PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Tanaman jagung
merupakan bahan baku industry pakan dan pangan serta
sebagai makanan pokok di beberapa daerah di Indonesia. Dalam bentuk biji utuh,
jagung dapat diolah misalnya menjadi tepung jagung, beras jagung, dan makanan ringan
(pop corn dan jagung marning). Jagung dapat pula diproses menjadi minyak
goreng, margarin, dan formula makanan. Pati jagung dapat digunakan sebagai
bahan baku industri farmasi dan makanan seperti es krim, kue, dan minuman.
Karena cukup
beragamnya kegunaan dan hasil olahan produksi tanaman jagung tersebut diatas,
dan termasuk sebagai komoditi tanaman pangan yang penting, maka perlu
ditingkatkan produksinya secara kuantitas, kualitas dan ramah lingkungan
berkelanjutan.
Jagung (Zea mays L) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis
rumputan/graminae yang mempunyai batang tunggal,
meski terdapat
kemungkinan munculnya cabang
anakan pada beberapa
genotipe dan lingkungan tertentu. Batang jagung Terdiri atas buku dan ruas. Daun jagung tumbuh pada setiap buku, berhadapan
satu sama lain. Bunga jantan terletak
pada bagian terpisah
pada satu tanaman sehingga lazim terjadi penyerbukan silang. Jagung merupakan tanaman hari pendek, jumlah daunnya
ditentukan pada saat
inisiasi
bunga jantan, dan
dikendalikan oleh
genotipe, lama
penyinaran, dan suhu.
Pemahaman morfologi dan fase pertumbuhan jagung sangat
membantu dalam mengidentifikasi pertumbuhan
tanaman,
terkait
dengan optimasi perlakukan agronomis.
Cekaman air (kelebihan dan kekurangan), cekaman hara (defisiensi dan keracunan), terkena herbisida atau serangan hama dan penyakit akan
menyebabkan tanaman tumbuh tidak normal,
atau tidak sesuai
dengan morfologi tanaman.
Hasil dan
bobot biomas jagung yang tinggi akan
diperoleh
jika per- tumbuhan tanaman optimal. Untuk itu diperlukan pengelolaan hara, air,
dan
tanaman dengan tepat. Pengelolaan hara dan tanaman yang mencakup
pemupukan (waktu
dan takaran),
pengairan, dan pengendalian gulma harus sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman.
Terdapat beberapa metode penentuan fase
pertumbuhan jagung. Metode yang umum digunakan adalah metode leaf collar, yaitu menentukan fase pertumbuhan berdasarkan jumlah daun yang tidak lagi membungkus batang atau telah terbuka sempurna selama fase vegetatif, termasuk daun pertama yang muncul, round-tipped
leaf.
Metode penentuan fase pertumbuhan perlu diketahui dalam budi daya
tanaman.
B. Tujuan
Tujuan
dibuatnya makalah ini adalah
1. Agar mahasiswa mengetahui klasifikasi, morfologi,
pertumbuhan dan perkembangan jagung, syarat tumbuh jagung, serta teknik
budidaya tanaman jagung
2. Untuk memnuhi salah satu penilaian kuliah yaitu
sebagai tugas kuliah
PEMBAHASAN
A. Klasifikasi
tanaman jagung
Klasifikasi Ilmiah:
Kingdom :
Plantae
Divisio
: Angiospermae
Kelas
: Monocotyledon klasi
Ordo
: Poales
Famila
: Poaceae/Gramineae
Genus
:Zea
Spesies : Zea
mays
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa tanaman
jagung merupakan tumbuhan berbiji tertutup, merupakan tanaman monokotil yaitu
tanaman yang bijinya berkeping satu, yang merupakan tanaman rumput-rumputan.
B.
Morfologi tanaman jagung
Tanaman jagung
termasuk famili rumput-rumputan (graminae) dari subfamili myadeae. Dua famili yang berdekatan dengan
jagung adalah teosinte dan tripsacum yang diduga merupakan
asal dari tanaman jagung.
Teosinte berasal dari Meksico dan
Guatemala
sebagai tumbuhan liar di daerah pertanaman jagung.
·
Sistem
Perakaran
Jagung mempunyai akar serabut dengan tiga macam akar, yaitu
(a)
akar seminal, (b) akar adventif, dan (c) akar kait atau penyangga.
Akar seminal adalah akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Pertumbuhan akar seminal akan melambat setelah plumula muncul ke permukaan
tanah dan pertumbuhan akar seminal akan berhenti pada fase V3. Akar
adventif adalah akar yang semula berkembang dari buku di ujung mesokotil, kemudian
set akar adventif berkembang dari tiap buku secara
berurutan
dan terus ke atas antara 7-10 buku, semuanya di bawah permukaan tanah. Akar adventif berkembang menjadi serabut
akar tebal.
Akar seminal
hanya sedikit
berperan dalam siklus hidup jagung. Akar adventif berperan dalam pengambilan air dan hara. Bobot total akar jagung terdiri
atas 52% akar adventif seminal
dan 48% akar nodal. Akar kait atau penyangga adalah akar adventif yang muncul pada dua atau tiga buku di atas permukaan tanah.
Fungsi dari akar penyangga
adalah menjaga tanaman agar tetap tegak dan mengatasi
rebah batang. Akar ini juga membantu penyerapan hara dan air.
