan memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
Penanaman padi termasuk dalam serangkaian kegiatan pembudidayaan tanaman padi. Penanaman padi dilakukan dengan menanam bibit padi pada lahan yang telah di persiapkan sebelummnya. Bibit padi yang ditanam haruslah bibit padi yang sehat agar produk yang dihasilkan berkualitas. penanaman bibit padi yang tidak sehat akan menyebabkan padi yang di hasilkan dapat terserang penyakit sehingga produk menjadi tidak sehat.
Budidaya padi sawah saat iµni secara umum masih menggunakan sistem konvensional. Budidaya padi konvensional umumnya menggunakan jarak tanam yang rapat sehingga membutuhkan benih dalam jumlah banyak (40 kg per hektar), dengan umur bibit tua (30 hari) pada saat di pindahkan. Pada waktu pemindahan ke lahan, bibit dicabut dan bagian atas dipotong dengan menanam 6 bibit per lubang tanam. Penggunaan bibit yabng agak tua dabn sudah mempunyai banyak akar akan mengakibatkan bibit mengalami stress dabn kerusakan akar. Jarak tanam yang rapat akan menyebabkan jumlah anakan produktif yang rendah yang mengakibatkan produksi rendah dengan rata-rata nasional 4-5 ton.
Budidaya padi sistem konvensional melakukan penggenaan lahan. Penggenangan ini menyebabkan proses reduktif yang melepaskan gas-gas rumah kaca antara lain metan dan nitrous oksida sebesar 70,9 %.
Emisi metan dari pertanian tanah sawah diperkirakan lebih dari 170 kg per tahun. Lebih dari 90% metan terlepas dari tanah sawah ke atmosfer lewat tanaman padi, karena tanaman padi mempunyai ruang arenkhima dan intersel sebagai media pengangkutan metan dari tanah tereduksi ke atmosfer. Aplikasi pupuk terutama urea pada kondisi tergenang menyebabkan terbentuknya gas N2O salah satu gas rumah kaca.
Pelepasan N2O terjadi akibat proses denitrifikasi. Tingkat emisi ini meningkat apabila tanah pertanian tersebut dipupuk dan pupuk nitrogen seperti urea. Nitrogen yang terdapat di pupuk urea ,dabn amonium sulfat (AS) mengalami denitrifikasi menjadi N2O dan NO2 dengan tingkat emisi 1 ,0 dan 1 ,57%.
Emisi gas metan pada lahan sawah irigasi teknis 1435 Gg per tahun , irigasi semi teknis 354 Gg per tahun, irigasi sederhana 524 Gg per tahun, tadah hujan 136 Gg per tahun , pasang surut 93 Gg per tahun dan lahan kering nol Gg per tahun, sedangkan pada tanah digenangi kontiniu 1424 Gg per tahun dan alternasi basah-kering 427 Gg. Salah satu cara budidaya yang dapat mengurangi atau menurunkan gas metan dan nitrous oksida dari lahan sawah dengan menerapkan budidaya padi dengan System of Rice Ibntensification (SRI).
Seperti metode lainnya, SRI juga memiliki keunggulan antara lain: (1) semua varietas benih dapat digunakan, (2) dapat meningkatkan produksi padi , (3) pengurangan dalam pemakaian benih sampai 80-90% dan kebutuhan air 25-50% , (4) biaya produksi turun 10-25 % , (5) pendapatan petani meningkat.
Hasil penelitian Ardi (2009), budidaya System of Rice Intensification (SRI) dan konvensional di desa Nagrak Sukabumi memperlihatkan SRI nyata lebih rendah mengemisikan gas metan selama satu musim tanam sebesar 123 ,31 % dibandingkan dengan konvensional, yang berarti SRI bukan hanya dapat mengurangi emisi gas metan saja bahkan dapat menyerap (sink) CH4 sebesar 23 ,31%. Total emisi N2O selama masa tanam adalah: konvensional 3 ,2 µgm-2 jam-1 dan SRI anorganik 2 ,24 µg m-2 jam-1, SRI lebih rendah mengemisikan N2O, tetapi pengurangannya  tidak berbeda nyata di banding dengan konvensional. SRI ternyata meningkatkan hasil produksi. Perlakuabn SRI anorganik dapat meningkatkan produksi padi sebesar 27 ,44% dibanding dengan perlakuan konvensional.

B.     TUJUAN

1)      Untuk mengetahui proses penanaman padi di lahan sawah
2)      Untuk mengetahui proses penanaman padi gogo
3)      Untuk mengetahui perbedaan budidaya padi secara konvensional, SRI, jajar legowo dan ratun.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    TEKNIK BUDIDAYA PADI SAWAH
Teknik bercocok tanam yang baik sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Hal ini harus dimulai dari awal, yaitu sejak dilakukan persemaian sampai tanaman itu bisa dipanen. Dalam proses pertumbuhan tanaman hingga berbuah ini harus dipelihara dengan baik, terutama harus diusahakan agar tanaman terhindar dari serangan hama dan penyakit yang seringkali menurunkan produksi.
1.      Persemaian
Membuat persemaian merupakan langkah awal bertanam padi. Pembuatan persemaian memerlukan suatu persiapan yang sebaik-baiknya,sebab benih di persemaian ini akan menentukan pertumbuhan padi di sawah,oleh karena itu persemaian harus benar-benar mendapat perhatian,agar harapan untuk mendapatkan bibit padi yang sehat dan subur dapat tercapai.
2.      Persiapan dan pengolahan tanah sawah
Pengolahan tanah bertujuan mengubah keadaan tanah pertanian dengan alat tertentu hingga memperoleh susunan tanah (struktur tanah) yang dikehendaki oleh tanaman. Pengolahan tanah sawah terdiri dari:
a.       Pembersihan
b.      Pencangkulan
c.       Pembajakan
d.      Penggaruan
e.       Perataan
3.      Penanaman
Dalam penanaman bibit padi, harus diperhatikan sebelumnya adalah:
a.       Persiapan lahan
Tanah yang sudah diolah dengan cara yang baik, akhirnya siap untuk ditanami bibit padi.
b.      Umur bibit
Bila umur bibit sudah cukup sesuai dengan jenis padi, bibit tersebut segera dapat dipindahkan dengan cara mencabut bibit.
c.       Tahap penanaman
Tahap penanaman dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu:
1)      Memindahkan bibit
Bibit di persemaian yang telah berumur 17-25 hari (tergantung jenis padinya genjah atau dalam) dapat segera dipindakan ke lahan yang telah disiapkan.