Perkembangan akar jagung (kedalaman
dan penyebarannya) bergantung pada varietas,
pengolahan tanah, fisik dan kimia tanah, keadaan air tanah, dan pemupukan. Akar jagung dapat dijadikan indikator
toleransi tanaman terhadap cekaman aluminium. Tanaman
yang toleran aluminium, tudung akarnya terpotong dan tidak mempunyai bulu-bulu
akar (Syafruddin
2002). Pemupukan nitrogen
dengan takaran berbeda menyebabkan perbedaan perkembangan (plasticity) sistem perakaran
jagung (Smith et al. 1995).
·
Batang dan
Daun
Tanaman jagung mempunyai batang yang
tidak
bercabang, berbentuk silindris, dan terdiri atas
sejumlah ruas dan
buku ruas. Pada
buku ruas terdapat tunas
yang berkembang menjadi tongkol. Dua
tunas
teratas berkembang
menjadi
tongkol yang
produktif. Batang memiliki tiga komponen jaringan
utama, yaitu kulit (epidermis), jaringan
pembuluh (bundles
vaskuler), dan pusat batang (pith). Bundles vaskuler
tertata dalamlingkaran konsentris
dengan kepadatan bundles yang tinggi, dan lingkaran- lingkaran menuju perikarp
dekat epidermis. Kepadatan bundles berkurang
begitu mendekati pusat batang. Konsentrasi bundles vaskuler yang tinggi di bawah epidermis menyebabkan
batang tahan rebah. Genotipe jagung yang mepunyai batang kuat memiliki lebih banyak lapisan jaringan
sklerenkim berdinding tebal di bawah epidermis batang dan sekeliling bundles vaskuler (Paliwal 2000). Terdapat variasi
ketebalan kulit antargenotipe yang dapat
digunakan untuk seleksi
toleransi tanaman terhadap
rebah batang.
Sesudah koleoptil muncul di
atas permukaan tanah, daun jagung mulai terbuka. Setiap daun terdiri atas
helaian daun, ligula,
dan pelepah daun yang
erat melekat pada batang. Jumlah daun sama
dengan jumlah buku batang. Jumlah daun umumya
berkisar antara 10-18 helai, rata-rata munculnya daun
yang terbuka sempurna adalah
3-4 hari
setiap daun.
Tanaman jagung di daerah tropis mempunyai jumlah daun
relatif
lebih banyak dibanding di daerah beriklim sedang ( temperate) (Paliwal 2000). Genotipe jagung mempunyai keragaman dalam hal panjang, lebar, tebal, sudut, dan
warna pigmentasi
daun. Lebar helai daun dikategorikan mulai dari sangat sempit (< 5 cm), sempit (5,1-7 cm), sedang (7,1-9 cm), lebar (9,1-11 cm), hingga sangat lebar (>11 cm). Besar sudut daun mempengaruhi tipe daun. Sudut daun jagung juga beragam,
mulai dari sangat kecil hingga sangat besar (Gambar 1). Beberapa genotipe jagung memiliki antocyanin pada helai daunnya, yang bisa terdapat
pada pinggir daun atau tulang daun. Intensitas warna antocyanin
pada pelepah daun bervariasi, dari sangat
lemah hingga sangat kuat.
Bentuk ujung daun jagung berbeda, yaitu runcing, runcing agak bulat, bulat, bulat agak tumpul, dan tumpul (Gambar 2). Berdasarkan letak posisi daun (sudut
daun) terdapat dua tipe daun jagung, yaitu tegak (erect) dan menggantung (pendant). Daun erect biasanya memiliki sudut antara kecil sampai sedang, pola helai daun bisa lurus atau
bengkok.
Daun pendant umumnya memiliki sudut yang lebar dan pola daun bervariasi dari lurus
sampai sangat bengkok. Jagung dengan tipe daun erect
memiliki kanopi kecil sehingga dapat
ditanam
dengan populasi yang tinggi. Kepadatan
tanaman yang tinggi diharapkan dapat memberikan hasil yang tinggi pula.

Sangat
kecil kecil sedang besar sangat besar
Gambar 1. Sudut daun jagung.

Runcing runcing agak bulat Bulat Bulat agak tumpul Tumpul
Gambar 2. Bentuk ujung daun
jagung.
·
Bunga
Jagung disebut juga tanaman berumah satu
(monoeciuos) karena bunga jantan dan betinanya terdapat
dalam satu tanaman. Bunga betina, tongkol, muncul dari axillary apices tajuk. Bunga jantan (tassel)
berkembang dari titik tumbuh apikal
di ujung tanaman.
Pada tahap awal, kedua bunga memiliki primordia bunga biseksual.
Selama
proses perkembangan, primordia stamen pada axillary bunga tidak berkembang
dan menjadi bunga betina.
Demikian pula halnya
primordia
ginaecium pada apikal
bunga, tidak
berkembang dan menjadi bunga jantan (Palliwal 2000). Serbuk sari (pollen) adalah trinukleat. Pollen memiliki sel vegetatif, dua gamet
jantan dan
mengandung butiran-butiran pati. Dinding tebalnya terbentuk dari
dua lapisan, exine dan intin, dan cukup keras.
Karena adanya
perbedaan perkembangan bunga pada spikelet jantan yang terletak di
atas dan bawah dan
ketidaksinkronan matangnya spike,
maka pollen pecah secara kontinu dari tiap tassel dalam tempo seminggu atau lebih.
Rambut jagung (silk) adalah pemanjangan dari saluran stylar ovary yang matang pada tongkol. Rambut jagung tumbuh dengan panjang hingga 30,5 cm
atau lebih sehingga keluar dari ujung kelobot. Panjang rambut jagung
bergantung pada panjang tongkol dan
kelobot.
Tanaman jagung adalah
protandry,
di mana pada
sebagian besar
varietas, bunga jantannya muncul (anthesis)
1-3 hari sebelum
rambut bunga betina muncul (silking). Serbuk sari (pollen) terlepas mulai dari spikelet
yang terletak pada spike yang di tengah, 2-3 cm dari ujung malai (tassel), kemudian turun ke bawah. Satu bulir anther melepas 15-30 juta serbuk sari. Serbuk sari sangat
ringan dan jatuh karena gravitasi atau
tertiup angin sehingga terjadi penyerbukan silang. Dalam keadaan
tercekam
( stress) karena kekurangan
air, keluarnya rambut tongkol
kemungkinan tertunda, sedangkan keluarnya malai tidak terpengaruh. Interval
antara keluarnya bunga betina dan bunga jantan (anthesis silking interval,
ASI) adalah hal yang
sangat penting. ASI yang
kecil menunjukkan terdapat
sinkronisasi pembungaan, yang berarti peluang
terjadinya
penyerbukan sempurna
sangat besar. Semakin besar nilai ASI semakin kecil sinkronisasi
pembungaan dan penyerbukan terhambat sehingga menurunkan hasil. Cekaman
abiotis umumnya mempengaruhi nilai ASI,
seperti pada cekaman kekeringan dan temperatur tinggi.
Penyerbukan pada jagung terjadi bila serbuk sari
dari bunga jantan menempel pada rambut tongkol. Hampir
95% dari persarian tersebut berasal
dari serbuk sari tanaman lain, dan hanya 5% yang berasal dari serbuk
sari tanaman sendiri. Oleh karena itu, tanaman jagung disebut
tanaman bersari silang (cross pollinated
crop), di mana
sebagian besar dari serbuk sari
berasal dari tanaman lain. Terlepasnya serbuk sari berlangsung 3-6 hari, bergantung pada varietas, suhu, dan kelembaban. Rambut tongkol tetap reseptif dalam 3-8
hari. Serbuk sari masih tetap hidup (viable) dalam 4-16 jam sesudah terlepas (shedding). Penyerbukan selesai dalam 24-36 jam dan biji mulai terbentuk sesudah 10-15 hari. Setelah penyerbukan, warna rambut tongkol berubah menjadi coklat dan
kemudian kering.
·
Tongkol dan
Biji
Tanaman jagung mempunyai satu atau
dua tongkol, tergantung varietas.
Tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak
pada bagian atas umumnya lebih
dahulu
terbentuk
dan lebih
besar
dibanding yang terletak
pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10-
16 baris biji yang jumlahnya selalu genap.
Biji jagung disebut kariopsis, dinding ovari atau perikarp menyatu dengan kulit biji atau testa, membentuk dinding buah. Biji jagung terdiri atas tiga
bagian utama, yaitu (a) pericarp,
berupa lapisan luar yang tipis, berfungsi
mencegah embrio dari organisme pengganggu dan
kehilangan
air; (b) endosperm, sebagai cadangan makanan,
mencapai 75% dari bobot biji yang mengandung 90% pati dan 10% protein, mineral,
minyak, dan lainnya; dan (c) embrio (lembaga), sebagai miniatur tanaman yang terdiri atas plamule, akar radikal, scutelum, dan koleoptil (Hardman and Gunsolus
1998).

|
Gambar 4. Biji jagung dan
bagian-bagiannya
Pati endosperm
tersusun dari senyawa anhidroglukosa yang sebagian besar terdiri atas dua molekul, yaitu amilosa dan amilopektin, dan sebagian kecil bahan antara (White 1994). Namun pada
beberapa jenis
jagung terdapat variasi proporsi kandungan
amilosa dan amilopektin. Protein
endosperm biji jagung terdiri atas beberapa
fraksi,
yang berdasarkan kelarutannya diklasifikasikan menjadi albumin
(larut dalam air), globumin (larut
dalam larutan
salin), zein atau prolamin (larut
dalam alkohol konsentrasi tinggi), dan glutein (larut dalam alkali). Pada sebagian besar
jagung, proporsi masing-masing
fraksi protein adalah albumin 3%, globulin
3%, prolamin 60%, dan glutein 34% (Vasal 1994).
Berdasarkan bentuk dan strukturnya biji jagung dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1)
Jagung Mutiara (Flint Corn), Zea mays
indurate
Biji jagung tipe mutiara berbentuk bulat licin, mengkilap, dan keras. Bagian pati yang keras terdapat di bagian atas biji. Pada saat masak, bagian atas biji mengkerut bersama-sama, sehingga permukaan
biji bagian atas licin dan bulat. Varietas lokal jagung di Indonesia
umumnya tergolong
ke dalam tipe biji mutiara. Tipe ini disukai petani karena tahan hama gudang.
2)
Jagung Gigi Kuda (Dent Corn), Zea mays indentata
Bagian pati yang keras pada tipe biji dent berada di bagian sisi biji, sedangkan bagian pati yang lunak di bagian tengah sampai ujung biji. Pada waktu biji mengering, pati lunak kehilangan air
lebih cepat dan
lebih mengkerut daripada
pati keras, sehingga terjadi lekukan ( dent) pada bagian atas biji. Biji tipe dent ini bentuknya
besar, pipih, dan berlekuk.