2)      Menanam
Dalam menanam bibit padi, hal-hal yang harus diperhatikan adalah  sistem larikan (cara tanam) ,jarak tanam ,hubungan tanam. Jumlah tanaman tiap lobang ,kedalaman menanam bibit, cara menanam.
4.      Pemeliharaan
Meliputi:
a.       Penyulaman dan penyiangan
Ada beberapa hal yang harus diperhartikan dalam penyulaman yaitu bibit yang digunakan harus jenis yang sama, bibit yang digunakan merupakan sisa bibit yang terdahulu,penyulaman tidak boleh melewati 10 hari setelah tanam, selain tanaman pokok (tanaman pengganggu) supaya dihilangkan.
b.      Pengairan
Pengairan disawah dapat dibedakan menjadi pengairan secara terus menerus dan pengairan secara periodik.
c.       Pemupukan
Tujuannya adalah untuk mencukupi kebutuhan tanaman yang berperan sangat penting bagi tanaman baik dalam proses pertumbuhan atau produksi.
d.      Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit tanaman padi meliputi gulma yang tumbuh di tanaman juga serangga dan hama tikus yang menyerang tanaman padi jika sudah melewati ambang ekonomis.
Teknik budidaya tanaman padi sawah meliputi secara konvensional,SRI,dan jajar legowo.teknik budidaya  tersebut akan di jelaskan satu persatu sebagai berikut:
1.      Teknik budidaya secara konvensional
Teknik budidaya padi secara konvensional meliputi:
1.      Penyiapan bibit padi (persemaian)
Membuat persemaian merupakan langkah awal bertanam padi. Pembuatan persemaian memerlukan suatu persiapan yang sebaik-baiknya, sebab benih di persemaian ini akan menentukan pertumbuhan padi di sawah, oleh karena itu persemaian harus benar-benar mendapat perhatian, agar harapan untuk mendapatkan bibit padi yang sehat dan subur dapat tercapai. Persemaian dilakukan dengan menyebar benih padi secara merata pada bedengan dengan kandungan air jenuh tetapi tidak menggenang. Dalam tiga atau empat hari benih telah berkecambah. Tanaman muda yang berumur tiga minggu siap dicabut dan dipindah ke lahan sawah. Bibit yang telah dicabut , akan dikelompokkan kemudian diikat dan dibawa ke sawah.
2.      Penyiapan lahan (sawah)
Jika musim hujan telah tiba,maka petani segera membuka lahan untuk musim tanam. Pada saat ini dilakukan pengolahan tanah yang bertujuan mengubah keadaan tanah pertanian dengan alat tertentu hingga memperoleh susunan tanah (struktur tanah) yang dikehendaki oleh tanaman. Pengolahan tanah sawah terdiri dari beberapa tahap seperti pembersihan, pencangkulan,pembajakan,penggaruan,pembersihan.
3.      Penanaman padi
Pada proses ini, bibit padi yang telah berumur 17-25 hari (tergantung jenis padinya) akan segera ditanam. Mula-mula bibit diatur sedemikian rupa (biasanya dijejerkan dalam beberapa baris dan dijejerkan beraturan). Hal ini bertujuan untuk memudahkan petani ketika menanam. Penanaman padi di sawah umumnya ditanam dengan jarak teratur. Yang paling populer di pulau Jawa adalah berjarak 20 cm. Tanaman muda ditancapkan kedalam tanah yang digenangi air sedalam 10-15 cm hingga akarnya terbenam dibawah permukaan tanah.
4.      Pemeliharaan
Setelah ditanam, maka padi selanjutnya akan tumbuh dalam beberapa minggu. Pada saat ini ,padi harus ,mendapatkan pengairan yang cukup,harus dipupuk dan kebersihan rumput-rumput liar. Pemberantasan hama dan tikus juga harus dilakukan, agar tanaman padi tidak rusak.
5.      Panen padi
Padi biasanya bisa dipanen setelah 4-5 bulan. Pada saat itu padi telah berisi dan menguning. Di pedesaan, biasanya petani masih menggunakan arit atau celurit untuk memotong padi. Setelah dipanen,kemudian,padi ,kemudian dipisahkan dari batangnya dengan cara di gilas.


2.      Teknik Budidaya Jajar Legowo
Legowo adalah cara tanam padi sawah yang memiliki beberapa barisan tanaman kemudian diselingi oleh 1 baris kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir setengah kali jarak tanaman pada baris tengah.
Cara tanam jajar legowo untuk padi sawah secara umum bisa dilakukan dengan berbagai tipe yaitu: legowo (2:1),(3:1) ,(4:1) ,(5:1) ,atau tipe lainnya. Namun dari hasil penelitian , tipe terbaik untuk mendapatkan produksi gabah tertinggi dicapai oleh legowo 4:1,dan untuk mendapatkan bulir gabah berkualitas benih dicapai oleh legowo 2:1.
Pengertian jajar legowo 4:1 adalah cara tanam yang memiliki 4 barisan kemudian diselingi oleh 1 barisan kosong dimana pada setiap baris pinggir mempunyai jarak tanam >2 kali jarak tanam pada barisan tengah. Dengan demikian,jarak tanam pada tipe legowo 4:1 adalah 20 cm (antar barisan dan pada barisan tengah) x 10 cm (barisan pinggir) x 40 cm (barisan kosong).
Pengertian jajar legowo 2:1 adalah cara tanam yang memiliki 2 barisan kemudian diselingi oleh 1 barisan kosong dimana pada setiap baris pinggir mempunyai jarak tanam antar barisan. Dengan demikian, jarak tanam pada tipe legowo 2:1 adalah 20 cm (antar barisan) x 10 cm (barisan pinggir) x 40 cm (barisan kosong).
Modifikasi jarak tanam pada cara tanam legowo bisa dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Secara umum , jarak tanam yang dipakai adalah 20 cm dan  bisa dimodifikasi menjadi 22 ,5 cm atau 25 cm sesuai pertimbangan varietas padi yang akan ditanam atau tingkat kesuburan tanahnya.
Jarak tanam untuk padi yang sejenis dengan varietas IR-64, seperti varietas ciherang cukup dengan jarak 20 cm, sedangkan untuk varietas padi yang punya penampilan lebih lebat dan tinggi perlu diberi jarak tanam yang lebih lebar misalnya antara 22 ,5-25 cm.
Demikian pula pada tanah yang kurang subur cukup digunakan jarak tanam 20 cm, sedangkan pada tanah yang lebih subur perlu diberi jarak tanam yang lebih  lebar, misalnya 22,5 cm atau pada tanah yang sangat subur jarak tanamnya 25 cm. Pemilihan ukuran jarak tanam bertujuan agar mendapat hasil yang optimal.
Tujuan cara tanam jajar legowo adalah:
·         Memanfaatkan sinar matahari bagi tanaman yang berada pada pinggir barisan,semakin banyak sinar matahari yang mengenai tanaman,maka proses fotosintesis oleh daun tanaman akan semakin tinggi sehingga akan mendapatkan bobot buah yang lebih berat.
·         Mengurangi kemungkinan serangan hama, terutama tikus. Pada lahan yang relatif terbuka,hama tikus kurang suka tinggal didalamnya.
·         Menekan serangan penyakit, pada lahan yang relatif terbuka, kelembaban akan semakin berkurang,sehingga serangan penyakit juga akan berkurang.
·         Mempermudah pelaksanaan pemupukan dan pengendalian hama atau penyakit. Posisi orang yang melaksanakan pemupukan dan pengendalian hama atau penyakit bisa leluasa pada barisan kosong diantara 2 barisan legowo.
·         Menambah populasi tanaman,misal pada legowo 2:1, populasi tanaman akan bertambah sekitar 30%. Bertambahnya populasi tanaman akan memberikan harapan peningkatan produktifitas hasil.
Keuntungan jajar legowo:
1.      Semua barisan rumpun tanaman berada pada bagian pinggir yang biasanya memberi hasil lebih tinggi.
2.      Lebih mudah untuk mengendalikan hama,penyakit dan gulma
3.      Menyediakan ruang kosong untuk pengaturan air,saluran pengumpul keong emas atau mina padi
4.      Penggunaan pupuk lebih berdaya guna
Teknik penerapan budidaya padi legowo:
1.      Pembuatan baris tanam
Persiapkan alat garis tanam dengan ukuran jarak tanam yang dikehendaki. Bahan untuk alat garis tanam bisa digunakan kayu atau bahan lain yang tersedia serta biaya terjangkau. Lahan sawah yang telah siap ditanami,1-2 hari sebelumnya dilakukan pembuangan air sehingga lahan dalam keadaan macak-macak. Ratakan dan datarkan sebaik mungkin. Selanjutnya dilakukan pembentukan garis tanam yang lurus dan jelas dengan cara menarik alat garis tanam yang sudah dipersiapkan sebelumnya serta dibantu dengan tali yang dibentang dari ujung ke ujung lahan.
2.      Tanam
Umur bibit padi yang digunakan sebaiknya kurang dari 21 hari. Gunakan 1-3 bibit per lubang tanam pada perpotongan garis yang sudah terbentuk. Cara laju tanam sebaiknya maju agar perpotongan garis untuk lubang tanam bisa terlihat dengan jelas. Namun apabila kebiasaan tanam mundur juga tidak menjadi masalah,yang penting populasi tanaman yang ditanam dapat terpenuhi. Pada alur pinggir kiri dan kanan dari setiap barisan legowo, populasi tanaman ditambah dengan cara menyisipkan tanaman diantara 2 lubang tanam yang tersedia. Pemupukan pada legowo 2:1 boleh dengan cara ditabur ditengah alur dalam barisan legowonya.
3.      Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan cara tabur. Posisi orang  yang melakukan pemupukan berada pada barisan kosong diantara 2 barisan legowo. Pupuk ditabur ke kiri dan ke kanan debngan merata, sehingga 1 kali jalan dapat melakukan pemupukan 2 barisan legowo,khusus cara  pemupukan pada legowo 2:1 boleh  dengan cara ditabur di tengah alur dalam barisan legowonya.
4.      Penyiangan
Penyiangan bisa dilakukan dengan tangan atau dengan menggunakan alat siang seperti landak atau gasrok. Apabila penyiangan dilakukan dengan alat siang, cukup dilakukan kesatu arah sejajar legowo dan tidak perlu dipotong seperti penyiangan pada cara tanam bujur sangkar. Sisa gulma yang tidak tersiang dengan alat siang di tengah barisan legowo bisa disiang dengan tangan, bahkan sisa gulma pada barisan pinggir legowo sebenarnya tidak perlu diambil karena dengan sendirinya akan kalah persaingan dengan pertumbuhan tanaman padi.
5.      Pengendalian hama dan penyakit
Pada pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan alat semprot atau handsprayer. Posisi orang berada pada barisan kosong diantara 2 barisan legowo. Penyemprotan diarahkan ke kiri dan ke kanan  dengan merata,sehingga 1 kali jalan dapat melakukan penyemprotan 2 barisan legowo.