3)
Jagung Manis (Sweet Corn), Zea mays
saccharata
Biji jagung manis pada saat masak keriput dan transparan. Biji yang belum masak mengandung kadar gula (water-soluble polysccharride, WSP) lebih tinggi daripada pati. Kandungan gula jagung manis 4-8 kali lebih tinggi dibanding jagung normal pada umur 18-22 hari setelah penyerbukan. Sifat ini ditentukan oleh gen sugary (su) yang resesif (Tracy 1994).
4)
Jagung Pod, Z. tunicata Sturt
Jagung pod adalah jagung yang paling primitif. Jagung ini terbungkus
oleh glume atau kelobot yang berukuran kecil. Jagung pod tidak dibudidayakan secara
komersial sehingga tidak banyak dikenal. Kultivar Amerika
Selatan dimanfaatkan oleh suku
Indian dalam upacara
adat karena
dipercaya memiliki kekuatan magis.
5)
Jagung Berondong (Pop Corn ), Zea mays
everta
Tipe jagung ini memiliki
biji
berukuran
kecil. Endosperm biji mengandung pati keras dengan proporsi lebih banyak dan pati lunak dalam jumlah sedikit terletak di tengah endosperm. Apabila dipanaskan, uap
akan masuk ke
dalam biji yang kemudian membesar dan pecah (pop ).
6)
Jagung Pulut (Waxy Corn), Z. ceritina Kulesh
Jagung pulut memiliki kandungan pati hampir 100% amilopektin. Adanya gen tunggal waxy (wx) bersifat
resesif epistasis
yang terletak pada kromosom sembilan mempengaruhi komposisi
kimiawi pati,
sehingga akumulasi amilosa sangat sedikit (Fergason
1994).
7)
Jagung QPM (Quality Protein Maize)
|
1.
Jagung Minyak Tinggi (High-Oil)
Jagung minyak tinggi memiliki
biji dengan kandungan minyak lebih dari 6%,
sementara sebagian
besar jagung berkadar minyak 3,5-5%.
Sebagian
besar minyak biji terdapat dalam scutelum, yaitu 83-85% dari total minyak biji. Jagung
minyak tinggi sangat penting dalam
industri makanan,
seperti margarin dan minyak goreng, serta industri pakan. Ternak yang diberi pakan jagung minyak tinggi berdampak positif terhadap pertumbuhannya (Lambert 1994). Jagung minyak tinggi memiliki tipe biji bermacam-macam, bisa dent atau flint.
C.
FASE PERTUMBUHAN DAN PERKECAMBAHAN
Secara
umum jagung mempunyai
pola pertumbuhan yang sama,
namun interval waktu antartahap
pertumbuhan dan jumlah daun yang berkembang dapat berbeda. Pertumbuhan jagung dapat
dikelompokkan ke dalam
tiga tahap yaitu (1) fase perkecambahan, saat proses imbibisi air yang
ditandai dengan pembengkakan biji sampai
dengan sebelum
munculnya
daun pertama; (2) fase pertumbuhan vegetatif,
yaitu fase mulai munculnya daun pertama yang terbuka sempurna sampai tasseling dan sebelum keluarnya bunga
betina
(silking), fase ini diidentifiksi dengan jumlah daun
yang terbentuk; dan (3) fase reproduktif, yaitu fase pertumbuhan setelah silking sampai masak fisiologis.
Perkecambahan benih jagung terjadi ketika radikula muncul dari kulit biji. Benih jagung akan berkecambah jika kadar air benih pada saat di dalam tanah meningkat >30% (McWilliams et al.
1999). Proses perkecambahan benih jagung, mula-mula benih menyerap air melalui
proses imbibisi dan benih membengkak yang diikuti oleh kenaikan aktivitas enzim dan respirasi yang tinggi. Perubahan
awal sebagian besar adalah katabolisme pati, lemak, dan
protein yang tersimpan
dihidrolisis menjadi zat-zat yang mobil, gula, asam-asam lemak, dan asam amino yang dapat diangkut ke bagian embrio yang tumbuh aktif. Pada
awal
perkecambahan, koleoriza memanjang
menembus pericarp, kemudian
radikel menembus koleoriza. Setelah radikel muncul, kemudian empat akar
seminal lateral juga muncul. Pada waktu
yang sama atau sesaat
kemudian plumule
tertutupi oleh koleoptil. Koleoptil terdorong ke atas
oleh pemanjangan mesokotil, yang mendorong
koleoptil ke permukaan tanah. Mesokotil berperan
penting dalam
pemunculan kecambah
ke atas tanah. Ketika ujung koleoptil muncul
ke luar permukaan tanah, pemanjangan mesokotil
terhenti dan
plumul muncul
dari koleoptil dan
menembus
permukaan tanah.
|

Gambar 5. Perkecambahan benih
jagung.
Benih jagung umumnya
ditanam pada kedalaman
5-8 cm. Bila kelembaban tepat, pemunculan kecambah seragam dalam 4-5 hari setelah
tanam. Semakin dalam lubang tanam semakin
lama pemunculan kecambah ke atas
permukaan
tanah. Pada kondisi lingkungan yang lembab,
tahap pemunculan berlangsung 4-5 hari setelah tanam, namun pada kondisi yang dingin atau kering, pemunculan
tanaman dapat berlangsung hingga dua
minggu setelah tanam atau lebih.