3.      Prinsip Budidaya Padi Metode SRI
1.      Tanam bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (HSS) ketika bibit masih berdaun 2 helai.
2.      Tanam bibit satu lubang satu bibit dengan jarak tanam lebar 30x30 cm, 35x35 cm atau lebih jarang lagi
3.      Pindah tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus dan di tanam dangkal
4.      Pemberian air maksimum 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai pecah (irigasi berselang atau terputus)
5.      Penyiangan sejak awal sekitar umur 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari. Sedapat mungkin menggunakan pupuk organik.


Keunggulan metode SRI
1.      Tanaman hemat air, selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen pemberian air maksimum 2 cm paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak (irigasi terputus)
2.      Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kg per hektar, tidak butuh biaya pencabutan bibit, tidak butuh biaya pindah bibit, tenaga tanam berkurang dan lain-lain
3.      Hemat waktu ditanam, bibit muda 5-12 hari setelah semai dan waktu panen akan lebih awal
4.      Produksi meningkat di beberapa tempat mencapai mencapai 11 ton per hektar
5.      Ramah lingkungan, secara bertahap penggunaan pupuk kimia (urea,SP36,KCl) akan dikurangi dan digantikan dengan menggunakan pupuk organik (kompos,kadang dan MOL) begitu juga penggunaan pestisida
Teknis Budidaya SRI
·         Pengolahan tanah
Untuk mendapatkan media tumbuh metode tanam padi SRI yang baik, maka lahan diolah seperti menanam padi metode biasa yaitu tanah dibajak sedalam 25-30 cm sambil membenamkan sisa-sisa tanaman rumput-rumputan, kemudian digemburkan dengan garu ,lalu diratakan sebaik mungkin sehingga saat diberikan air ketinggiannya dipetakan sawah akan merata.
·         Parit
Pada petak SRI perlu dibuat parit keliling dan melintang petak untuk membuang kelebihan air. Letak dan jumlah parit pembuang disesuaikan dengan bentuk dan ukuran petak,serta dimensi saluran irigasi
·         Pemilihan benih yang baik
Untuk mendapatkan benih yang bermutu baik atau bernas ,dengan metode SRI,harus terlebih dahulu diadakan pengujian benih. Pengujian benih dilakukan dengan cara penyeleksian menggunakan larutan air garam,yang langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
ü  Masukkan air bersih ke dalam ember atau panci, kemudian berikan garam dan aduk sampai larut. Jika telur itik belum mengapung maka perlu penambahan garam kembali. Pemberian garam diangggap cukup apabila posisi telur itik mengapung pada permukaan larutan garam.
ü  Masukkan benih  padi yang akan diuji kedalam ember atau panci yang berisi larutan garam. Aduk benih padi selama kira-kira 1 menit.
ü  Pisahkan benih yang mengambang dengan yang tenggelam. Benih yang tenggelam adalah benih yang bernas.
ü  Benih yang baik atau bernas ini kemudian dicuci dengan air biasa sampai bersih. Dengan indikasi bila digigit benih sudah tidak terasa garam.
·         Perendaman benih
Benih yang telah diuji tersebut,kemudian direndam dengan menggunakan air biasa. Perendaman ini bertujuan untuk melunakkan sekam gabah sehingga dapat mempercepat benih untuk berkecambah. Perendaman dilakukan selama 24-48 jam
·         Penganginan benih
Benih yang telah direndam kemudian diangkat dan dimasukkan kedalam karung yang berpori-pori atau wadah tertentu dengan tujuan untuk memberikan udara masuk kedalam benih padi, dan kemudian disimpan ditempat yang lembab. Penganginan dilakukan selama 24 jam
·         Persemaian benih
Persemaian dengan meode SRI dilakukan dengan mempergunakan nare atau tampah atau besek atau juga hamparan sawah,hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penanaman.
Pembuatan media persemaian dengan metode SRI dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Mencampur tanah, pasir dengan pupuk organik dengan perbandingan 1:1:1
2.      Sebelum nare  atau tampah tempat pembibitan diisi dengan tanah,pasir yang sudah dicampur dengan pupuk organik terlebih dahulu dilapisi dengan daun pisang dengan harapan untuk mempermudah pencabutan dan menjaga kelembaban tanah ,kemudian tanah dimasukkan dan disiram dengan air sehingga tanah mebnjadi lembab
3.      Benih yang sudah dianginkan ini,ditaburkan kedalam nare yang berisi tanah.
4.      Setelah benih ditabur, kemudian ditutup dengan lapisan tanah yang tipis.
5.      Persemaian dapat diletakkan pada tempat-tempat tertentu yang aman dari gangguan ayam atau binatang lain.
6.      Selama masa persemaian, pemberian air dapat dilakukan setiap hari agar media tetap lembab dan tanaman tetap segar.
·         Peyaplakan
Sebelum penanaman terlebih dahulu dilakukan penyaplakan dengan memakai caplak agar jarak tanam pada areal persawahan menjadi lurus dan rapi sehingga mudah untuk disiang. Caplak berfungsi sebagai penggaris dengan jarak tertentu. Variasi jarak tanam diantaranya: jarak tanam 30x30 cm, 35x35 cm atau jarak tertentu lainnya.
Penyaplakan dilakukan secara memanjang dan melebar. Setiap pertemuan garis hasil garis penyaplakan adalah tempat untuk penanaman 1 bibit padi
·         Penanaman dengan metode SRI
Penanaman dengan metode SRI dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Bibit yang ditanam harus berusia muda, yaitu kurang dari 12 hari setelah semai yaitu ketika bibit masih berdaun 2 helai
2.      Bibit padi ditanam tunggal atau 1 bibit perlubang
3.      Penanaman harus dangkal dengan kedalaman 1-1,5 cm serta perakaran saat penanaman seperti huruf  L dengan kondisi tanah sawah saat penanaman tidak tergenang air
·         Pemupukan
Ada 2 perlakuan dengan menggunakan pupuk anorganik (kimia) murni dan organik
·         Pemupukan kimia
Takaran pupuk mengikut anjuran Dinas Pertanian atau kebiasaan petani setempat. Diantaranya:
ü  Pemupukan I pada umur 7-15 HST dengan dosis Urea 100 kg per hektar, SP36 50 kg per hektar
ü  Pemupukan II pada umur 25-30 HST dengan dosis Urea 50 kg per hektar, Phonska 100 kh per hektar
ü  Pemupukan III pada umur 40-45 HST dengan dosis Urea 50 kg per hektar, ZA 50 kg per hektar
·         Pemupukan organik
MOL yang disemprotkan terbuat dari bahan-bahan sebagai berikut:
1.      Penyemprotan I, dilakukan pada saat umur 10 HST,dengan mempergunakan mol yang terbuat dari daun gamal,dengan dosis 14 liter pr hektar
2.      Penyemprotan II , dilakukan pada saat umur 20 HST, dengan mempergunakan mol yang terbuat dari batang pisang dengan dosis 30 liter per hektar
3.      Penyemprotan III dilakukan pada saat umur 30 HST dengan mempergunakan mol yang terbuat dari urine sapi dengan dosis 30 liter per hektar
4.      Penyemprotan IV dilakukan pada saat umur 40 HST dengan mempergunakan mol yang terbuat dari batang pisang dengan dosis 30 liter per hektar
5.      Penyemprotan V dilakukan pada saat umur 50 HST dengan mempergunakan mol yang terbuat dari serabut kelapa dengan dosis 30 liter per hektar
6.      Penyemprotan VI dilakukan pada saat umur 60 HST dengan mempergunakan mol yang terbuat dari buah-buahan dan sayur-sayuran dengan dosis 30 liter per hektar
7.      Penyemprotan VII dilakukan pada saat umur 70  HST dengan mempergunakan mol yang terbuat dai terasi dengan dosis 30 liter per hektar
8.      Penyemprotan VIII dilakukan pada saat umur 80 HST dengan mempergunakan mol yang terbuat dari terasi dengan dosis 30 liter per hektar
·         Pemberian air
Pemberian air dengan cara terputus-putus dengan ketinggian air dipetakan sawah maksimum 2 cm, paling baik macak-macak (0,5 cm). Pada periode tertentu petak sawah harus dikeringkan sampai pecah-pecah. Pemberian air terlalu tinggi akan menyebabkan pertumbuhan akar terganggu dan pertumbuhan  tunas tidak optimal
·         Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan mempergunakan alat penyiang jenis landak atau dengan alat jenis apapun dengan tujuan  untuk membasmi gulma dan sekaligus penggemburan tanah.penyiangan dengan gasrok selain dapat mencabut rumput juga dapat menggemburkan tanah dicelah-celah tanaman padi. Penggemburan tanah bertujuan agar tercipta kondisi aerob di dalam tanah yang dapat berpengaruh baik bagi akar-akar tanaman padi yang ada di dalam tanah. Penyiangan dilakukan minimal 3 kali. Penyiangan pertama dilakukan pada umur 10 hari setelah tanam dabn selanjutnya penyiangan kedua dilakukan pada umur 30 HST daditabnn pebnyiangan ke empat pada umur 40 HST.
·         Pengendalian hama dan penyakit
ü  Lokasi SRI anorganik
a.       Pengendalian hama dan penyakit di lokasi demplot SRI dikendalikan dengan konsep PHT, dengan cara mempergunakan varietas benih yang sehat dan resisten terhadap hama dan penyakit, menanam secara serentak serta mempergunakan pestisida secara selektif
b.      Penggunaan pestisida hanya dilakukan sebagai langkah terakhir, bila ternyata serangan hama penyakit belum dapat diatasi
ü  Lokasi SRI organik
a.       Pengendalian hama trip menggunakan pestisida nabati  yang terbuat dari daun sere dan bawang putih
b.      Pengendalian belalang penggerek batang mempergunakan pestisida nabati yang terbuat buah mahoni daun tembakau dan daun suren
c.       Pengendalian wereng mempergunakan pestisida nabati dan hewani yang terbuat dari daun titonia, daun tembakau dan urine sapi yang sudah di fermentasi
·         Panen
Panen dilakukan setelah tanaman tua ditandai dengan menguningnya bulir secara merata. Bulir padi juga tidak akan berair apabila dicoba untuk di gigit. Panen dengan metode SRI biasanya lebih awal dibandingkan dengan metode yang lain jika di hitung dari umur panen




4.      BUDIDAYA PADI RATUN

Peningkatan produksi padi dapat dicapai melalui peningkatan indeks panen dan
peningkatan produksi tanaman setiap musim tanam. Padi Ratun merupakan salah satu alternatif yang dapat dikembangkan oleh petani sebagai tanaman setelah padi pertama dipanen, karena padi ratun lebih hemat sumberdaya dan lebih singkat.
.           Dalam keterbatasan sumberdaya, budidaya padi ratun ini dapat dijadikan sebagai alternatif untuk meningkatkan indeks tanam per tahun, misalnya dari 1 kali menjadi 2 kali atau dari 2 kali menjadi 3 kali tanam dalam satu tahun.
Beberapa keuntungan padi ratun, antara lain, adalah:
Tanpa pengolahan tanah, penyemaian, dan penanaman lagi
Tenaga kerja yang dibutuhkan lebih sedikit
Waktu untuk mencapai panen singkat
Kebutuhan air irigasi lebih sedikit
Biaya produksi menjadi lebih murah
Persyaratan teknis yang dibutuhkan adalah di wilayah tersebut masih tersedia air irigasi setelah tanaman utamanya dipanen, dan pengairannya dapat diatur dengan baik. Pada dasarnya membudidayakan padi ratun sangat mudah karena dengan memotong dan membiarkan tunggul sisa panen, tunas akan tumbuh. Akan tetapi, tentu pertumbuhan ratun tidak baik dan hasilnya sangat rendah. Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil yang baik,teknik budidaya yang baik perlu diterapkan, baik atau tidaknya padi ratun sangat bergantung kepada pengelolaan padi pertamanya, misalnya pengolahan tanah, perataan, sistem tanam, pengelolaan gulma. Perataan tanah yang baik akan memudahkan pengelolaan air, sehingga tanaman tumbuh seragam. Padi ratun adalah tanaman padi yang merupakan tunas yang tumbuh dari tunggul batang yang telah dipanen dan menghasilkan anakan baru hingga dapat dipanen Pada umumnya tunas-tunas baru akan muncul pada ruas terdekat dari bekas potongan, kurang lebih tiga hari setelah batang padi dipotong. Padi ratun memang tidak seperti padi tanam pindah. Pada umumnya pertumbuhan dan kecepatan kematangan padi ratun tidak seragam, dan hasil yang diperoleh lebih rendah jika dibandingkan dengan tanaman utamanya (transplanting). Akan tetapi, dengan teknik budidaya yang lebih baik, produksi padi ratun bisa ditingkatkan dan keuntungan yang lebih banyak juga bisa dicapai. Sebelum panen biasanya sawah dikeringkan untuk menyeragamkan kematangan. Untuk keperluan padi ratun, pengeringan dimaksudkan untuk memperbaiki aerasi tanah, dan menekan perkembangan hama dan penyakit dalam tanah. Padi pertama yang ditanam dengan sistem tanam jajar legowo lebih baik jika dibandingkan dengan sistem tegel. Jajar legowo yang dikenal baik karena populasi tanamannya lebih banyak, terdapat lorong lebar yang membuat lebih mudah dalam pelaksanaan pekerjaan. Dengan adanya lorong lebar, kerusakan batang jerami pada saat panen dan pemotongan jerami dapat dihindari, dengan cara orang yang memanen harus berjalan sepanjang lorong itu. Saat terbaik untuk panen tanaman padi yang dipersiapkan untuk padi ratun adalah pada saat tangkai atau batang jerami masih hijau, bulir padi belum matang penuh dan kering. Sebagai patokan, lakukan pemanenan 5 hari sebelum umur panen seperti tertera pada diskripsi varietas. Hal ini penting karena pada kondisi seperti itu, batang padi secara fisiologis masih aktif untuk pertumbuhan anakan ratun.
Jika panen dilakukan terlambat akan menyebabkan daya tumbuh tunas berkurang, dan banyak benih padi yang gugur dan pada saat tumbuh nanti justru akan menjadi gulma. Oleh karena itu, setelah padi dipanen, sawah segera digenangi. Penggenangan setinggi ± 5 cm selama 2-3 hari, dan kemudian air dikeluarkan lagi. Penggenangan dimaksudkan untuk menjaga agar tanah tetap lembab sehingga batang padi yang masih berdiri tidak kering. Ada kalanya, pada saat panen air tanah masih pada kapasitas lapang. Jika kondisinya demikian maka tidak perlu lagi digenangi karena sudah cukup. Padi ratun diusahakan dengan ketinggian pemotongan yang berbeda, yaitu:
 a) Padi ratun biasa yang dipotong tinggi,
b) Padi ratun dipotong pendek.
Jika kondisi lahan sawah terdapat banyak gulma, maka gulma dibersihkan secara manual. Pembersihan gulma ini penting karena jika tidak dibersihkan, setelah jerami dipotong dan lahan terbuka, gulma akan tumbuh lebih cepat dibandingkan tanaman ratun. Pembersihan gulma ini dimaksudkan bukan hanya untuk mengurangi kompetisi antara gulma dengan padi ratun, tetapi juga untuk menekan berkembangnya hama dan penyakit. Pembersihan gulma yang lebih awal ini juga Padi ratun pendek, sisa batang padi dipotong lagi pada ketinggian 2-5 cm di atas permukaan tanah. Pemotongan dilakukan 7 hari setelah panen. Pada saat pemotongan ini, keadaan sawah dipastikan tidak tergenang. Pemotongan dilakukan seragam sama tinggi agar pertumbuhan ratun juga seragam. Potongan-potongan jerami diletakkan di sekitar tunggul tanaman sehingga menjadi mulsa yang dapat menekan pertumbuhan gulma pada awal pertumbuhan padi ratun. Mulsa jerami ini akan menjadi bahan organik yang kelak menambah kesuburan tanah. Jerami jangan menutup tunggul batang padi. Jika hal itu terjadi maka tunas baru tidak akan tumbuh. Keuntungan ratun pendek secara teknis, yaitu:
Anakan tumbuh lebih banyak.
Anakan tumbuh dari bawah sehingga akar baru juga akan tumbuh, dan suplei hara tidak bergantung kepada batang lama.
Ada pengembalian potongan jerami ke lahan
sawah sebagai mulsa dan bahan organik.
Kurang lebih 7 hari setelah pemotongan batang jerami, tunas-tunas baru sudah tumbuh merata menjadi anakan padi. Saat itu lahan sawah sudah dapat diairi seperti halnya pada tanaman biasa (transplanting). Penggenangan dimaksudkan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman padi, tetapi juga untuk menekan pertumbuhan gulma, terutama gulma daun sempit.
Pada dasarnya semua tanaman untuk pertumbuhannya membutuhkan unsur hara yang
cukup. Kekurangan unsur hara menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat dan pada akhirnya gabah yang dihasilkan juga rendah.
Pada padi ratun pendek, gulma tumbuh lebih lambat karena tertutup oleh mulsa sisa potongan jerami. Gulma yang tumbuh bukan hanya tanaman liar, tetapi juga bulir padi panenan pertama yang gugur. Pengaturan air pada awal pertumbuhan merupakan kunci utama untuk penumbuhan tunas dan anakan. Sebelum tunas tumbuh secara merata, tidak boleh dilakukan penggenangan sebab dapat menyebabkan pertumbuhan tunas terlambat dan bahkan tunggul dapat menjadi busuk. Untuk padi ratun yang utama adalah Nitrogen. Pupuk urea (N) diberikan dua kali. Pertama, pada umur 10-12 hari setelah pemotongan tunggul, atau setelah sebagian besar tunas baru sudah muncul kepermukaan. Berikan dengan jumlah 1/2 dosis. Pemupukan awal ini dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tunas-tunas baru lebih cepat dan banyak. Sisanya yang ½ bagian diberikan pada umur tanaman 25 - 30 hari setelah pemotongan. Padi ratun pendek (2-5 cm), penjarangan dan penyisipan dapat dilakukan untuk mengganti tunggul yang tidak tumbuh. Penyisipan dilakukan saat tanaman berumur 14 hari sampai 20 hari. Untuk menyisip digunakan rumpun yang anakannya banyak. Ambil sebagian dari rumpun tersebut dan tanam pindahkan untuk mengganti yang kosong atau tidak tumbuh. Pada padi ratun yang dipotong pendek, penyiangan tidak dapat dilakukan dengan landak, karena di sekitar tanaman terdapat potongan jerami sehingga menyulitkan penggunaan alat. Penyiangan dengan landak menyebabkan jerami akan terdorong dan terkumpul di satu tempat. Oleh karena itu, penyiangan dilakukan secaramanual dengan tangan. Perkembangan rumpun padi ratun pendek umur 21 hari dan 28 hari setelah panen padi pertama Padi ratun umur 45 hari Padi ratun umur 70 hari Bersamaan dengan penyiangan dilakukan pembenaman
jerami. Pembenaman sisa jerami dimaksudkan agar prosespelapukan jerami lebih cepat. Pembenaman dilakukan dengan cara menginjak-injak sehingga tanah akan menjadi lumpur.
Penyiangan dan pembenaman jerami dilakukan pada umurtanaman 20-25 hari, atau dengan memperhatikan kondisi gulma, yaitu apabila gulma telah menduduki 2/3 dari luasareal.
           