Keseragaman perkecambahan sangat penting untuk mendapatkan hasil yang tinggi. Perkecambahan tidak seragam jika daya tumbuh benih rendah. Tanaman yang terlambat
tumbuh akan ternaungi dan gulma lebih
bersaing dengan tanaman, akibatnya
tanaman yang terlambat tumbuh tidak normal dan
tongkolnya relatif lebih kecil dibanding
tanaman yang tumbuh lebih
awal dan seragam.
Setelah perkecambahan, pertumbuhan
jagung melewati
beberapa fase berikut:
a)
Fase
V3-V5 (jumlah daun yang terbuka sempurna 3-5)
Fase ini berlangsung pada saat tanaman berumur antara 10-18 hari setelah berkecambah. Pada fase
ini akar
seminal sudah mulai berhenti
tumbuh, akar nodul sudah mulai aktif, dan titik tumbuh di bawah permukaan tanah. Suhu tanah sangat mempengaruhi titik tumbuh. Suhu rendah akan
memperlambat keluar daun,
meningkatkan jumlah daun, dan
menunda terbentuknya bunga jantan (McWilliams et al. 1999).
b)
Fase V6-V10 (jumlah daun terbuka sempurna
6-10)
Fase ini berlangsung pada saat tanaman berumur antara 18 -35 hari setelah berkecambah. Titik tumbuh sudah di atas permukaan tanah, perkembang- an akar dan penyebarannya di tanah sangat cepat, dan pemanjangan batang meningkat dengan cepat. Pada
fase ini bakal bunga jantan ( tassel) dan perkembangan tongkol dimulai (Lee 2007). Tanaman mulai menyerap
hara dalam jumlah yang
lebih banyak, karena
itu pemupukan
pada fase ini diperlukan untuk mencukupi kebutuhan hara
bagi tanaman
(McWilliams et al. 1999).
c)
Fase V11- Vn (jumlah daun terbuka sempurna
11 sampai daun terakhir
15-18)
Fase ini berlangsung pada saat tanaman berumur antara 33-50 hari setelah berkecambah. Tanaman
tumbuh dengan cepat dan akumulasi bahan kering meningkat dengan cepat pula.
Kebutuhan hara dan air relatif sangat tinggi untuk mendukung laju
pertumbuhan
tanaman. Tanaman sangat sensitif terhadap
cekaman kekeringan dan kekurangan hara. Pada fase ini, kekeringan
dan kekurangan hara
sangat berpengaruh terhadap per-
tumbuhan dan perkembangan tongkol, dan bahkan
akan
menurunkan jumlah biji dalam satu tongkol karena mengecilnya tongkol,
yang akibatnya menurunkan hasil (McWilliams et al. 1999, Lee 2007). Kekeringan pada fase ini juga akan memperlambat munculnya bunga betina ( silking).
d) Fase Tasseling (berbunga
jantan)
Fase tasseling biasanya berkisar
antara 45-52 hari, ditandai oleh adanya
cabang terakhir dari bunga jantan sebelum kemunculan bunga betina (silk/ rambut tongkol). Tahap
VT dimulai
2-3 hari sebelum
rambut tongkol muncul, di mana pada periode ini tinggi tanaman hampir mencapai
maksimum dan mulai menyebarkan serbuk sari (pollen). Pada fase
ini dihasilkan biomas maksimum dari bagian vegetatif tanaman,
yaitu sekitar 50% dari total bobot kering tanaman, penyerapan
N, P, dan K oleh tanaman masing-masing 60-70%, 50%, dan 80-90%.
e)
Fase R1 (silking)
Tahap silking
diawali oleh munculnya
rambut dari dalam tongkol yang terbungkus kelobot, biasanya mulai 2-3 hari setelah tasseling. Penyerbukan
(polinasi) terjadi ketika serbuk sari yang dilepas oleh bunga jantan jatuh
menyentuh permukaan
rambut tongkol yang
masih segar. Serbuk
sari tersebut membutuhkan waktu sekitar 24 jam
untuk mencapai
sel telur (ovule), di mana pembuahan ( fertilization) akan berlangsung membentuk bakal biji. Rambut tongkol muncul dan siap
diserbuki
selama 2-3 hari.
Rambut tongkol tumbuh memanjang 2,5-3,8
cm/hari
dan akan terus
memanjang hingga diserbuki. Bakal biji hasil pembuahan
tumbuh dalam suatu struktur tongkol dengan dilindungi oleh tiga
bagian penting biji, yaitu glume, lemma, dan palea, serta memiliki warna putih pada bagian luar biji. Bagian dalam biji berwarna bening dan mengandung sangat sedikit cairan. Pada tahap ini, apabila
biji dibelah
dengan menggunakan silet, belum terlihat struktur embrio di dalamnya. Serapan N dan P sangat cepat, dan K hampir komplit (Lee 2007).
f)
Fase R2 (blister)
Fase R2 muncul sekitar
10-14 hari seletelah silking, rambut tongkol sudah kering dan
berwarna gelap. Ukuran tongkol,
kelobot, dan
janggel hampir sempurna, biji sudah
mulai nampak dan
berwarna putih melepuh,
pati mulai diakumulasi ke endosperm, kadar air
biji sekitar 85%, dan akan
menurun terus sampai panen.