B.     BUDIDAYA PADI GOGO
1.       TEKNIK BUDIDAYA
A. Pemilihan Varietas
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan varietas padi gogo untuk diusahakan di suatu daerah antara lain adalah;
1. Kesesuaiannya terhadap lingkungan tumbuh (ketinggian tempat, iklim),
2. Umur tanaman yang erat kaitannya dengan curah hujan yang ada dan pola tanam,
3. Ketahanan terhadap hama dan penyakit,
4. Produktivitas.
Sedangkan syarat benih yang baik:
a) Tidak mengandung gabah hampa, potongan jerami, kerikil, tanah dan hama gudang.
b) Warna gabah sesuai aslinya dan cerah.
c) Bentuk gabah tidak berubah dan sesuai aslinya.
d) Daya perkecambahan >80%.
B. Pengolahan Lahan
Pengolahan tanah untuk pertanaman padi gogo dimulai sebelum atau menjelang musim penghujan. Pengolahan tanah dilakukan sesuai kondisi lahan. Pada prinsipnya pengolahan tanah dilakukan untuk menciptakan kondisi yang optimal bagi pertumbuhan tanaman, yaitu menciptakan keseimbangan antara padatan, aerasi dan kelembaban tanah. Ada lahan yang perlu pengolahan tanah sedikit (minimum tillage) atau bahkan tidak perlu pengolahan tanah (zerro tillage) seperti tanah podzolik merah Kuning di Sumatra yang memiliki tingkat kemiringan > 10%. Karena jika dilakukan pengolahan tanah justru akan merugikan disamping menambah biaya juga menyebabkan tanah lebih peka terhadap erosi sehingga kesuburannya menurun. Demikian pula hasil padi yang diperoleh antara sistem olah tanah sempurna dengan oleh tanah minimum tidak berbeda nyata, sehingga sistem olah tanah minimum lebih ekonomis. Cara pengolahan tanah adalah sebagai berikut:
1. Lahan dibersihkan dari tanaman penggangu dan rumput sambil memperbaiki pematang dan saluran drainase.
2. Tanah dibajak dua kali pada kedalaman 25-30 cm, tanah dibalik.
3. Pemupukan organik diberikan pada waktu pembajakan yang kedua sebanyak 20 ton/ha.
4. Untuk menghaluskan tanah, tanah digaru lalu diratakan.
5. Tanah dibiarkan sampai hujan turun.
Dalam budidaya tanpa olah tanah untuk mengendalikan gulma digunakan herbisida. Sebelum aplikasi herbisida dilakukan, gulma (terutama alang-alang) direbahkan atau dibakar terlebih dahulu, setelah tumbuh sekitar 60 cm (tidak sedang berbunga) baru diadakan penyemprotan. Takaran herbisida jenis Roundup antara 5-6 l/ha dengan pelarut air antara 200-800 l/ha.
C. Waktu tanam
Penaman yang baik dilakukan setelah terdapat 1 – 2 kali hujan, awal musim penghujan (Oktober – Nopember). Bahkan ada petani yang telah menebar benih pagi gogo sebelum hujan turun atau yang lebih dikenal dengan sistem Sawur tinggal. Sistem tanam sawur tinggal dapat dianjurkan pada daerah-daerah yang memiliki curah hujan sedikit (bulan basah antara 3 – 4 bulan) per tahun dan sulit mendapatkan tenaga kerja.
D. Penanaman
Penanaman padi gogo pada dasarnya dapat dilakukan dengan tiga macam cara yaitu :
1. Cara tanam disebar
Cara tanam ini dilakukan dengan menyebar rata diatas permukaan tanah atau lahan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Kebutuhan benih pada cara ini biasanya lebih banyak dibandingkan cara yang lain, yaitu berkisar 60 – 70 kg/ha. Cara tanam ini mempunyai keuntungan tenaga kerja tanam yang dibutuhkan sedikit. Kelemahan dari cara ini antara lain :
ØMemerlukan benih lebih banyak
ØResiko benih dimakan hama lebih tinggi, karena di permukaan
ØTanaman lebih peka terhadap kekeringan atau kekurangan air.
ØResiko benih hanyut jika terjadi hujan lebat lebih tinggi
ØLebih sulit dalam perawatan, termasuk pengendalian gulma.
Untuk mengurangi resiko atau kelemahan tersebut maka perlu dilakukan antisipasi seperti pembuatan saluran drainase atau parit-parit sehingga terbentuk bedeng-bedeng untuk mencegah genangan air. Guna mengendalikan rumput sebaiknya diaplikasikan herbisida pra tumbuh sebelum sebar benih. Penggunaan seed treatment untuk menanggulangi hama.
2. Cara tanam alur
Lahan yang telah dipersiapkan dibuat alur-alur sedalam 3 – 4 cm, dengan jarak antar alur 20 – 25 cm. Kemudian dalam alur tersebut disebarkan benih padi secara iciran, artinya benih padi dijatuhkan secara manual dengan tangan dan diatur sedemikian rupa sehingga benih jatuh dalam alur tersebut secara merata. Setelah itu benih dalam alur ditutup kembali dengan tanah. Kebutuhan benih cara tanam alur ini berkisar antara 40 – 50 kg/ha, jadi lebih sedikit dibandingkan dengan sistem sebar.
3. Cara tanam tugal
Pada cara tanam ini lahan yang sudah siap dibuat lubang-lubang tanam dengan menggunakan tugal. Pada umumnya untuk pertanaman padi gogo menggunakan jarak tanam 20 x 20 cm. Setelah lubang bekas tugal terbentuk kemudian 2 – 3 butir benih dimasukkan ke dalam setiap lubang tanam dan selanjutnya ditutup kembali dengan tanah. Sebaiknya sebelum ditanam benih direndam sekitar 6 – 12 jam, kemudian dikeringanginkan sekitar 6 – 12 jam. Pada cara tanam dengan tugal ini kebutuhan benihnya ± 30 kg/ha, dan perawatan tanaman akan lebih mudah. Oleh karena itu cara ini yang paling banyak dipraktekkan oleh petani meskipun memerlukan tenaga kerja tanam lebih banyak dibandingkan cara sebat atau alur.
Jarak tanam atau jarak antar larik dan jumlah benih/lubang/ha sangat tergantung pada tingkat kesuburan tanah dan kualitas benih yang ditanam. Semakin subur tanah, jarak tanam dapat semakin rapat. Demikian pula, semakin baik kualitas benih, maka semakin sedikit jumlah benih yang diperlukan. Jarak tanam, jumlah benih dan cara tanam dapat berpengaruh terhadap hasil padi gogo di lahan kering.
E. Pemeliharaan
1. Penyiraman
Penyulaman Padi Gogo dilakukan pada umur 1-3 minggu setelah tanam.
2. Penyiangan
Dilakukan secara mekanis dengan cangkul kecil, sabit atau dengan tangan waktu tanaman berumur 3-4 minggu dan 8 minggu. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan pertama dan 1-2 minggu sebelum muncul malai.
3. Pemupukan