g)
Fase
R3 (masak susu)
Fase ini terbentuk
18 -22 hari
setelah silking. Pengisian biji semula dalam bentuk cairan bening, berubah seperti susu. Akumulasi pati pada setiap biji sangat cepat, warna biji sudah mulai terlihat
(bergantung pada warna biji setiap varietas),
dan bagian sel pada endosperm sudah terbentuk lengkap. Kekeringan pada fase R1-R3 menurunkan ukuran dan
jumlah biji yang terbentuk. Kadar air biji dapat mencapai
80%.
h)
Fase R4 (dough)
Fase R4 mulai terjadi 24-28 hari setelah silking. Bagian dalam biji seperti pasta (belum mengeras). Separuh dari akumulasi bahan kering biji sudah terbentuk, dan
kadar air
biji menurun menjadi sekitar
70%. Cekaman kekeringan pada fase
ini berpengaruh terhadap
bobot biji.

Gambar 6.
Fase pertumbuhan tanaman
jagung.
i)
Fase R5 (pengerasan
biji)
Fase R5 akan terbentuk 35-42 hari setelah silking. Seluruh biji sudah terbentuk sempurna, embrio sudah
masak, dan
akumulasi bahan
kering biji akan segera terhenti. Kadar air biji 55%.
j)
Fase
R6 (masak fisiologis)
Tanaman jagung
memasuki tahap masak fisiologis 55-65 hari setelah silking. Pada tahap ini, biji-biji
pada tongkol telah mencapai bobot kering maksimum. Lapisan pati yang keras pada biji telah berkembang dengan sempurna
dan telah terbentuk
pula
lapisan absisi berwarna coklat atau
kehitaman. Pembentukan lapisan hitam (black layer) berlangsung secara
bertahap, dimulai dari biji pada bagian pangkal tongkol menuju ke
bagian
ujung tongkol. Pada
varietas hibrida, tanaman yang mempunyai sifat tetap hijau (stay-green) yang tinggi, kelobot dan daun
bagian atas masih berwarna
hijau meskipun telah memasuki tahap masak fisiologis. Pada tahap ini kadar air biji berkisar
30-35%
dengan total bobot kering dan penyerapan
NPK oleh tanaman mencapai masing-masing 100%.
D. Syarat Tumbuh
·
Iklim
Tanaman jagung manis berasal dari daerah tropis, tetapi karena banyak tipe dan variasi sifat-sifat yang dimilikinya, jagung manis dapat tumbuh baik
pada
berbagai iklim.
Iklim yang
dikehendaki oleh sebagian besar
tanaman
jagung manis adalah daerah-daerah beriklim sedang hingga daerah beriklim sub tropis atau tropis basah.
Jagung manis dapat tumbuh di daerah yang terletak antara 0o- 50o lintang utara hingga 0o-40o lintang selatan.Jagung
manis sebagai tanaman daerah tropis
dapat tumbuh
subur dan memberikan hasil yang tinggi apabila tanaman dan pemeliharaannya dilakukan dengan baik .Agar tumbuh
dengan baik, tanaman jagung memerlukan
temperatur rata-rata antara 14-30 0C, pada daerah yang ketinggian sekitar 2200 m di atas permukaan laut (dpl), dengan curah hujan sekitar 600 mm 1200 mm per tahun yang terdistribusi rata selama musim tanam.
Perkembangan
tanaman dan
pembungaan dipengaruhi
oleh panjang hari
dan suhu, pada
hari pendek
tanaman
lebih cepat
berbunga. Banyak kultivar tropika tidak akan berbunga di wilayah iklim sedang sampai panjang hari berkurang hingga kurang dari
13 atau 12 jam. Pada hari
panjang, tipe tropika ini
tetap vegetatif dan kadang-kadang dapat mencapai tinggi
5-6 m sebelum tumbuh bunga jantan. Namun pada hari yang sangat pendek (8 jam) dan suhu kurang dari 200C juga menunda pembungaan. Ketika ditanam pada kondisi hari pendek pada daerah iklim
sedang kultivar tropika cenderung berbunga lebih awal.
·
Tanah
Jagung manis tumbuh baik pada tanah dengan pH antara 6,5 sampai 7,0, tetapi masih cukup toleran pada tanah dengan tingkat kemasaman yang relatif tinggi, dan dapat beradaptasi pada keracunan.
Tanah yang sesuai adalah tanah dengan tekstur remah, karena tanah tersebut bersifat porous sehingga memudahkan perakaran pada tanaman jagung. Jagung
dapat tumbuh
pada berbagai
macam jenis tanah. Tanah
lempung berdebu adalah yang paling baik
bagi pertumbuhannya.
Tipe tanah liat masih dapat ditanami jagung, tetapi dengan pengerjaan tanah lebih sering selama pertumbuhannya, sehingga
aerase
dalam tanah berlangsung
dengan baik.
Air tanah yang berlebihan dibuang melalui saluran pengairan yang dibuat diantara barisan jagung .