Pupuk yang digunakan dalam budidaya padi gogo sebaiknya dikombinasikan antara pupuk organik dan pupuk anorganik. Pemberian pupuk organik (pupuk kandang atau kompos), dapat memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Sedangkan pemberian pupuk anorganik yang dapat menyediakan hara dalam waktu cepat, pada dosis yang sesuai kebutuhan tanaman berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan hasil.
Pupuk organi diaplikasikan pada saat penyiapan lahan. Pupuk ini dipakai untuk meningkatkan kandungan C organik tanah dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme tanah. Dosis pupuk pada pertanaman padi gogo harus disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanahnya. Jenis pupuk anorganik yang diberikan berupa 150-200 kg/ha Urea, 75 kg/ha TSP dan 50 kg/ha KCl. Pupuk TSP dan KCl diberikan saat tanam dan urea pada 3-4 minggu dan 8 minggu setelah tanam. Pupuk urea , TSP maupun KCl sebaiknya diberikan dalam alur atau ditugal kemudian ditutup kembali dengan tanah untuk mencegah kehilangan unsurnya.
4. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman
a. Pengendalian gulma
Gulma yang tumbuh pada pertanaman padi gogo di lahan kering dapat digolongkan menjadi golongan gulma berdaun lebar, golongan rumput dan golongan teki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akibat pengendalian gulma yang terlambat satu bulan dapat menurunkan hasil sampai 17% (Lamid, Z.1984).
Pengendalian gulma dilakukan secara kultur teknis dan secara kimiawi dengan menggunakan herbisida. Secara mekanis gulma dapat dikendalikan dengan menggunakan cangkul atau kored. Pelaksanaannya dilakukan pada saat tanaman berumur 14 – 28 hari dan 60 hst. Sedangkan untuk mengendalikan gulma secara kimiawi dengan herbisida, dapat mengikuti petunjuk dari hasil Penelitian Puslitbangtan Bogor tentang jenis herbisida yang dapat digunakan untuk pertanaman padi gogo seperti Satunil 60 EC, Ronstar 25 EC dan Gasafax 80 WP
b. Hama tanaman padi gogo
1) Hama lalat bibit
Lalat bibit (Atherigona oryzae) termasuk hama penting pada padi gogo. Larva dari lalat ini menimbulkan kerusakan pada tanaman muda. Larva menyerang anakan tanaman padi yang sedang tumbuh, sehingga anakan mati seperti terserang sundep. Anakan yang dapat bertahan daunnya cacat dan mudah sobek dan pada umumnya tanaman yang terserang hama ini dapat sembuh, tetapi akan terlambat masak sekitar 7 – 10 hari.
Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan penanaman padi gogo pada awal musim hujan. Penggunaan varietas yang tahan seperti Arias, Seratus Malam Danau atas juga dapat dilakukan. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan seed treatment menggunakan Larvin 75 WP atau Marshall 25 ST. Sedangkan setelah tanaman berumur 7 hari dapat dilakukan penyemprotan dengan Dekasulfan 350 EC.
2) Hama lundi
Hama lundi (Phillophaga helleri) atau lebih dikenal dengan hama uret termasuk hama penting pada pertanaman padi gogo. Stadia yang merusak dari hama lundi adalah larvanya. Untuk hidupnya, hama ini membutuhkan kelembaban tanah yang tinggi. Disamping itu hama lundi menyukai tanaman yang berakar serabut. Pemakaian bahan organik juga dapat mendorong hama lundi, karena larva yang baru menetas akan makan bahan organik yang ada di dalam tanah. Tanaman padi yang terserang menjadi kerdil dan kayu.
Pengendalian hama lundi secara kultur teknis dapat dilakukan dengan penundaan pengolahan tanah sampai kumbang dewasa selesai bertelur, yaitu kira-kira terjadi setelah 3 minggu turun hujan. Dengan pengolahan tanah yang dalam, telur dan larva akan terangkat ke permukaan tanah sehingga dapat dirusak oleh sinar matahari atau musuh alaminya. Insektisida yang efektif untuk hama lundi adalah Furadan atau Dharmafur 3 G yang diberikan dekat alur tanaman pada saat tanam dengan dosis 10 kg/ha.
3) Hama wereng coklat
Wereng penyerang batang padi: wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng padi berpunggung putih (Sogatella furcifera). Merusak dengan cara mengisap cairan batang padi. Saat ini hama wereng paling ditakuti oleh petani di Indonesia. Wereng ini dapat menularkan virus.
Gejala: tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tnaman seperti terbakar, tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil. Pengendalian: (1) bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah; (2) penerapan pola tanam, jangan menanam padi lebih dari 2 kali musim tanam pertahun (3) pembajakan sisa-sisa panen dengan segera (4) pemberian pupuk nitrogen secara bertahap. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemportan insektisida Applaud 10 WP, Applaud 400 FW atau Applaud 100 EC dengan dosis sesuai petunjuk pada label.
4) Walang sangit (Leptocoriza acuta)
Menyerang buah padi yang masak susu dengan cara menghisap cairan di dalamannya.
Gejala: dan menyebabkan buah hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak enak; pada daun terdapat bercak bekas isapan dan buah padi berbintik-bintik hitam. Pengendalian: (1) bertanam serempak, peningkatan kebersihan, mengumpulkan dan memunahkan telur, melepas musuh alami seperti jangkrik; (2) menyemprotkan insektisida Bassa 50 EC, Dharmabas 500 EC, Dharmacin 50 WP, Kiltop 50 EC.
5) Hama tikus (Rattus argentiventer)
Tanaman padi akan mengalami kerusakan parah apabila terserang oleh hama tikus dan menyebabkan penurunan produksi padi yang cukup besar. Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan buah.
Gejala: adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman.
Pengendalian: pergiliran tanaman, sanitasi, gropyokan, melepas musuh alami seperti ular dan burung hantu, penggunaan pestisida dengan tepat, intensif dan teratur, memberikan umpan beracun seperti seng fosfat yang dicampur dengan jagung atau beras.
c. Penyakit tanaman padi gogo
1) Bercak daun coklat