Jagung umumnya ditanam di dataran rendah, di lahan sawah
tadah hujan maupun sawah
irigasi, tetapi
terdapat
juga
di daerah dataran tinggi
pada ketinggian 1000 m - 1800 m di atas permukaan laut. Tanah dengan kemiringan sampai 8% masih dapat ditanami jagung dengan arah barisan tegak lurus terhadap miringnya tanah, dengan maksud untuk mencegah erosi yang terjadi pada waktu turun hujan besar. Tanah lempung berdebu adalah yang paling baik bagi pertumbuhannya
·
Limbah Kopi
Limbah kopi
merupakan salah satu contoh pupuk organik. Pupuk organik
merupakan pupuk dengan bahan dasar yang diambil dari alam dengan jumlah
dan
jenis unsur hara yang terkandung secara alami. Dalam
pemberian
pupuk untuk tanaman, ada beberapa hal yang harus diingat, yaitu ada tidaknya pengaruh
terhadap perkembangan sifat tanah
(fisik, kimia maupun biologi) yang merugikan
serta ada tidaknya gangguan keseimbangan unsur hara dalam
tanah yang akan
berpengaruh terhadap
penyerapan unsur hara tertentu oleh
tanaman.
Pupuk organik secara fisik ada
dua macam yaitu pupuk organik padat dan
pupuk organik cair. Pupuk organik padat lebih umum digunakan karena berkaitan
dengan ketersediaan dan
cara penggunaannya. Pupuk organik padat termasuk
pupuk yang kandungan unsur haranya dilepaskan
secara perlahan - lahan. Penggunaan
pupuk organik dapat memberikan beberapa manfaat yaitu
menyediakan unsur hara makro dan mikro bagi tanaman, menggemburkan
tanah, memperbaiki tekstur dan struktur tanah, meningkatkan porositas, aerase dan
komposisi mikroorganisme tanah, memudahkan
pertumbuhan akar tanaman, daya
serap air yang lebih lama pada tanah. Pelepasan unsur hara pupuk organik berbeda
dengan pupuk
kimia, pelepasan
unsur hara organik akan semakin baik apabila dibantu dengan aktivitas mikroorganisme.
Dekomposisi limbah kopi
adalah modifikasi yang terjadi secara biologis
pada struktur kimia atau biologi bahan organik dengan kehadiran oksigen. Dalam
proses ini benyak koloni bakteri yang berperan, yang ditandai dengan adanya
perubahan temperatur. Hasil
dari
dekomposisi bahan organik
secara aerob adalah CO2, H2O,
humus dan energi. Hasil dari proses dekomposisi secara aerobik berupa bahan kering dengan kelembapan 30%-40% .
Pulpa buah kopi menghasilkan bahan organik dengan kualitas terbaik. Untuk mencapai nisbah C/N<15 untuk pulpa kopi sebagai bahan mentah hanya 4 minggu dibandingkan kulit tanduk kopi yang memerlukan lebih
dari 8 minggu. Limbah kulit buah
kopi
memiliki kadar bahan organik dan
unsur hara yang
memungkinkan untuk memperbaiki
tanah. Hasil analisis Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian
Sumatera Utara menunjukkan bahwa kadar C-organik kulit buah kopi adalah 22,54%, kadar nitrogen 1,88%, P205 0,63% dan K20 0,88%.
Selain itu kulit buah kopi
juga
mengandung unsur Ca, Mg, Mn, Fe, Cu, dan
Zn.
(http://ditjenbun.deptan.go.id, 2008).
·
Tepung Darah Sapi
Limbah darah hewan
dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) seringkali
pemanfaatannya
tidak maksimal atau
terbuang
percuma begitu
saja,
padahal 3,5 – 7% dari berat tubuh hewan adalah darah. Limbah RPH tersebut sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Bukan
untuk dikonsumsi, tetapi diolah menjadi tepung darah dan digunakan sebagai pakan ternak ataupun pupuk tanaman.
tepung darah sapi memiliki
kandungan protein tinggi dan kandungan nitrogen alami. Tepung darah mempunyai jumlah asam
amino yang tinggi
dengan jenis yang berbeda-beda. Tepung darah menduduki
peringkat pertama dalam kelengkapan asam
amino atau dengan kata lain tepung
darah adalah sumber protein terbaik dalam pakan ternak dan dapat diaplikasikan
pada tanaman sebagai pupuk Nitrogen. Unsur nitrogen memiliki peranan
penting dalam pertumbuhan
tanaman
terutama pada fase vegetatif dan
pembentukan klorofil, lemak, enzim dan persenyawaan lainnya. Tepung darah sapi murni merupakan
pupuk organik nitrogen yang sangat baik untuk pertumbuhan tanaman
seperti
mawar, bunga Caladium, jenis pohon-pohonan, dan lain –
lain.
Tepung darah memiliki
kandungan unsur nitrogen (N) dan sedikit fosfor (P). Menurut hasil analisis Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara
tepung darah sapi memiliki
kandungan nitrogen 12,18%, P205 5,28%, K20 0,15% dan C-organik 19,01% (terlampir). Jika dicampurkan dengan
kompos bisa
meningkatkan unsur hara N dalam kompos.
E.
Budidaya tanaman Jagung
A. Syarat
benih
Benih
sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih
hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari
90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha.
B.
Pengolahan Lahan
Lahan
dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak
dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah
dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian
diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar
saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang
drainasenya jelek.Di
daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara
menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam.
C. Pemupukan
Untuk
melengkapi tersedianya makanan di dalam tanah dan untuk mencukupi kebutuhan
makan dari tanaman yang diusahakan, inaka terwujudlah pupuk buatan. Pupuk
buatan ini biasanya memiliki kandungan hara yang diperlukan dalam jumlah besar,
seperti urea dengan kadar N = 45%, TSP dengan kadar P2O5, = 46%. KCI dengan
kadar K2O = 50%.
Pupuk buatan ini terdiri beberapa macam bentuk yaitu kristal seperti urea, TSP, KCI, bentuk cair seperti pupuk cair Gemari. Ketiga macam unsur yang terkandung di dalam pupuk buatan dan sering digunakan yaitu N, P dan K yang juga dibutuhkan oleh tanaman jagung.
Pupuk buatan ini terdiri beberapa macam bentuk yaitu kristal seperti urea, TSP, KCI, bentuk cair seperti pupuk cair Gemari. Ketiga macam unsur yang terkandung di dalam pupuk buatan dan sering digunakan yaitu N, P dan K yang juga dibutuhkan oleh tanaman jagung.
Pemupukan
dengan pupuk organis sebagai pupuk dasar dilakukan bersama dengan pengolahan
tanah. Pupuk tersebut dapat berupa pupuk daun, pupuk kandang atau
kompos. Pupuk buatan yang mengandung unsur N, P dan K diberikan
bersama-sama dengan saat penanaman benih. Sebagian dari pupuk yang mengandung unsur
Nitrogen diberikan pada saat tanaman berumur I bulan bersama dengan penyiangan
dan pernbumbunan,dan pada umur 45 hari setelah tanam.
Pada dasarnya
pupuk yang dibutuhkan oleh suatu tanaman tcrgantung kesuburan tanah yang
dikelola. Suatu lahan yang memiliki tingkat kesuburan tanah dan jenis tanah
yang berbeda. akan berbeda pula penentuan dosis pupuknya. Secara umum dapat
diterapkan dosis pemberian pupuk sebagai berikut:
Pupuk N = 90 – 120 kg,
contoh urea (45% N) 200 – 300 kg Pupuk P2O5 = 30 – 45 kg.
contoh TSP (46% P2O5) 75 – 100 kg Pupuk K2O = ± 25 kg,
contoh KCI (50% K,O) ± 50 kg
Pupuk N = 90 – 120 kg,
contoh urea (45% N) 200 – 300 kg Pupuk P2O5 = 30 – 45 kg.
contoh TSP (46% P2O5) 75 – 100 kg Pupuk K2O = ± 25 kg,
contoh KCI (50% K,O) ± 50 kg
D. Teknik Penanaman
1. Penentuan Pola Tanaman
Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :
a. Tumpang sari ( intercropping ),
melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.
b. Tumpang gilir ( Multiple Cropping ),
dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.
c. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ):
pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.
d. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) :
penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.
1. Penentuan Pola Tanaman
Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :
a. Tumpang sari ( intercropping ),
melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.
b. Tumpang gilir ( Multiple Cropping ),
dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.
c. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ):
pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.
d. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) :
penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.
2. Lubang Tanam dan
Cara Tanam
Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40×100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25×75 cm (1 tanaman/lubang). Panen <>E. Pengelolaan Tanaman
1. Penjarangan dan Penyulaman
Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.
Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40×100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25×75 cm (1 tanaman/lubang). Panen <>E. Pengelolaan Tanaman
1. Penjarangan dan Penyulaman
Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.
2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.
Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.
3. Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.
4. Pengairan dan
Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.
G. Panen dan Pasca Panen
1. Ciri dan Umur Panen
Umur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.
1. Ciri dan Umur Panen
Umur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.
2. Cara Panen
Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung.
Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung.
3. Pengupasan
Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.
Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.
4. Pengeringan
Pengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering.
5. Pemipilan
Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.
Pengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering.
5. Pemipilan
Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.
6. Penyortiran dan
Penggolongan
Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.
Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.
DAFTAR
PUSTAKA
Fergason, V. 1994. High amylose and waxy corn. In: A.
R. Halleuer (Ed.) Specialty Corns. CRC Press Inc. USA.
Hardman and Gunsolus.
1998. Corn growth
and development. Extension
Service. University of Minesota.
p.5.
Lambert, R.J. 1994. High oil corn hybrids. In: Arnel R. Halleuer (Ed.). Specialty corns. CRC Press Inc. USA.
Lee, C. 2007. Corn growth and development. www.uky.edu/ag/grain crops. McWilliams, D.A.,
D.R.
Berglund, and G.J. Endres. 1999. Corn growth and
Paliwal. R.L. 2000. Tropical maize
morphology. In: tropical maize:
improvement and production. Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Rome. p 13-20.
Smith, M.E., C.A. Miles, and J. van Beem. 1995. Genetic improvement
of maize for nitrogen
use efficiency. In Maize
research for stress environment. p. 39-43.
Syafruddin. 2002. Tolok ukur dan konsentrasi Al untuk penapisan
tanaman jagung terhadap ketenggangan Al. Berita Puslitbangtan 24: 3-4.
Tracy, W. F. 1994. Sweet corn. In: A. R. Halleuer (Ed.) Specialty corns. CRC Press Inc. USA.
Vasal, S.K. 1994. High quality protein
corn. In: A. R. Halleuer (Ed.).
Specialty corns. CRC Press Inc. USA.
White, P.J. 1994. Properties of corn strach. In: A. R. Halleuer (Ed.). Specialty corns. CRC Press Inc. USA.