vPenyebab: jamur Helmintosporium oryzae).
vGejala: menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah busuk dan kecambah mati.
vPengendalian: (1) merendam benih di dalam air panas, pemupukan berimbang, menanam padi tahan penyakit ini, menaburkan serbuk air raksa dan bubuk kapur (2:15); (2) dengan insektisida Rabcide 50 WP.
2) Blast
vPenyebab: jamur Pyricularia oryzae.
vGejala: menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Serangan menyebabakn daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk. Proses pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa.
vPengendalian: (1) membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varietas unggul yang tahan (laut tawar, IR 43, danau atas, dll); (2) pemberian pupuk berimbang, khusuasya antara nitrogen dan fosfat di saaat pertengahan fase vegetative dan fase pembentukan bulir; (3) pergiliran varietas (4) menyemprotkan insektisida Fujiwan 400 EC, Fongorene 50 WP, Kasumin 20 AS atau Rabcide 50 WP.

3) Penyakit garis coklat daun (Narrow brown leaf spot,)
vPenyebab: jamur Cercospora oryzae.
vGejala: menyerang daun dan pelepah. Tampak gari-garis atau bercak-bercak sempit memanjang berwarna coklat sepanjang 2-10 mm. Proses pembungaan dan pengisian biji terhambat.
vPengendalian: (1) menanam padi tahan penyakit ini seperti Citarum, mencelupkan benih ke dalam larutan merkuri; (2) menyemprotkan fungisida Benlate T 20/20 WP atau Delsene MX 200.
4) Busuk pelepah daun
vPenyebab: jamur Rhizoctonia sp.
vGejala: menyerang daun dan pelepah daun, gejala terlihat pada tanaman yang telah membentuk anakan dan menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun. Penyakit ini tidak terlalu merugikan secara ekonomi.
vPengendalian: (1) menanam padi tahan penyakit ini; (2) menyemprotkan fungisida pada saat pembentukan anakan seperti Monceren 25 WP dan Validacin 3 AS.
5) Penyakit fusarium
vPenyebab: jamur Fusarium moniliforme.
vGejala: menyerang malai dan biji muda, malai dan biji menjadi kecoklatan hingga coklat ulat, daun terkulai, akar membusuk, tanaman padi. Kerusakan yang diderita tidak terlalu parah.
vPengendalian: merenggangkan jarak tanam, mencelupkan benih pada larutan merkuri.
6) Penyakit noda/api palsu
vPenyebab: jamur Ustilaginoidea virens.
vGejala: malai dan buah padi dipenuhi spora, dalam satu malai hanya beberap butir saja yang terserang. Penyakit tidak menimbulkan kerugian besar. Pengendalian: memusnahkan malai yang sakit, menyemprotkan fungisida pada malai sakit.
5. Panen
Umur panen padi gogo bervariasi tergantung varietas dan lingkungan tumbuh. Panen sebaiknya dilakukan pada fase masak panen yang dicirikan dengan kenampakkan >90% gabah sudah menguning (33-36 hari setelah berbunga), bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah hijau dan kadar air gabah 21-26 %. Panen yang dilakukan pada fase masak lewat panen, yaitu pada saat jerami mulai mengering, pangkal mulai patah, dapat mengakibatkan banyak gabah yang rontok saat dipanen.
Sebelum pemanenan, dilakukan pengeringan sawah 7-10 hari sebelum panen, gunakan sabit tajam untuk memotong pangkal batang, simpan hasil panen di suatu wadah atau tempat yang dialasi. Panen dengan menggunakan mesin akan menghemat waktu, dengan alat Reaper binder panen dapat dilakukan selama 15 jam untuk setiap hektar, sedangkan dengan Reaper harvester panen hanya dilakukan selama 6 jam untuk 1 hektar. Perontokan hasil panen menggunakan pedal thresher. Perontokan dengan pengebotan (memukul-mukul batang padi pada papan) sebaiknya dihindari karena kehilangan hasilnya cukup besar, bisa mencapai 3,4%. Kegiatan yang dilakukan pasca panen seperti berikut :
1. Perontokan. Lakukan secepatnya setelah panen, gunakan cara diinjak-injak (±60 jam orang untuk 1 hektar), dihempas/dibanting (± 16 jam orang untuk 1 hektar) dilakukan dua kali di dua tempat terpisah. Dengan menggunakan mesin perontok, waktu dapat dihemat. Perontokan dengan perontok pedal mekanis hanya memerlukan 7,8 jam orang untuk 1 hektar hasil panen.
2. Pembersihan. Bersihkan gabah dengan cara diayak/ditapi atau dengan blower manual. Kadar kotoran tidak boleh lebih dari 3 %.
3. Jemur gabah selama 3-4 hari selama 3 jam per hari sampai kadar airnya 14%. Secara tradisional padi dijemur di halaman. Jika menggunakan mesin pengering, kebersihan gabah lebih terjamin daripada dijemur di halaman.
4. Penyimpanan. Gabah dimasukkan ke dalam karung bersih dan jauhkan dari beras karena dapat tertulari hama beras. Gabah siap dibawa ke tempat penggilingan beras (huller).














BAB III
KESIMPULAN DAN PENUTUP
A.    Kesimpulan

Teknik budidaya padi meliputi persemaian , persiapan dan pebngolahan tanah , penanaman,pemeliharaan
Legowo adalah cara tanam padi sawah yang memiliki beberapa barisan tanaman kemudian diselingi oleh 1 baris kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir setengah kali jarak tanaman pada baris tengah.
Cara tanam jajar legowo untuk padi sawah seara umum bisa dilakukan dengan berbagai tipe yaitu: legowo (2:1),(3:1) ,(4:1) ,(5:1) ,atau tipe lainnya. Namun dari hasil penelitian , tipe terbaik untuk mendapatkan produksi gabah tertinggi dicapai oleh legowo 4:1,dan untuk mendapatkan bulir gabah berkualitas benih dicapai oleh legowo 2:1.
Padi Ratun merupakan salah satu alternatif yang dapat dikembangkan oleh petani sebagai tanaman setelah padi pertama dipanen, karena padi ratun lebih hemat sumberdaya dan lebih singkat.
.           Dalam keterbatasan sumberdaya, budidaya padi ratun ini dapat dijadikan sebagai alternatif untuk meningkatkan indeks tanam per tahun, misalnya dari 1 kali menjadi 2 kali atau dari 2 kali menjadi 3 kali tanam dalam satu tahun.
Beberapa keuntungan padi ratun, antara lain, adalah:
Tanpa pengolahan tanah, penyemaian, dan penanaman lagi
Tenaga kerja yang dibutuhkan lebih sedikit
Waktu untuk mencapai panen singkat
Kebutuhan air irigasi lebih sedikit
Biaya produksi menjadi lebih murah
Padi gogo merupakan jenis padi yang dibudidayakan pada lahan marginal atau lahan kering dimana pemenuhan kebutuhan air tanaman tergantung pada hujan yang turun (tadah hujan). Oleh karena itu penaman yang baik dilakukan setelah terdapat 1 – 2 kali hujan, awal musim penghujan (Oktober – Nopember) agar kebutuhan air teerpenuhi. Padi ini pada umumnya lebih banyak diusahakan di daerah-daerah di luar Pulau Jawa, terutama Sumatera, Kalimantan dan Nusa Tenggara karena sebagian besar wilayah ini berbukit-bukit dan merupakan jenis lahan kering.
Pada dasarnya dalam budidaya tanaman, pertumbuhan dan perkembangan tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor genetis dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang paling penting adalah tanah dan iklim serta interaksi kedua faktor tersebut. Tanaman padi gogo dapat tumbuh pada berbagai agroekologi dan jenis tanah.
Ada lahan yang perlu pengolahan tanah sedikit (minimum tillage) atau bahkan tidak perlu pengolahan tanah (zerro tillage). Pengolahan tanah yang sempurna justru merugikan, karena disamping menambah biaya juga menyebabkan tanah lebih peka terhadap erosi sehingga kesuburannya menurun. Demikian pula hasil padi yang diperoleh antara sistem olah tanah sempurna dengan oleh tanah minimum tidak berbeda nyata, sehingga sistem olah tanah minimum lebih ekonomis.







B. Penutup
Dalam peningkatan ketahan pangan nasional, peran padi gogo tidak kalah pentingnya. Meskipun memiliki umur yang lebih panjang, namun dari segi kualitas hasil tidak kalah dengan jenis padi sawah. Agar diperoleh hasil yang maksimal, maka budidaya secara intensif perlu dilakukan sehingga kegiatan ladang secara berpindah dapat ditekan perkembangannya terutama untuk di daerah di luar Jawa







DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1996. Intensifikasi Padi Gogo. Departemen Pertanian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian; Ungaran
Noor, M. 1996. Padi Lahan Marginal. Penebar Swadaya; Bogor
Hantoro, F.R.P. 2007. Teknologi Budidaya Padi Gogo. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Teguh Rahayu. 2000. Budidaya Tanaman Padi Dengan Teknologi Mig-6 plus. BPP Teknologi dan MiG-6 Plus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar